Daftar Isi
CEO Anthropic, Dario Amodei, mengeluarkan peringatan baru mengenai bagaimana AI akan mendisrupsi pasar kerja. Ia mengatakan bahwa hal itu akan menyebabkan gangguan yang luar biasa menyakitkan.
Pentolan AI tersebut, yang mendirikan Anthropic di 2021 bersama saudaranya Daniela Amodei dan merupakan sosok di balik penciptaan chatbot AI Claude, tahun lalu memperingatkan AI akan menghancurkan setengah dari seluruh pekerjaan kerah putih.
Baru-baru ini, Amodei menerbitkan sebuah esai. Ia berargumen bahwa risiko yang ditimbulkan oleh AI tidak ditanggapi dengan serius dan memperingatkan teknologi ini akan memicu guncangan pada pasar kerja yang lebih besar dari sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amodei memaparkan potensi bahaya AI, termasuk teknologi yang menjadi otonom dan tidak dapat diprediksi, aktor jahat yang menggunakannya untuk membuat senjata biologis, serta beberapa negara yang menciptakan "kediktatoran totaliter global" dengan mengeksploitasi AI.
"Kemanusiaan akan segera diserahkan kekuasaan yang hampir tak terbayangkan dan sangat tidak jelas apakah sistem sosial, politik, dan teknologi kita memiliki kedewasaan untuk memegangnya," tulis Amodei.
Dalam esai tersebut, ia menguraikan argumennya bahwa manusia akan merasa sulit untuk pulih dari dampak AI terhadap pasar tenaga kerja dalam jangka pendek.
"Teknologi baru sering membawa guncangan pada pasar tenaga kerja dan di masa lalu, manusia selalu bisa pulih darinya. Namun, saya khawatir hal itu terjadi karena guncangan sebelumnya hanya memengaruhi sebagian kecil dari seluruh kemampuan manusia, sehingga menyisakan ruang bagi manusia untuk merambah tugas-tugas baru," kata Amodei.
"AI akan memiliki dampak yang jauh lebih luas dan terjadi jauh lebih cepat, oleh karena itu saya khawatir akan jauh lebih menantang untuk membuat segalanya berjalan dengan baik," tambahnya yang dikutip detikINET dari CNBC.
Guncangan Jangka Pendek
Amodei memprediksi bahwa manusia tidak akan mampu beradaptasi dengan laju perkembangan AI yang begitu cepat, dan ini akan memicu guncangan jangka pendek yang luar biasa menyakitkan"di pasar kerja.
"Laju kemajuan dalam AI jauh lebih cepat daripada revolusi teknologi sebelumnya. Sulit bagi orang beradaptasi dengan kecepatan perubahan ini, baik terhadap perubahan dalam cara kerja suatu pekerjaan maupun kebutuhan untuk beralih ke pekerjaan baru," sebutnya.
Hal ini sebagian besar disebabkan karena AI tak hanya memengaruhi satu industri saja, tapi dapat serentak menghapus pekerjaan di bidang keuangan, konsultasi, hukum, dan teknologi. Hal ini menutup kemungkinan bagi pekerja pindah jalur ke industri lain yang cocok dengan keahlian mereka.
"Teknologi ini tidak menggantikan satu jenis pekerjaan saja, tapi bertindak sebagai pengganti tenaga kerja umum bagi manusia," tulis Amodei.
Mengatasi masalah ini, menurut Amodei, akan memerlukan intervensi pemerintah, seperti pajak progresif yang menargetkan perusahaan AI secara khusus.
Isu penghapusan pekerjaan oleh AI telah mendominasi berita utama setahun terakhir. Teknologi ini dijadikan alasan untuk hampir 55.000 PHK di AS pada tahun 2025, menurut data firma konsultasi Challenger, Gray & Christmas.
Studi Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa AI sudah dapat melakukan pekerjaan dari 11,7% pasar tenaga kerja AS, menghemat hingga USD 1,2 triliun dalam bentuk upah di sektor keuangan, kesehatan, dan layanan profesional lainnya.
Laporan Global Talent Trends 2026 dari firma konsultasi Mercer, yang mensurvei 12.000 orang di seluruh dunia, menemukan 40% karyawan takut kehilangan pekerjaan mereka karena AI, naik dari 28% pada tahun 2024.
Analis Deutsche Bank mengatakan AI redundancy washing (perusahaan menggunakan AI sebagai alasan pemecatan) akan menjadi signifikan di tahun 2026, di mana perusahaan-perusahaan besar menyalahkan teknologi atas pemangkasan pekerjaan yang sebenarnya disebabkan faktor lain.
Di sisi lain, Budget Lab Universitas Yale menilai AI belum menyebabkan kehilangan pekerjaan secara luas, berdasarkan analisis mereka terhadap data pasar tenaga kerja AS dari tahun 2022 hingga 2025. Laporan itu menemukan bahwa porsi pekerja di berbagai jenis pekerjaan tidak berubah secara signifikan sejak debut ChatGPT.
Pihak lain melihat adanya penciptaan lapangan kerja di industri kerah biru. Misalnya, CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan AI sebenarnya akan menciptakan banyak pekerjaan bagi tukang ledeng, teknisi listrik, pekerja konstruksi, dan mereka yang membangun pabrik terkait AI.
(fyk/afr)

