Transformasi pendidikan digital di Indonesia memasuki babak baru seiring masifnya kehadiran smartscreen atau layar pintar di ruang kelas di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kehadiran alat tersebut diperkuat dengan aplikasi super Rumah Pendidikan sebagai pusat ekosistem pembelajaran.
Platform ini kini menjadi fondasi utama yang menghubungkan perangkat Papan Interaktif Digital (PID), pelatihan guru, hingga distribusi materi ajar secara terintegrasi.
Pemerintah sebelumnya mencatat sebanyak 288.865 Papan Interaktif Digital, yaitu layar sentuh pintar yang berfungsi sebagai papan tulis digital interaktif, telah tersebar di sekolah dan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) sepanjang tahun lalu. Jumlah tersebut akan terus bertambah secara agresif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Prabowo dalam Rapat Paripurna terbaru menyatakan, jumlah tersebut akan bertambah tahun ini dengan tambahan 3 PID per sekolah sementara tahun depan ditambah 2 layar, sehingga tiap kelas memiliki PID sekaligus tercapai target 1 juta PID se-Indonesia.
Ekspansi smartscreen ini tidak berdiri sendiri. Pemerintah juga menyiapkan studio pengajaran terpusat di Jakarta untuk menyediakan konten pembelajaran berkualitas tinggi, khususnya bagi sekitar 330.000 sekolah yang masih menghadapi keterbatasan akses guru dan materi pendidikan. Selain itu, teknologi internet murah juga disiapkan guna memastikan seluruh perangkat dapat terhubung optimal.
Seiring meluasnya penggunaan smartscreen, super aplikasi Rumah Pendidikan berperan sebagai platform utama yang memastikan perangkat tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh guru.
Kepala Pusat Data dan Teknologi di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Yudhistira Nugraha, mengatakan transformasi digital pendidikan tidak hanya soal perangkat, tetapi membangun ekosistem yang terintegrasi.
"Digitalisasi pembelajaran bukan sekadar menghadirkan perangkat, tetapi membangun ekosistem yang mencakup teknologi, konten, dan kompetensi guru secara berkelanjutan," ujarnya dikutip dari pernyataan tertulis.
Melalui fitur Pelatihan Mandiri di Ruang GTK dalam Rumah Pendidikan, guru dapat mengakses materi pelatihan kapan saja menggunakan akun belajar.id. Materi tersebut mencakup pengenalan fitur papan interaktif digital, strategi pedagogis interaktif, hingga praktik implementasi pembelajaran digital di kelas.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, menegaskan kesiapan guru menjadi faktor utama keberhasilan transformasi digital.
"Transformasi pendidikan berawal dari guru yang adaptif dan terus belajar. Teknologi akan berdampak ketika dimanfaatkan untuk menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada murid," ungkapnya.
Pemanfaatan smartscreen yang terhubung dengan platform Rumah Pendidikan mulai mengubah cara belajar di kelas. Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan, mengatakan teknologi ini memungkinkan simulasi pembelajaran yang lebih relevan dengan dunia kerja.
"Di SMK, Papan Interaktif Digital memungkinkan simulasi industri dan presentasi proyek berbasis dunia kerja, sehingga pembelajaran menjadi lebih autentik dan efisien," tuturnya.
Guru Informatika di SMP Negeri 2 Ende, Claudia Puspita, juga merasakan peningkatan interaksi siswa sejak penggunaan papan interaktif digital.
"Sejak ada PID, siswa bisa lebih berinteraksi karena tersedia banyak gim menarik dan kuis yang dikemas secara interaktif. Akhirnya, mereka selalu bersemangat meminta menggunakan PID, bahkan untuk kegiatan ice breaking," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Indralaya, Pudyo Laksono, mengatakan visualisasi digital membantu siswa memahami konsep yang sebelumnya sulit dibayangkan.
"Terkait teori kinetik gas pada hukum Boyle misalnya, siswa kini tak lagi sekadar mengabstraksi hubungan antara tekanan, volume, dan suhu, melainkan dapat melihat visualisasi pergerakan partikel secara langsung melalui papan interaktif digital," pungkasnya.
(agt/agt)

