Gunung Berapi Tidur Bisa Ngamuk Kapan Saja, Tapi Kita Bisa Siap-siap

Gunung Berapi Tidur Bisa Ngamuk Kapan Saja, Tapi Kita Bisa Siap-siap

ADVERTISEMENT

Gunung Berapi Tidur Bisa Ngamuk Kapan Saja, Tapi Kita Bisa Siap-siap

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 05 Nov 2022 18:57 WIB
Campers are seen from the opening of a tent as they watch Mount Sinabung erupting in Karo, North Sumatra, Indonesia, Thursday, March 11, 2021. The 2,600-meter (8,530-feet) volcano unleashed an avalanche of searing gas clouds flowing down its slopes during eruption on Thursday. No casualties were reported. (AP Photo/Binsar Bakkara)
Gunung Sinabung ketika erupsi. Foto: AP/Binsar Bakkara
Jakarta -

Meletusnya Gunung Sinabung pada 2010 adalah contoh bahwa gunung berapi yang tertidur selama ratusan tahun, bisa terbangun kapan saja. Tapi kita bisa bersiap-siap agar dapat melakukan mitigasi bencana.

Pakar vulkanologi ITB Mirzam Abdurrachman menyebut, Indonesia memiliki setidaknya 29 gunung api yang sedang tertidur. Fenomena gunung api tidur, dijelaskan Mirzam merupakan perubahan tipe gunung api.

"Ada 3 tipe gunung api di Indonesia, yaitu Tipe A, Tipe B, dan Tipe C," sebutnya kepada detikINET.

  • Tipe A: ada 77 gunung api dengan catatan sejarah letusan sejak tahun 1600
  • Tipe B: ada 29 dengan catatan letusan sebelum tahun 1600
  • Tipe C: ada 21 gunung api dengan tidak ada catatan sejarah letusan sejak 1600 tetapi masih memperlihatkan jejak aktivitas vulkanik seperti sulfatara dan fumarola.

"Fenomena gunung api tidur yang bangkit adalah berubahnya dari tipe gunung api tipe B ke A. Dengan melihat data tersebut setidaknya ada 29 gunung api tidur di Indonesia," ujarnya.

Semua gunung api tidur bisa bangkit kembali. Selain Gunung Sinabung di Indonesia yang meletus tahun 2010 setelah tertidur selama 400 tahun, Mirzam memberi contoh Gunung Edgecumb di Alaska yang meletus di tahun ini setelah tidur selama 800 tahun.

"Gunung berapi yang tertidur bisa aktif lagi sewaktu-waktu selama produksi magma (larutan silikat pijar) terus diproduksi di dalam dapur magma. Maka selama itu juga gunung api berpotensi meletus, meskipun 'sesaat' puluhan hingga ratusan tahun tertidur sejenak," jelasnya.

Jeda waktu

Tidur atau ada jeda waktu, kata Mirzam, dipastikan akan mengubah komposisi magma. Karenanya, perubahan komposisi magma sangat diperhatikan dalam suatu siklus letusan gunung api.

"Contoh Gunung Fuji di Jepang sebelum letusan 1707 yang didahului oleh gempa besar di Jepang, Fuji tertidur cukup lama setidaknya sejak tahun 864," Mirzam memberikan contoh.

Gempa besar menyebabkan magma baru berkomposisi basaltik bergerak naik dan bergabung dengan magma sisa letusan tahun 864 yang berkomposisi dasitik dan andesitik.

"Berapa lama jedanya setelah proses ini bercampur hingga meletus? 49 hari jeda antara bangkit dan erupsi pertama," kata Mirzam.

Kasus lain adalah letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Sebelum itu, Gunung Krakatau tidur cukup lama setidaknya sejak 535. Lagi-lagi, magma sisa letusan 535 yang berkomposisi lebih asam bertemu dengan magma baru berkomposisi lebih basaltis menyebabkan salah satu letusan terbesar dalam sejarah peradaban manusia dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.

"Berapa lama waktu antara bangkit dan erupsi besar? Kurang lebih empat bulan! dari 20 Mei 1883 berakhir pada 25-26 Agustus 1883," sebutnya.

Mirzam mengingatkan bahwa jeda waktu ini memang tidak panjang. Namun cukup waktu bagi kita menyiapkan sesuatu terkait dampak yang akan muncul.

"Belajar dari bangunnya Gunung Krakatau, Sinabung, dan Edgecumb, sepertinya memang alam meminta kita untuk terus belajar dan siaga," tutupnya.



Simak Video "Gunung Mauna Loa Erupsi, AS Terbitkan Kode Merah Peringatan Penerbangan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT