Ide Akhir Pekan: Jalan-jalan di Hutan, Bagus Untuk Otak Anda

ADVERTISEMENT

Ide Akhir Pekan: Jalan-jalan di Hutan, Bagus Untuk Otak Anda

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 23 Sep 2022 10:26 WIB
Urban Forest Cipete
Foto: Putu Intan/detikcom
Jakarta -

Wilayah perkotaan mewakili jenis habitat baru manusia yang radikal, yang meskipun memiliki banyak fasilitas, sering kali mengganggu kesehatan mental kita. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan antara lingkungan perkotaan dengan peningkatan risiko kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya, termasuk skizofrenia.

Namun untungnya, penelitian juga mengisyaratkan adanya solusi: mengunjungi hutan atau desa. Secara singkat, mengunjungi hutan atau wilayah desa yang asri berkaitan dengan berbagai manfaat kesehatan mental dan fisik.

Dikutip dari Science Alert, Jumat (23/9/2022) kegiatan ini dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi kecemasan dan depresi, meningkatkan suasana hati, fokus menjadi lebih baik, kualitas tidur lebih baik, memori yang juga lebih baik, serta lebih cepat dalam proses penyembuhan penyakit.

Banyak penelitian telah mendukung korelasi ini, tetapi kita masih harus banyak belajar. Bisakah berjalan di hutan saja benar-benar memicu semua perubahan bermanfaat di otak ini? Dan jika demikian, bagaimana?

Amigdala adalah satu bagian di otak yang sangat baik untuk menemukan petunjuk ini. Amigdala adalah struktur kecil di pusat otak yang terlibat dalam pemrosesan stres, pembelajaran emosional, dan respons melawan-atau-lari.

Penelitian menunjukkan, amigdala kurang diaktifkan selama stres pada penduduk pedesaan dibandingkan penduduk kota. Tetapi itu tidak berarti kehidupan pedesaan menyebabkan efek ini. Mungkin sebaliknya, dan orang-orang yang secara alami memiliki sifat ini lebih cenderung tinggal di pedesaan.

Untuk menjawab pertanyaan itu, para peneliti dari Max Planck Institute for Human Development merancang sebuah studi baru, kali ini dengan bantuan dari functional magnetic resonance imaging (fMRI).

Menggunakan 63 sukarelawan dewasa yang sehat, para peneliti meminta subjek untuk mengisi kuesioner, melakukan tugas memori kerja, dan menjalani pemindaian fMRI saat menjawab pertanyaan, beberapa di antaranya dirancang untuk memicu stres sosial.

Partisipan diberitahu bahwa penelitian tersebut melibatkan fMRI dan berjalan-jalan, tetapi mereka tidak mengetahui tujuan dari penelitian tersebut.

Subyek kemudian secara acak ditugaskan untuk berjalan-jalan selama satu jam baik di lingkungan perkotaan (distrik perbelanjaan yang sibuk di Berlin) atau yang alami (hutan Grunewald seluas 3.000 hektar di Berlin).

Para peneliti kemudian meminta mereka untuk berjalan di rute tertentu di salah satu lokasi, tanpa keluar jalur atau menggunakan ponsel mereka di sepanjang jalan. Setelah berjalan, setiap peserta melakukan pemindaian fMRI lagi, dengan tugas tambahan yang memicu stres, dan mengisi kuesioner lain.

Pemindaian fMRI menunjukkan berkurangnya aktivitas di amigdala setelah berjalan-jalan di hutan. Hasil ini mendukung gagasan bahwa alam dapat memicu efek menguntungkan di daerah otak yang terlibat dengan stres. Dan ternyata itu bisa terjadi hanya dalam 60 menit.

"Hasilnya mendukung hubungan positif yang diasumsikan sebelumnya antara alam dan kesehatan otak, tetapi ini adalah studi pertama yang membuktikan hubungan sebab akibat," kata ahli saraf lingkungan Simone Kühn, kepala Lise Meitner Group for Environmental Neuroscience di Max Planck Institute for Human.

Peserta yang melakukan jalan-jalan di hutan juga melaporkan lebih banyak pemulihan dalam hal fokus perhatian, dan lebih menikmati jalan-jalan itu sendiri daripada mereka yang berjalan-jalan di perkotaan. Lagi-lagi, temuan ini konsisten dengan hasil penelitian fMRI serta penelitian sebelumnya.

Para peneliti juga mempelajari sesuatu yang menarik tentang subjek yang berjalan-jalan di kota. Aktivitas amigdala mereka tidak berkurang seperti mereka yang berjalan-jalan di alam, dan juga tidak meningkat meskipun telah menghabiskan satu jam di lingkungan perkotaan yang sibuk.

"Ini sangat mendukung efek salutogenic dari alam yang bertentangan dengan paparan perkotaan yang menyebabkan stres tambahan," tulis para peneliti.

Itu tidak berarti paparan perkotaan tidak dapat menyebabkan stres, tentu saja, tetapi mungkin merupakan pertanda positif bagi penduduk kota.

Mungkin efek stresnya kurang kuat atau meresap daripada yang disarankan oleh penelitian lain, atau mungkin itu tergantung pada faktor-faktor tertentu yang tidak ada di jalan Berlin itu.

Bagaimanapun, studi baru ini menawarkan beberapa bukti paling jelas bahwa aktivitas otak yang berhubungan dengan stres dapat dikurangi dengan berjalan-jalan di hutan, taman atau daerah hijau terdekat, seperti yang mungkin dilakukan orang-orang di zaman dulu.



Simak Video "Canggih! Perusahaan Ini Bikin Jetsuit Seperti Iron Man "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT