Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
China Siapkan 200 Ribu Satelit, Tantang Dominasi Starlink di Orbit

China Siapkan 200 Ribu Satelit, Tantang Dominasi Starlink di Orbit


Agus Tri Haryanto - detikInet

China meluncurkan roket Long Marc 2C yang membawa tiga satelit uji komunikasi ke Low Earth Orbit (LEO).
Ilustrasi satelit China. Foto: CNSA/Ourspace
Jakarta -

Di tengah 'perseteruan' dengan satelit internet milik SpaceX, Starlink, China dilaporkan akan menguasai jaringan satelit internet di orbit rendah Bumi.

Tidak tanggung-tanggung, negeri Tirai Bambu ini telah mengajukan rencana untuk meluncurkan lebih dari 200.000 satelit internet ke International Telecommunication Union (ITU), badan PBB yang mengatur alokasi frekuensi dan slot orbit.

Seperti dikutip dari South China Morning, Senin (12/1/2026) berkas-berkas pendaftaran tersebut diajukan pada akhir Desember 2025 oleh sejumlah kelompok industri satelit China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Rencana besar itu dipimpin oleh institusi baru bernama Institute of Radio Spectrum Utilisation and Technological Innovation, yang menyertakan dua proyek besar bernama CTC-1 dan CTC-2, masing-masing dirancang mencakup 96.714 satelit.

Langkah itu muncul bersamaan dengan kritik Beijing terhadap kegiatan Starlink, jaringan satelit internet milik SpaceX yang dipimpin Elon Musk. China menuduh konstelasi satelit asing seperti Starlink "memadati sumber daya orbital bersama", meskipun tidak ada bukti kebocoran atau insiden secara langsung yang diumumkan.

Starlink sendiri masih dalam proses perluasan besar-besaran. Otoritas komunikasi AS, Federal Communications Commission (FCC), baru-baru ini menyetujui rencana peluncuran 7.500 satelit Starlink generasi kedua yang harus sudah berada di orbit pada akhir 2031. Dengan persetujuan tersebut, total satelit Starlink bisa mencapai 15.000 unit, sementara aplikasi untuk sisanya dari izin 30.000 satelit masih menunggu keputusan.

Persaingan ini terjadi di tengah ketatnya alokasi frekuensi radio dan slot orbit rendah Bumi, yang jumlahnya terbatas. Karena sumber daya ini bersifat terbuka untuk semua negara dan perusahaan, siapa pun yang lebih dulu mengajukan dan mendapatkan persetujuan dari ITU dapat memiliki prioritas dalam penggunaan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, China memang memperkuat upayanya untuk mengejar ketertinggalan dari program satelit AS. Peningkatan aktivitas peluncuran, pembangunan fasilitas manufaktur satelit, dan perencanaan megakonstelasi seperti yang diajukan kini menunjukkan ambisi Beijing untuk menjadi pemain utama dalam era internet global berbasis ruang angkasa.

Namun, langkah tersebut juga meningkatkan potensi persaingan dan tantangan dalam pengaturan ruang luar yang aman dan berkelanjutan, mengingat kepadatan satelit yang sangat tinggi dapat memperbesar risiko tabrakan dan gangguan frekuensi bagi operator lain di orbit.




(agt/afr)




Hide Ads