Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kaum Bumi Datar Pertanyakan Kebenaran Pohon

Kaum Bumi Datar Pertanyakan Kebenaran Pohon


Aisyah Kamaliah - detikInet

Pohon yang dijepret malam hari. Nuansa tenang dan adem.
Ilustrasi pohon. Foto: Pixabay/Pexels
Jakarta -

Segelintir penganut teori konspirasi Bumi datar (flat earth) mengaku meragukan eksistensi dari pohon. Katanya, Bumi sudah tidak punya lagi pohon yang asli. Maksudnya, gimana?

Melansir Quartz, bagi mereka yang percaya, pohon-pohon di Bumi saat ini adalah versi mini dari pohon raksasa dengan tinggi 20 mil (sekitar 32 km) yang sempat ada. Secara singkat, pohon yang sekarang ini kita lihat adalah semak-semak belaka.

Konon, bencana dahsyat telah menghancurkan biosfer Bumi, termasuk pohon-pohon di dalamnya. Sisa dari 'pohon asli' di dunia antara lain Devils Tower di Wyoming, Amerika Serikat dan di Uluru, Australia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Paham ini pertama kali tercetus pada video yang diunggah di YouTube tahun 2016 berjudul 'There are no forests on Flat Earth Wake Up'. Video aslinya sudah hilang, termasuk akun yang mengunggahnya. Namun, masih ada video sejenis yang berseliweran di internet.

William Thomson, seorang arborist, atau spesialis penanam dan perawat pohon, angkat suara terkait klaim tersebut. Menurutnya, ini sama saja dengan tidak mempercayai kucing yang ada saat ini dan mengatakan kucing asli berukuran besar seperti Patung Sphinx di Mesir.

Devils TowerDevils Tower Foto: (dok. boredpanda)

Dia menegaskan bahwa pohon di dunia saat ini adalah pohon yang asli. Adapun 'bukti' yang disebutkan sebelumnya yakni Devils Tower dan Uluru, ialah batu raksasa, bukan sisa-sisa pepohonan.

"Video tersebut menunjukkan gambar pohon dengan ciri-ciri geologis secara berdampingan, meminta pemirsa untuk melihat perbedaannya yang kemudian dijelaskan bahwa Anda tidak bisa melakukannya, karena satu-satunya perbedaan adalah material dan ukuran. Material dan ukuran itu adalah perbedaan yang cukup besar," ujarnya.

UluruUluru. Foto: (iStock)

Alih-alih mempercayai teori konspirasi yang belum benar adanya, Thomson mengatakan ada hal yang lebih penting. Saat ini, banyak aktivitas manusia yang menyebabkan hilangnya hutan. Sejak 1800 hingga 2010, lebih dari 2 miliar hektar hutan telah musnah. Hal ini mengakibatkan semakin banyaknya karbon yang dilepaskan ke atmosfer, sekaligus hilangnya habitat bagi sejumlah hewan.




(ask/afr)




Hide Ads
LIVE