Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
CES 2026
Startup Singapura Produksi Baterai Kertas Berbahan Tanaman
CES 2026

Startup Singapura Produksi Baterai Kertas Berbahan Tanaman


Anggoro Suryo - detikInet

Startup Flint
Foto: Dok. Flint
Jakarta -

Startup asal Singapura, Flint, mulai memasuki tahap produksi baterai berbahan dasar kertas yang sepenuhnya terbuat dari selulosa tanaman.

Teknologi baterai ramah lingkungan ini kini bersiap dipasok ke sejumlah mitra elektronik besar, termasuk Logitech, Amazon, serta produsen aksesori Apple, Nimble, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (12/1/2026).

Di ajang CES 2026, Flint tak lagi sekadar memamerkan prototipe. mereka menunjukkan baterai AA dan AAA versi produksi yang digunakan untuk menjalankan mainan kereta di booth mereka. Baterai tersebut dibuat dari material berbasis tanaman, tanpa logam berat seperti lithium, nikel, atau kobalt yang umum dipakai pada baterai konvensional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Flint mengklaim baterai kertas ini menawarkan performa setara baterai alkaline konvensional, baik dari sisi tegangan maupun usia pakai. Produk tersebut ditargetkan mulai tersedia untuk konsumen pada paruh kedua 2026.

ADVERTISEMENT

Alih-alih mengubah bentuk baterai, inovasi utama Flint terletak pada materialnya. Seluruh komponen inti baterai, mulai dari anoda, katoda, elektrolit, hingga separator, dibuat dari selulosa yang diekstraksi dari tanaman. Reaksi kimianya menggunakan elektrolit berbasis air yang dikombinasikan dengan mineral aman seperti zinc dan mangan.

Hasilnya adalah baterai yang sepenuhnya non-toksik dan dapat terurai secara hayati. Pendekatan ini menghilangkan risiko polusi serta tantangan limbah berbahaya yang selama ini melekat pada teknologi baterai modern.

Produksi baterai Flint saat ini berlangsung di Singapura dengan memanfaatkan tanaman lokal sebagai sumber selulosa. Pendiri Flint, Carlo Charles, menyebut proses ini dapat diadaptasi secara regional dengan memanfaatkan tanaman yang tersedia di tiap wilayah, termasuk spesies invasif yang selama ini dianggap sebagai masalah lingkungan.

Pendekatan tersebut berpotensi mengubah limbah ekologis menjadi sumber daya terbarukan, dengan dampak yang melampaui industri elektronik konsumen.

Selain baterai silinder, Flint juga mengembangkan baterai kertas tipis dan fleksibel yang kini mulai digunakan pada aksesori ramping buatan Nimble. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi Flint dapat diskalakan ke berbagai kategori produk.

Meski berbasis air, baterai kertas Flint tetap mampu memberikan performa stabil dalam penggunaan normal, sekaligus lebih aman ditangani dan dibuang dibanding baterai lithium atau alkaline tradisional. Di tengah tekanan global terhadap perusahaan teknologi untuk menurunkan jejak karbon dan membersihkan rantai pasok, solusi Flint dinilai menawarkan alternatif yang realistis.




(asj/fay)







Hide Ads