Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Walau Ada Bencana Nuklir, Bumi Masih 'Surga' Ketimbang Mars

Walau Ada Bencana Nuklir, Bumi Masih 'Surga' Ketimbang Mars


Aisyah Kamaliah - detikInet

Mars the red planet black background
Ilustrasi Mars. Foto: Getty Images/iStockphoto/Martin Holverda
Jakarta -

Ucapan dari ahli astrofisika nampaknya mengingatkan Elon Musk bahwa rencana membangun koloni di Mars dirasa kurang pas. Sebab, Bumi jauh lebih bisa dihuni ketimbang Si Planet Merah. Sekalipun Bumi sudah hancur diterpa bencana nuklir.

Hal ini dikatakan oleh astrofisikawan Anders Sandberg dan Katie Mack. Melansir SophiaBistro, mereka bukannya anti-ruang angkasa, justru mereka paham betul dengan apa yang ada di sana sehingga membuat mereka lebih melek soal berbahayanya misi ini.

Pastinya, Mars tidak punya udara untuk kamu bernapas, lalu tidak ada air dalam bentuk cair di permukaan. Bahkan, gravitasi di Mars secara perlahan menghancurkan tulang manusia. Radiasi kosmik akan membuat DNA kamu kacau bagaikan confetti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Bumi bakal jadi 'surga' bahkan setelah perang nuklir," kata mereka, membandingkan Bumi dengan Mars.

Beberapa tahun lalu, Sandberg dan rekan-rekannya menjalankan model risiko terperinci tentang ancaman eksistensial, termasuk dampak asteroid, pandemi, AI, sampai musim dingin nuklir. Ketika wartawan bertanya apakah koloni Mars benar-benar akan menyelamatkan umat manusia, jawabannya blak-blakan.

Menurut mereka, sebuah pos kecil di Mars, yang sepenuhnya bergantung pada Bumi untuk suku cadang dan makanan, bukanlah jaring pengaman. Itu adalah proyek sampingan yang sangat rapuh. Bayangkan stasiun penelitian di Antartika. Sekarang hilangkan udara yang dapat dihirup, medan magnet, lapisan ozon pelindung, dan penerbangan penyelamatan cepat. Itulah 'peradaban cadangan' manusia di Mars.

Di Mars, kalau kamu keluar tanpa perlindungan, kamu akan mati dalam hitungan detik. Tekanan udara kurang dari 1% dari Bumi. CO2 sebagai pengganti oksigen. Suhu yang dapat turun di bawah -100Β°C di malam hari. Tidak ada medan magnet global untuk membelokkan sinar kosmik.

Ibaratnya jika Bumi setelah musim dingin nuklir seperti tinggal di rumah yang terendam banjir dan hancur, Mars seperti pindah ke lahan kosong di pinggir jalan raya tanpa saluran air, tanpa dinding, dan badai yang akan datang.

Ahli astrofisika dan kosmologi Katie Mack meringkasnya dengan baik. Katanya, bahkan dalam skenario apokaliptik, Bumi masih memberi manusia keuntungan yang luar biasa. Kita telah memiliki lautan, tanah yang kaya akan mikroba, hewan, dan siklus cuaca.

Kehidupan di Bumi telah berlangsung miliaran tahun. Di Mars, semuanya memulai dari nol. Dapat dikatakan sangat brutal bahwa Mars bukanlah Plan B.




(ask/ask)





Hide Ads