BRIN: Hujan Ekstrem di Jawa Disebabkan Badai Vorteks

BRIN: Hujan Ekstrem di Jawa Disebabkan Badai Vorteks

ADVERTISEMENT

BRIN: Hujan Ekstrem di Jawa Disebabkan Badai Vorteks

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 23 Okt 2022 09:18 WIB
Sejumlah kendaraan melintas saat hujan di Bundaran HI, Jakarta, Jumat, (18/2/2022).
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Curah hujan ekstrem terjadi di sejumlah daerah di Indonesia beberapa pekan belakangan, terutama di Pulau Jawa. Ilmuwan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut hujan ekstrem disebabkan badai vorteks.

Peneliti Klimatologi Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan eksistensi badai mini vorteks menyebabkan hujan ekstrem melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa pada 20-22 Oktober 2022.

"Pusaran badai vorteks itu kemudian bergerak dari barat ke timur di atas sepanjang laut selatan Jawa," kata Erma dalam keterangan yang diterima Sabtu (22/10/2022).

Erna menjelaskan, badai vorteks ditandai dengan pusaran angin dengan radius kurang dari 50 km. Badai itu terbentuk pada awalnya di barat daya Jawa bagian barat di dekat Ujung Kulon pada Jumat (21/10) dini hari.

"Badai vorteks tidak hanya menimbulkan angin kencang yang bertahan lama dengan kecepatan tetap, tetapi juga disertai dengan pembentukan hujan ekstrem dalam pola memanjang dan meluas di sepanjang pergerakannya di atas lautan. Fenomena itu dapat menimbulkan badai ekstrem disertai gelombang tinggi di atas laut (storm surge)," terangnya.

Menjelang siang, badai di laut itu memodifikasi atmosfer di atas pesisir selatan yang secara cepat berinteraksi dengan topografi pegunungan di selatan Jawa Barat sehingga menimbulkan hujan meluas.

Sementara itu, vorteks di atas laut melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Badai tersebut mengakibatkan hujan ekstrem meluas terjadi di sejumlah wilayah membentuk klaster hujan dan terjadi secara acak di berbagai wilayah, baik di selatan, tengah, maupun utara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Meskipun acak, wilayah terdampak yang paling sering diguyur hujan deras setiap hari adalah wilayah di selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta wilayah yang berada di dekat pegunungan," sebutnya.

Ia menyampaikan klaster hujan di Jawa Tengah terkonsentrasi di area sekitar Gunung Merapi dan Gunung Dieng. Area klaster hujan Merapi adalah Magelang, Purworejo, Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya.

Sementara itu, untuk klaster hujan ekstrem Dieng yaitu wilayah Temanggung, Wonosobo, dan sekitarnya. Demikian pula di Jawa Timur, area di sekitar Gunung Kelud, Lawu, Bima, dan Bromo merupakan klaster hujan ekstrem persisten yang dipengaruhi oleh efek orografis, sehingga awan-awan yang terbentuk di atas gunung berubah cepat menjadi awan badai yang kuat.

"Inilah salah satu penyebab banjir parah yang terjadi di sepanjang selatan Jawa Timur dekat area pegunungan tersebut, seperti Trenggalek, Blitar, Malang beberapa hari lalu," katanya.

Kejadian hujan ekstrem akan semakin dahsyat ketika beberapa klaster hujan berinteraksi dengan hujan pesisir selatan karena efek badai di lautan, sehingga berakibat pada penggabungan klaster hujan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Klaster hujan Jawa Timur yang terkonsentrasi di Magetan dan Jawa Tengah yang terpusat di Yogyakarta bergabung menjadi satu. Fenomena itu menimbulkan hujan deras dan persisten pada 19-20 Oktober 2022 lalu. Menurut Erma, kondisi cuaca yang dipengaruhi oleh badai vorteks tersebut berpotensi bertahan hingga akhir Oktober 2022.

"Selama periode ini, pembentukan dan pergerakan pusaran badai vorteks Borneo di utara dekat wilayah Kalimantan dan vorteks Samudra Hindia selatan Jawa akan menjadi pengontrol utama anomali cuaca yang terjadi di Indonesia," tutupnya.



Simak Video "Catat! Ini Sebaran Potensi Hujan Ekstrem di Wilayah Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT