Kadar metana di atmosfer Bumi melonjak tajam sejak 2020 dan kini mencapai rekor tertinggi dalam sejarah pengukuran modern. Lonjakan gas rumah kaca ini bukan sekadar angka statistik. Metana memiliki daya pemanasan puluhan kali lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek.
Artinya, peningkatan ini bisa mempercepat pemanasan global, memperburuk cuaca ekstrem, dan mendorong perubahan iklim terjadi lebih cepat dari perkiraan ilmuwan. Studi terbaru menunjukkan, lonjakan tersebut dipicu kombinasi melemahnya kemampuan atmosfer menghancurkan metana serta meningkatnya emisi dari lahan basah dan pertanian di wilayah tropis.
Jika tren ini berlanjut, efeknya dapat memperkuat umpan balik iklim yang membuat Bumi semakin hangat dan tidak stabil. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science setelah dianalisis data atmosfer global hingga 2023.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antara 2019 dan 2023, kadar metana di udara naik sekitar 55 bagian per miliar (ppb), mencapai rekor 1.921 ppb pada 2023. Pertumbuhan tercepat terjadi pada 2021, ketika metana meningkat hampir 18 ppb, 84% lebih tinggi dibanding lonjakan 2019.
Penyebab Lonjakan Metana
Para peneliti menemukan bahwa perubahan signifikan ini terutama terjadi karena perlambatan proses kimia atmosfer yang biasanya menghancurkan metana. Salah satu faktor utamanya adalah penurunan jumlah radikal hidroksil (OH), zat kimia yang bertindak sebagai 'pembersih' alami atmosfer dengan menghancurkan molekul metana.
Penurunan OH terjadi ketika polutan lain seperti oksida nitrogen turun tajam saat pembatasan aktivitas selama pandemi COVID-19. Prof. Hanqin Tian, Direktur Center for Earth System Science and Global Sustainability di Boston College, mengatakan bahwa kombinasi perubahan atmosfer dan kondisi iklim memainkan peran utama.
"Ketika planet ini menjadi lebih hangat dan lebih basah, emisi metana dari lahan basah, perairan pedalaman, dan sawah akan semakin membentuk perubahan iklim jangka dekat," ujar Prof. Tian, dikutip dari Science Daily.
Studi tersebut juga menemukan bahwa kondisi La NiΓ±a yang berlanjut dari 2020 sampai 2023 membawa curah hujan yang lebih tinggi di banyak wilayah tropis, memperluas wilayah banjir yang ideal bagi mikroba penghasil metana. Akibatnya, emisi meningkat dari sumber alami seperti lahan basah, sungai, dan danau, serta sistem pertanian padi di Afrika tropis dan Asia Tenggara.
Walaupun emisi dari pembakaran bahan bakar fosil dan kebakaran hutan tetap terjadi, jejak kimia dalam udara menunjukkan bahwa kontribusi mikroba alamiah dan lingkungan basah memiliki peran dominan dalam lonjakan metana tersebut.
Penelitian juga mengungkap bahwa model emisi global sebelumnya menduga adanya dinamika emisi dari ekosistem yang tergenang air, sehingga lonjakan yang teramati tidak sepenuhnya diprediksi oleh model lama.
Hasil temuan ini menunjukkan bahwa strategi mitigasi perubahan iklim yang efektif harus mempertimbangkan sumber emisi metana yang dipicu oleh perubahan iklim itu sendiri, bukan hanya fokus pada pengurangan sumber emisi antropogenik. Artinya, iklim yang lebih basah dan panas dapat memperkuat umpan balik yang mempercepat peningkatan gas rumah kaca jika tidak diatasi secara global.
(rns/rns)