Terungkap, Ini Kecanggihan Matahari Buatan China

ADVERTISEMENT

Terungkap, Ini Kecanggihan Matahari Buatan China

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 31 Mei 2022 22:05 WIB
Matahari buatan China
Foto: Dok. Xinhua/Zhang Chaoqun
Jakarta -

Sejumlah negara besar berinvestasi dalam pengembangan fusi nuklir dan bekerja keras menyelesaikan tantangan teknik terkait dengan teknologi ini. Jika berhasil, teknologi yang kerap disebut sebagai Matahari buatan ini digadang-gadang dapat menyediakan energi yang hampir tak terbatas dan minim limbah.

China adalah salah satu negara yang jor joran mengembangkan Matahari buatan. Pengumuman terbaru yang disampaikan tim ilmuwan asal Negeri Tirai Bambu tersebut, menyebutkan bahwa mereka telah berada satu langkah lebih jauh ke arah itu.

Fusi nuklir didasarkan pada gagasan bahwa energi dapat dilepaskan dengan memaksa inti atom bersama-sama ketimbang memisahkannya, seperti dalam reaksi fisi yang menggerakkan pembangkit listrik tenaga nuklir yang ada.

Berbekal terobosan signifikan yang dilakukan tim peneliti China mengklaim telah menciptakan pembangkit listrik pertama di dunia yang mampu mengubah energi fusi menjadi listrik tanpa mengganggu sistem tenaga.

Dikutip dari South China Morning Post, Matahari buatan China, China Fusion Engineering Test Reactor (CFETR), akan menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika selesai dikembangkan sekitar tahun 2035, dengan output daya puncak hingga 2 gigawatt.

Perkembangan ini terjadi beberapa bulan setelah eksperimen lanjutan superkonduktor Tokamak (EAST) China, reaktor energi fusi HL-2M telah berjalan selama 1.056 detik pada suhu 70 juta derajat Celcius.

"Mengubah panas menjadi listrik merupakan tantangan tersendiri karena reaktor harus istirahat 20 menit setiap dua jam," kata Xiang Kui, Chief Engineer sistem termal di China Energy Engineering Group, Guangdong Electric Power Design Institute di Guangzhou.

Xiang dan rekan-rekannya menyatakan dalam sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal peer-review domestik "Konstruksi Energi Selatan" bahwa gangguan yang sering terjadi ini dapat menciptakan pancaran energi yang akan menyebabkan kerusakan besar pada jaringan listrik.

Saat ini seluruh dunia mengejar teknologi fusi nuklir. Selain China, ada juga fasilitas di Prancis bernama International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER), di mana eksperimen ini berlangsung dengan bantuan konsorsium dunia dengan Uni Eropa, AS, Rusia, dan bahkan China ikut menjadi anggotanya. Mereka berharap untuk membuat terobosan pada paruh kedua abad ini.

Pada saat yang sama, peneliti China telah menyatakan bahwa pemerintah Beijing mengharapkan untuk bisa mulai menggunakan pembangkit listrik fusi komersial sekitar tahun 2050. Namun pembangkit listrik fusi memerlukan desain yang unik dengan zona penyangga yang signifikan untuk melindungi infrastruktur energi saat ini dari guncangan mematikan.

Negara-negara seperti AS dan Inggris tidak terlalu jauh tertinggal dalam hal ini. Pada Februari tahun ini, laboratorium JET di Inggris memecahkan rekor dunianya untuk jumlah energi yang dapat diekstraksi dengan menggabungkan dua jenis hidrogen. Dalam lima detik, uji coba menghasilkan energi 59 megajoule (11 megawatt daya).

Sebelumnya juga ada Matahari buatan Korea Selatan yang pada 2020 mencetak rekor dunia baru. Fusi energi nuklir itu beroperasi selama 20 detik dengan suhu lebih dari 100 derajat.



Simak Video "Nggak Mau Kalah! Eropa Bikin Matahari Buatan Saingi China"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT