Kandungan dan Efek Gas Air Mata yang Ditembakkan di Kanjuruhan

Kandungan dan Efek Gas Air Mata yang Ditembakkan di Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Kandungan dan Efek Gas Air Mata yang Ditembakkan di Kanjuruhan

Tim - detikInet
Minggu, 02 Okt 2022 07:13 WIB
Suporter bakar kursi dan benda-benda di dalam stadion Kanjuruhan
Suporter bakar kursi dan benda-benda di dalam stadion Kanjuruhan (Foto: M Bagus Ibrahim/detikJatim)
Jakarta -

Gas air mata ditembakkan petugas keamanan saat terjadi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan yang memakan korban jiwa 129 orang (masih terus dikonfirmasi) sejauh ini. Gas air mata adalah senjata kimia yang menyebabkan mata pedih dan menyesakkan pernapasan.

Dikutip dari Encyclopedia Britannica gas air mata pertama kali digunakan dalam Perang Dunia I dalam perang kimia. Namun, karena efeknya jangka pendek dan jarang melumpuhkan, gas itu mulai digunakan oleh lembaga penegak hukum sebagai sarana untuk membubarkan gerombolan, melumpuhkan perusuh, dan membuang tersangka bersenjata tanpa penggunaan kekuatan yang mematikan

Gas yang dikeluarkan peluru ini juga kerap membuat iritasi kulit, pendarahan, dan yang paling parah menyebabkan kebutaan. Iritasi kulit yang disebabkan oleh bahan kimia gas ini dirasakan seperti rasa pedih di mata, kulit, mulut, paru-paru, dan organ lain yang terkena asap tersebut.

Bahan Kimia dalam Gas Air Mata

Sven-Eric Jordt, anestesiologis dari Duke University, Amerika Serikat, menyebut bahwa istilah 'gas' tidak cocok digunakan untuk bahan kimia tersebut.

Jordt yang sudah meneliti gas air mata selama 10 tahun itu membeberkan temuannya, bahwa secara teknis zat tersebut bukan berbentuk gas melainkan bubuk yang mengembang ke udara sebagai kabut halus.

"Saya menganggap gas air mata merupakan gas rasa sakit karena secara langsung mengaktifkan reseptor rasa sakit," ujarnya dikutip dari PBS.

Ia menjelaskan, gas air mata dapat menyebabkan kelumpuhan otot hingga berakhir mati lemas karena kandungan gas sarin. Secara khusus, semua gas air mata mengaktifkan salah satu dari dua reseptor rasa sakit, TRPA1 atau TRPV1.

Kategori pertama, gas air mata dengan kandungan 2-chlorobenzalmalonitrile atau gas CS. Senyawa ini yang mengandung klor yang bertiup ke udara sebagai partikel halus.

"Mereka sebenarnya tersebar dengan membakar dan menempel pada kulit atau pakaian dan dapat bertahan untuk sementara waktu," kata Jordt.

Zat tersebut bereaksi secara kimia dengan biomolekul dan protein pada tubuh manusia yang dapat menyebabkan sensasi terbakar parah.

Kategori kedua dari agen gas air mata adalah semprotan merica dan mengaktifkan reseptor rasa sakit TRPV1. Ini sebagian besar berasal dari capsaicin, senyawa rempah dalam cabai.

Ada dua senyawa yang umum digunakan dalam kategori ini yakni Gas OC, larutan capsaicin alami, dan PAVA, campuran capsaicin sintetis

"Ini memiliki lebih sedikit reaksi kimia atau alergi, tetapi dapat menyebabkan lecet kornea jika menembaknya langsung ke mata seseorang," sebutnya.

Efek jangka panjang dari segala jenis gas air mata tidak diketahui, terutama jika korban terpapar dalam waktu singkat dan jarang.

Sementara itu, Encyclopedia Britannica dalam situsnya menyebut gas air mata atau lacrimator merupakan kelompok zat yang bisa mengiritasi selaput lendir mata.

Zat yang paling sering digunakan sebagai gas air mata adalah senyawa halogen organik sintetik. Dua gas air mata yang paling sering digunakan adalah ω-chloroacetophenone, atau CN, dan o-chlorobenzylidenemalononitrile, atau CS.

CN adalah komponen utama dari agen aerosol Mace dan banyak digunakan dalam pengendalian kerusuhan. Ini mempengaruhi terutama mata.

CS adalah iritan yang lebih kuat yang menyebabkan sensasi terbakar di saluran pernapasan dan menutup mata secara tak disengaja, tetapi efeknya hilang lebih cepat, setelah hanya 5 hingga 10 menit menghirup udara segar.

Senyawa lain yang digunakan atau disarankan sebagai gas air mata termasuk bromoaseton, benzil bromida, etil bromoasetat, xylyl bromide, dan α-bromobenzyl sianida.

Efek gas air mata bersifat sementara dan reversibel dalam banyak kasus. Masker gas dengan filter arang aktif memberikan perlindungan dari gas air mata.

Sebelumnya diberitakan, laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di ajang Liga 1 2022-2023 memakan korban jiwa. Suporter turun ke lapangan setelah laga Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022), berakhir.

Tindakan suporter Arema itu tak lepas dari kekalahan Singo Edan 2-3 dari Persebaya Surabaya. Pihak keamanan kemudian mencoba mengamankan para pemain terlebih dahulu sebelum mengurai massa.

Kemudian, tembakan gas air mata dilepaskan guna mengurai massa yang turun ke lapangan. Suporter mengalami sesak napas dan tak sedikit dari mereka jatuh pingsan.

Untuk diketahui, dalam aturan FIFA terkait pengamanan dan keamanan stadion (FIFA Stadium Saferty dan Security Regulations), penggunaan gas air mata nyatanya tidak diperbolehkan.



Simak Video "Muncul Petisi Setop Penggunaan Gas Air Mata Usai Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT