Menuju Nol Emisi Karbon, Mobil Listrik Wara-wiri di KTT G20

Menuju Nol Emisi Karbon, Mobil Listrik Wara-wiri di KTT G20

ADVERTISEMENT

Menuju Nol Emisi Karbon, Mobil Listrik Wara-wiri di KTT G20

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 12 Nov 2022 17:17 WIB
Prajurit TNI mengendarai mobil listrik yang akan digunakan oleh delegasi KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Kamis (10/11/2022). Penggunaan mobil listrik sebagai kendaraan resmi dalam perhelatan KTT G20 merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi karbon. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.
Mobil listrik yang akan digunakan para delegasi KTT G20. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Jakarta -

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali akan jadi panggung bagi kendaraan listrik unjuk gigi. Lewat perhelatan ini salah satunya, Indonesia ingin memperlihatkan keseriusan dalam proses konversi kendaraan berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Indonesia mengerahkan kendaraan listrik selama KTT G20 Bali pada 15-16 November 2022. Kendaraan ini akan digunakan kepala negara dan delegasi-delegasi yang hadir di acara internasional tersebut.

Dikutip dari Antara, total jumlah kendaraan listrik yang digunakan di KTT G20 sebanyak 1.452 unit, terdiri dari 962 mobil listrik, 454 motor listrik, dan sisanya sebanyak 36 bus listrik.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun telah mendirikan 91 stasiun pengisian kendaraan listrik umum di Pulau Dewata, mayoritas di wilayah Nusa Dua, dan 200 unit pengisian daya yang dapat digunakan delegasi untuk mengisi daya EV.

Menurut Menteri Sekretaris Negara Pratikno, selain sejalan dengan misi transisi energi, penggunaan kendaraan listrik di acara puncak Presidensi G20 Indonesia juga bertujuan mengurangi emisi karbon (net zero emission).

Bukti keseriusan pemerintah dalam mengurangi emisi, salah satunya adalah arahan Presiden Joko Widodo yang menetapkan penggunaan kendaraan listrik menjadi kendaraan dinas instansi Pemerintah Pusat dan Daerah melalui Inpres No.7 Tahun 2022.

Prajurit TNI mengendarai mobil listrik yang akan digunakan oleh delegasi KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Kamis (10/11/2022). Penggunaan mobil listrik sebagai kendaraan resmi dalam perhelatan KTT G20 merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi karbon. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.Prajurit TNI mengendarai mobil listrik yang akan digunakan oleh delegasi KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Kamis (10/11/2022). Penggunaan mobil listrik sebagai kendaraan resmi dalam perhelatan KTT G20 merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi karbon. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Transisi ke kendaraan listrik

Berbicara dalam Bloomberg CEO Forum jelang penyelenggaraan KTT G20 beberapa waktu lalu, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa pengadaan kendaraan untuk pemerintah tahun depan harus terdiri atas kendaraan listrik sehingga mendorong minat masyarakat untuk membeli dan menggunakannya.

Untuk makin menggencarkan promosi kendaraan listrik ke masyarakat, pemerintah berencana memberikan subsidi untuk pembelian mobil dan sepeda motor listrik pada 2023.

Hingga saat ini skema pemberian subsidi masih dibahas, termasuk pertimbangan pemerintah untuk menyiapkan subsidi sebesar Rp 7,5 juta untuk setiap pembelian mobil listrik, agar harganya bisa bersaing dengan mobil berbahan bakar minyak.

"Tidak ada yang mau beli mobil listrik kalau harganya lebih mahal dari mobil berbahan bakar minyak," kata Luhut.

Selain subsidi, pemerintah juga sedang membahas rencana pemotongan pajak kendaraan listrik dan insentif impor bagi industri kendaraan listrik yang membangun pabriknya di Indonesia. Berbagai rencana kebijakan tersebut masih akan terus dimatangkan dan ditargetkan rampung akhir tahun ini.

Pemerintah menargetkan setidaknya ada dua juta kendaraan listrik beroperasi di Indonesia di 2025. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan per Juli 2022, jumlah kendaraan listrik yang telah mendapatkan sertifikasi registrasi uji tipe ada 22.671 unit.

Kementerian Perindustrian menyebutkan, dalam pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik, industri otomotif dalam negeri ditargetkan dapat memproduksi mobil listrik dan bus listrik sebanyak 600 ribu unit di tahun 2030.

Dengan jumlah ini, ekosistem kendaraan listrik diperkirakan bisa mengurangi konsumsi BBM sebesar 3 juta barel dan menurunkan emisi CO2 atau karbondioksida sebanyak 1,4 juta ton.



Simak Video "RI Subsidi Rp 80 Juta untuk Mobil Listrik, Bagaimana Negara Lain?"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT