Piramida Terbesar Buatan Manusia Ternyata Bukan di Mesir

ADVERTISEMENT

Piramida Terbesar Buatan Manusia Ternyata Bukan di Mesir

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 19 Sep 2022 05:45 WIB
Piramida Agung Cholula
Piramida Terbesar Buatan Manusia Ternyata Bukan di Mesir. Foto: Diego Delso via Wikimedia Commons
Jakarta -

Kebanyakan orang akan langsung teringat Mesir jika membicarakan piramida. Ternyata, piramida terbesar buatan manusia bukan di Mesir, melainkan di Meksiko.

Di Meksiko terdapat Piramida Agung Cholula, juga dikenal sebagai Piramida Agung Tepanapa, sebuah struktur buatan manusia berusia 2.000 tahun yang sama sekali tidak diperhatikan oleh tentara Spanyol ketika mereka menginvasi pada tahun 1519.

Yang lebih mengesankan lagi, konon ini adalah piramida terbesar di Bumi. Bagaimana mereka bisa melewatkannya? Bangunan ini tersembunyi di dalam bukit.

Pembantaian Cholula adalah salah satu tragedi paling terkenal dari peristiwa penaklukkan oleh Hernán Cortés yang menyerbu kota Cholula pada 12 Oktober 1519.

Tentara Cortés tiba di sana dan mengantisipasi pertempuran. Namun mereka bertemu dengan kota suci yang diyakini sebagai rumah bagi piramida suci ini. Struktur tersebut dibangun sebagai simbol perlindungan Tuhan atas kota itu.

Ketika nyawa 3.000 orang melayang (10% dari populasi kota), banyak piramida menjadi sasaran penjarahan. Setelah mengklaim banyak artefak keagamaan, orang Spanyol menetap di Cholula dan mulai mendirikan gereja mereka sendiri.

Salah satunya, Iglesia de Nuestra Señora de los Remediosa yang secara tidak sadar ditempatkan di atas Piramida Agung Cholula. Dengan tinggi 66 meter dan lebar 450 meter, Piramida Agung Cholula adalah piramida terbesar di dunia, dengan volume hampir dua kali lipat dari Piramida Agung Giza.

Dikenal sebagai Tlachihualtepetl (gunung buatan), piramida ini sebenarnya memiliki sejarah pendudukan terpanjang oleh manusia dari setiap bangunannya. Ini adalah sebuah klaim yang tidak main-main untuk monumen terbesar yang pernah dibangun oleh manusia di Mesoamerika.

Piramida Agung CholulaSaat invasi Spanyol, tidak ada yang tahu ada piramida terbesar di dunia berada di bawah bukit tempat berdirinya gereja. Foto: Diego Delso via Wikimedia Commons

Piramida itu dibangun dalam empat tahap konstruksi utama, masing-masing memiliki gaya yang unik tetapi dibangun tanpa menyembunyikan konstruksi masa lalu. Hal ini diperkirakan bertujuan untuk melestarikan sejarahnya. Piramida Agung Cholula adalah kuil penting yang didedikasikan untuk pemujaan gunung dan dewa hujan sampai era Penaklukan Spanyol.

"Di Cholula ada sebuah bukit buatan yang disebut Tlachihualtepetl," tulis arkeolog dan penulis penelitian Geoffrey McCafferty mengutip Durán Diego dalam "The Book of the Gods and Rites and the Ancient Calendar (1576 - 1579).

"Dinamakan demikian karena dikatakan bahwa raksasa membangunnya untuk naik ke surga. Kini bangunan itu berdiri di reruntuhan. Bukit ini sangat suci, ada pemujaan yang tak henti-hentinya, doa-doa, pengorbanan besar, persembahan, dan pernah terjadi pembunuhan manusia," tulisnya seperti dikutip dari IFL Science.

Bagaimana piramida besar itu bisa terkubur, belum ada informasi pasti. Satu teori menyebutkan bahwa struktur itu hilang setelah lama tidak digunakan, mungkin karena ditinggalkan sebagai akibat dari aktivitas gunung berapi atau banjir. Alasan lainnya adalah bahwa ia sengaja dikubur oleh suku Aztec sebagai persiapan untuk kedatangan sang penakluk.

Saat Cortés dan anak buahnya tiba, piramida terbesar di dunia telah berubah menjadi bukit dan ternyata cocok untuk mendirikan sebuah gereja di atasnya. La Iglesia de Nuestra Señora de los Remedios masih berada di puncak Tlachihualtepetl hingga hari ini.

"Piramida ini ditemukan saat penggalian pada tahun 1535 oleh imam Fransiskan Toribio de Motolinia. Ia awalnya menemukan berhala dan terompet kulit kerang di puncak Piramida Besar saat mendirikan sebuah salib," tulis McCafferty.

Piramida Agung CholulaSekarang ada terowongan yang membentang 8 kilometer melintasi Piramida Agung Cholula. Foto: Diego Delso via Wikimedia Commons

Pada pergantian abad ke-19, penjelajah Jerman Alexander von Humboldt memulai penyelidikan arkeologi di situs tersebut. Dia menyebut keberadaan piramida yang terbesar, paling kuno, dan paling terkenal dari seluruh monumen piramida di Meksiko. Pada 1930-an, penyelidikan lebih lanjut mulai mengupas bagian luarnya.

Lalu tahun 1970-an, serangkaian terowongan yang membentang 8 kilometer memberikan akses lebih lanjut ke interior piramida dan banyak lapisan di dalamnya. McCafferty memperkirakan ada empat fase konstruksi yang terkandung di dalamnya.

"Orientasi kosmologisnya pada 24-26° lintang utara barat mungkin juga dimaksudkan untuk memanfaatkan titik balik Matahari musim panas," jelas McCafferty menjelaskan tangga barat piramida menghadap Matahari terbenam.

Fitur penting yang kemudian ditemukan dari piramida dan banyak perluasannya termasuk Patio Of The Carved Skulls. Dinamakan demikian dari tengkorak manusia yang dilapisi plester yang dibangun di altarnya.

Masih banyak yang harus dipelajari tentang piramida terbesar di dunia ini. Namun kabar baiknya adalah, McCafferty telah menerima dana untuk melanjutkan eksplorasi dan investigasi di situs tersebut.

Wisatawan bisa mengunjungi Piramida Agung Cholula yang juga merupakan rumah bagi pusat bersejarah yang terdaftar di UNESCO. Situs ini terbuka bagi wisatawan yang berminat menjelajahi reruntuhan Cholula dan terowongan bawah tanahnya.



Simak Video "Produk UMKM yang Pasti Laris di Mesir"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT