Gelombang Panas Eropa Picu Bencana Ekologi dan Ekonomi

ADVERTISEMENT

Gelombang Panas Eropa Picu Bencana Ekologi dan Ekonomi

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 16 Agu 2022 16:16 WIB
PARIS, FRANCE - JUNE 18: A Parisian walks through the Tuileries Gardens in Paris as temperatures are expected to set a new record in the City for the hottest June day, peaking between 38°C-39°C, on June 18, 2022 in Paris, France. Outdoor public events across France have been cancelled as countries across Europe face high temperatures caused by the mass of hot air moving from north Africa, causing health risks as well as wild fires and energy shortages. (Photo by Kiran Ridley/Getty Images)
Gelombang Panas Eropa Picu Bencana Ekologi dan Ekonomi. Foto: Getty Images/Kiran Ridley
Jakarta -

Gelombang panas Eropa memicu terjadinya penderitaan tambahan bagi ekologi dan ekonomi di wilayah yang sedang bergulat menghadapi dampak perang Rusia-Ukraina.

Pekan lalu, negara-negara di seluruh Eropa mengirim tim pemadam kebakaran untuk mengatasi kebakaran hebat di Prancis. Selain itu, Sungai Rhine yang sangat penting di Jerman terus mengering sehingga sulit mengangkut pasokan.

Suhu di Inggris dan Prancis pekan ini berkisar di angka 37-38 derajat Celcius. Inggris secara resmi mengumumkan status kekeringan pada Jumat (12/8), sehingga jutaan warganya harus menghadapi pembatasan penggunaan air. Saat ini sebagian besar pedesaan yang terkenal hijau dan menyegarkan mata, berubah menjadi cokelat dan tandus.

Beberapa bagian Eropa barat, tengah, dan selatan tidak memiliki curah hujan selama hampir dua bulan, membuat hampir separuh benua menghadapi kekeringan dalam siklus cuaca panas yang menurut para ahli merupakan akibat langsung dari perubahan iklim.

"Di Inggris, kami memiliki periode sembilan bulan dengan curah hujan yang sangat ringan, itu adalah waktu yang sangat lama tanpa hujan, bahkan di negara kami, iklim tidak terduga," kata Ed Hawkins, profesor ilmu iklim di Reading University, Inggris, dikutip dari NBC News, Selasa (16/8/2022).

"Kita sekarang bisa memperkirakan musim panas yang lebih kering dan kurangnya curah hujan yang mencerminkan Eropa selatan di Inggris, meskipun Eropa selatan juga akan menjadi lebih panas," ujarnya.

Beberapa masalah, seperti kekeringan, telah terjadi selama berbulan-bulan dengan curah hujan rendah dan cuaca terik. Pada puncak musim panas, tingkat air sungai-sungai terkenal seperti Rhine, Po, dan Danube turun ke tingkat kritis.

Di Rhine, yang merupakan arteri utama untuk perdagangan dan pasokan energi, ketinggian air diperkirakan mencapai titik akhir pekan ini, yang berpotensi tidak aman bagi kapal untuk berlayar. Kondisi ini mengganggu jalur rantai pasokan dan menciptakan lebih banyak masalah bagi ekonomi. .

Po, sungai terpanjang di Italia, juga telah mengering. Pihak berwenang mengumumkan keadaan darurat bulan lalu untuk daerah sekitar Po, yang menyumbang sekitar sepertiga dari produksi pertanian negara itu.

Sungai Thames di London, Inggris yang kerap menghiasi gambar kartu pos dan souvenir London, juga telah mengering. Dan sebuah sungai di Lux, di Prancis timur dekat kota Dijon, yang biasanya mengalirkan 2.100 galon setiap detik, kini juga surut sehingga ikan tidak dapat bertahan hidup.

"Ini memilukan. Mereka terjebak di hulu dan hilir, tidak ada air yang masuk, sehingga tingkat oksigen akan terus menurun karena volume air akan turun," kata Jean-Philippe Couasné, Chief of Federation for Fishing and Protection of the Aquatic Environment,

"Ini adalah spesies yang secara bertahap akan menghilang," ujarnya.

World Wildlife Fund Polandia telah meminta pemerintah untuk mengumumkan keadaan darurat dan mengirim bantuan untuk membersihkan ikan dan hewan lain yang hanyut mati di tepi sungai Oder dekat perbatasan dengan Jerman.

Negara bagian Brandenburg di Jerman mengatakan pada hari Jumat bahwa pelepasan bahan kimia beracun mungkin menjadi penyebab kematian ikan, dan hal ini diperburuk oleh tingkat air yang rendah.

Sementara itu, Spanyol dan Portugal yang terbiasa mengalami cuaca panas dan kering dalam waktu lama, tetap saja para petaninya menderita. Di Andalusia, sebuah wilayah besar di Spanyol selatan, petani alpukat merelakan ratusan pohon mereka ditebang demi menyelamatkan yang lain agar tidak layu.

Kekeringan ini juga berefek jangka panjang. Produksi jagung di seluruh Uni Eropa diperkirakan 12,5 juta ton di bawah tahun lalu dan produksi bunga matahari diproyeksikan 1,6 juta ton lebih rendah, menurut laporan dari S&P Global Commodity Insights.

"Di Eropa, kami melihat pengaruh perubahan iklim dalam peningkatan frekuensi dan intensitas gelombang panas," kata Kimberly Nicholas, profesor dan pakar iklim di Universitas Lund di Swedia.

Dia mengatakan bahwa meskipun penyebab kekeringan jangka panjang kurang jelas, dalam dua pertiga kasus, perubahan iklim yang disebabkan manusia meningkatkan frekuensi dan intensitas kekeringan.

Nicholas mengatakan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan sekarang dalam periode suhu ekstrem saat ini untuk mencegah kematian massal ikan dan satwa laut yang terperangkap di perairan yang semakin dangkal.

"Krisis iklim dan perang buruk bagi kehidupan di Bumi, dan itu buruk bagi produksi pangan," katanya.

Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kekeringan yang mempengaruhi lahan pertanian mungkin berkontribusi pada krisis pangan global yang sebelumnya sudah terjadi sebagai dampak invasi Rusia ke Ukraina.



Simak Video "Kebakaran Hutan di Spanyol Meluas Akibat Gelombang Panas"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT