Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Atap Dunia Tibet dalam Sorotan Satelit, Kerak Bumi Ternyata Lebih Lentur

Atap Dunia Tibet dalam Sorotan Satelit, Kerak Bumi Ternyata Lebih Lentur


Agus Tri Haryanto - detikInet

Kuil Buddha di Tibet
Ilustrasi daratan tinggi di Tibet. Foto: (Drikung Kagyu Foundation)
Jakarta -

Sebuah studi terbaru yang menggunakan data satelit beresolusi tinggi mengubah cara ilmuwan memahami perilaku lempeng tektonik di Dataran Tinggi Tibet. Temuan ini juga memberi informasi anyar tentang kekakuan kerak bumi.

Penelitian yang dipublikasikan di Science dan menggunakan data dari satelit Copernicus Sentinel-1 ini menunjukkan bahwa garis patahan di wilayah Tibet jauh lebih lemah daripada dugaan sebelumnya, serta bahwa benua tidak bergerak sebagai blok kaku yang terpisah, melainkan menunjukkan perilaku seperti mengalir di bawah tekanan tektonik yang ekstrem.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peta perpindahan tanah yang dihasilkan dari citra satelit mengungkap bahwa bagian timur Dataran Tinggi Tibet bergerak ke arah timur hingga 25 milimeter per tahun, jauh lebih cepat dibanding beberapa zona lain yang bergerak hanya sekitar 10 milimeter per tahun. Zona yang berwarna hijau pada peta menunjukkan area yang bergerak berlawanan arah, menggambarkan bagaimana kerak bumi mengalami peregangan dan pemampatan sekaligus.

ADVERTISEMENT

Dataran Tinggi Tibet yang sering disebut "atap dunia" ini terbentuk oleh tumbukan lempeng tektonik India dan Eurasia, yang juga bertanggung jawab atas pembentukan pegunungan Himalaya. Wilayah ini mencakup lebih dari 2,5 juta kilometer persegi dan membentang di sejumlah negara seperti China, India, Nepal, Bhutan, hingga Tajikistan.

Para peneliti menyatakan hasil studi ini menunjukkan bahwa kerak bumi dan mantel atas bukanlah blok yang sangat kaku seperti yang diperkirakan teori tektonik lempeng klasik. Sebaliknya, massa batuan ini dapat bergerak secara "mengalir" melalui zona patahan yang relatif lemah.

Hal ini terlihat jelas pada patahan besar seperti Altyn Tagh, Kunlun, dan Xianshuihe, di mana laju deformasi yang tinggi menunjukkan peran garis patahan sebagai zona lentur utama, bukan sekadar batas yang keras antara blok-blok kaku.

Salah satu kontributor studi, Jin Fang, menekankan bahwa temuan ini terutama mengungkap kelemahan signifikan pada Kunlun Fault, yang memungkinkan bagian tengah Tibet bergerak bebas relatif terhadap area di utaranya.

"Kelemahan dari patahan Kunlun adalah kunci untuk memahami apa yang terjadi di Tibet tengah," ungkapnya dikutip dari phys.org, Kamis (5/2/2026).

Peta deformasi dengan ketelitian milimeter ini tidak hanya meningkatkan pemahaman ilmiah tentang dinamika kerak bumi, tetapi juga berpotensi menjadi dasar model risiko gempa yang lebih akurat, membantu komunitas dan negara di kawasan tektonik aktif untuk mengantisipasi gempa bumi di masa depan.

Studi ini dipimpin oleh Tim Wright dari University of Leeds dan melibatkan kolaborasi internasional antara sejumlah universitas dan lembaga penelitian dari Inggris, China, Australia, Selandia Baru, serta Amerika Serikat.




(agt/rns)







Hide Ads
LIVE