Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Hujan Kimiawi' Tak Terlihat Jatuh di Seluruh Bumi, Ini Dampaknya

'Hujan Kimiawi' Tak Terlihat Jatuh di Seluruh Bumi, Ini Dampaknya


Rachmatunnisa - detikInet

Woman hand with umbrella in the rain in green nature background
Foto: Getty Images/iStockphoto/Sasiistock
Jakarta -

Para ilmuwan memperingatkan bahwa hujan kimiawi tak terlihat tengah menyirami permukaan Bumi melalui atmosfer, membawa polutan yang sangat persisten dan sulit diurai yang dapat menumpuk di air, tanah, es, bahkan di wilayah terpencil seperti Kutub Utara.

Temuan ini berasal dari studi baru yang menunjukkan bahwa asam trifluoroasetat (TFA), bahan kimia yang dulu digunakan sebagai pengganti zat perusak ozon, kini menjadi sumber polusi atmosfer yang terus meningkat. Studi yang dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters memperkirakan bahwa antara tahun 2000 hingga 2022, sekitar 335.500 ton TFA telah jatuh dari atmosfer ke permukaan Bumi melalui hujan atau pengendapan langsung.

TFA adalah salah satu dari kelompok per- dan polifluoroalkil (PFAS), yang dikenal sebagai forever chemicals karena sangat sulit terurai di lingkungan dan bisa bertahan sangat lama setelah dikeluarkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pengganti CFC kemungkinan besar menjadi sumber utama TFA di atmosfer. Ini benar-benar menyoroti risiko luas yang perlu dipertimbangkan oleh regulasi ketika menggantikan bahan kimia berbahaya seperti CFC yang merusak ozon," kata Lucy Hart, peneliti PhD dari Lancaster University dan penulis utama studi ini, dikutip dari Science Daily.

Zat yang dimaksud, termasuk hidroklorofluorokarbon (HCFC) dan hidrofluorokarbon (HFC) yang dipakai sebagai refrigeran pendingin dan beberapa gas anestesi, yang ketika terurai di atmosfer akan menghasilkan TFA. Karena zat-zat ini memiliki masa hidup yang panjang di udara, TFA terus terbentuk dan terendapkan lama setelah emisi aslinya.

ADVERTISEMENT

Para peneliti bahkan menemukan bukti bahwa hampir semua TFA yang terdeteksi di es Kutub Utara berasal dari pengganti CFC ini, meskipun wilayah itu jauh dari titik emisi utama. Ini menunjukkan bahwa pencemaran kimiawi ini menyebar ke seluruh dunia melalui sirkulasi atmosfer.

Walaupun beberapa badan regulasi menyatakan bahwa kadar TFA di lingkungan saat ini masih di bawah ambang yang diprediksi membahayakan manusia, kekhawatiran meningkat karena penumpukan TFA yang terus menerus dapat menimbulkan dampak ekologis atau kesehatan yang belum sepenuhnya dipahami.

TFA telah terdeteksi dalam darah dan urine manusia, dan ada usulan untuk mengklasifikasikannya sebagai zat yang berpotensi merusak reproduksi manusia oleh beberapa lembaga kimia di Jerman.

Tantangan baru ini menunjukkan bahwa kendati kemajuan teknologi dan kebijakan global seperti Protokol Montreal berhasil mengurangi CFC yang merusak ozon, efek samping jangka panjang dari bahan pengganti perlu disikapi dengan sains lebih mendalam untuk melindungi lingkungan dan kesehatan manusia di masa depan.




(rns/rns)




Hide Ads