Sidang Isbat Sore Ini, Peneliti Ingatkan Objek Langit yang Kacaukan Rukyat Hilal

Sidang Isbat Sore Ini, Peneliti Ingatkan Objek Langit yang Kacaukan Rukyat Hilal

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 01 Mei 2022 14:03 WIB
Hilal
Foto: BMKG
Jakarta -

Pemerintah akan menggelar sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1443 H atau Idul Fitri sore hari ini, Minggu (1/5/2022). Peneliti astronomi mengingatkan agar berhati-hati dengan objek astronomi yang bisa mengacaukan rukyat atau pemantauan hilal.

"Mencari dan melihat hilal memang tidak mudah. Bentuk hilal yang tipis, serta kesempatan atau rentang waktu yang sangat sempit membuatnya hanya bisa dilihat oleh orang yang ahli. Selain itu, ada juga objek astronomi lainnya yang bisa mengacaukan rukyat hilal," tulis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) seperti dikutip dari website resmi BMKG.

Karenanya, dalam perencanaan rukyat hilal, perlu diperkirakan juga objek-objek astronomi selain hilal dan Matahari yang posisinya berdekatan dengan Bulan, dan kecerlangannya tidak berbeda jauh dengan hilal atau lebih lebih cerlang daripada hilal.

Objek astronomi ini dapat berupa planet, misalnya Venus atau Merkurius, atau berupa bintang yang cerlang, seperti Sirius. Adanya objek astronomis lainnya ini berpotensi menjadikan pengamat menganggapnya sebagai hilal padahal sebenarnya bukan.

Hal serupa disampaikan peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Andi Pangerang. Melalui akun Instagram miliknya, Andi mengunggah sejumlah gambar yang mendeskripsikan Merkurius berpotensi mengganggu pengamatan hilal.

[Gambas:Instagram]


"Kalau sampai ada kesaksian hilal yang lebih tinggi dari ketinggian hilal hasil perhitungan dan arahnya lebih utara ataupun lebih selatan dibandingkan posisi hilal yang terhitung, maka kesaksian tersebut wajib ditolak," tulisnya.

Namun berdasarkan prakiraan BMKG, pada hari ini, (1/5/2022), dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam, tidak ada objek astronomi lainnya yang jarak sudutnya lebih kecil dari 10° dibandingkan dengan Bulan.

Cara Melihat Hilal

Untuk mempermudah mencari dan melihat hilal, para ahli rukyat menggunakan alat bantu seperti teleskop dan kamera CCD yang sangat sensitif. Dengan pengaturan sedemikian rupa, mereka dapat melihat hilal yang sangat tipis dan rendah.

Selain itu, dengan kecanggihan teknologi saat ini, perhitungan posisi hilal pun sudah bisa ditentukan. Untuk penentuan awal bulan Syawal 1443 H dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, BMKG menyampaikan bahwa untuk wilayah Indonesia, konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 1 Mei 2022.

Ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 1 Mei 2022, sekitar antara 3,79 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 5,57 derajat di Sabang, Aceh. Sedangkan umur bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 1 Mei 2022, berkisar antara 12,03 jam di Merauke, Papua sampai dengan 15,30 jam di Sabang, Aceh.

Mengamati hilal sangat penting karena merupakan penanda bahwa awal Bulan baru dalam kalender Hijriah sudah dimulai. Jika hilal belum terlihat, maka belum berganti bulan dalam penanggalan Hijriah. Setelah hilal teramati, itu artinya malamnya sudah masuk awal dari bulan baru. Jika itu adalah hilal awal Syawal, maka seluruh kegiatan ibadah Ramadan akan berakhir, dan umat Islam merayakan Idul Fitri.



Simak Video "Pemerintah Tetapkan Idul Fitri Besok, 2 Mei 2022! "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)