Salah satu negara bagian Amerika Serikat (AS), Florida, yang dikenal dengan iklim subtropis hangatnya, sedang mengalami fenomena alam yang sangat tidak biasa. Iguana membeku seketika lalu berjatuhan dari pohon sebagai dampak cuaca ekstrem dingin.
Peristiwa ini terjadi akibat gelombang udara arktik yang mendorong suhu di wilayah selatan Florida turun jauh di bawah normal untuk daerah tropis. Fenomena ini menjadi perhatian luas karena iguana selama ini lebih sering terlihat bertengger di cabang pohon atau bergerak di tanah pada cuaca hangat.
Sejak awal Februari 2026, suhu di beberapa bagian Florida membeku hingga sekitar 1,7 derajat Celcius, bahkan ada area yang mencapai sekitar -4,4 derajat Celcius, kondisi yang sangat tidak biasa untuk wilayah ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhu rendah seperti itu membuat reptil berdarah dingin seperti iguana tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri, sehingga mereka mengalami cold-stun atau kelumpuhan sementara yang menyebabkan mereka kehilangan kontrol otot dan terjatuh dari pohon.
"Selama gelombang dingin, proses metabolisme iguana melambat dan mencapai kondisi mirip drowsa, ketika denyut jantung dan laju pernapasan menurun dan keseluruhan sistem tubuh menjadi lamban. Ini menyebabkan iguana kehilangan pegangan dan akhirnya terjatuh dari pohon," jelas ahli biologi satwa liar Natalie Claunch, dikutip dari USA Today.
Fenomena ini tidak hanya mengejutkan penduduk setempat, tetapi juga memicu respon dari Florida Fish and Wildlife Conservation Commission (FWC), badan konservasi setempat. Karena iguana hijau adalah spesies invasif yang bukan asli Florida, FWC mengeluarkan perintah yang memperbolehkan warga mengumpulkan iguana yang terjatuh tanpa memerlukan izin khusus untuk dibawa ke lokasi pengumpulan yang ditunjuk.
Di sana, reptil yang masih hidup dapat ditangani atau dalam beberapa kasus diserahkan kepada pihak berizin yang menangani satwa hidup. Selama cuaca dingin itu, kantor FWC di beberapa lokasi menerima ratusan iguana yang diantarkan warga. Menurut laporan lokal, ada sekitar 600 iguana dikumpulkan per hari, dan jumlah ini terus bertambah selama gelombang dingin berlangsung.
Meskipun banyak iguana terlihat kaku dan tergeletak di tanah, belum tentu semuanya mati. Saat suhu naik kembali, sejumlah iguana yang lumpuh dapat bangkit, menghangatkan tubuh, dan kembali merangkak ke lingkungan yang lebih hangat. Namun tidak semua iguana bertahan, terutama yang mengalami kejutan suhu terlalu rendah atau lama.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perubahan cuaca ekstrem dapat menimbulkan dampak tak terduga pada satwa liar, terutama spesies yang tidak berevolusi untuk menghadapi suhu rendah seperti iguana.
(rns/rns)