Awal Puasa 2022 Berbeda Sesuai Prediksi, Ini Sebabnya

Awal Puasa 2022 Berbeda Sesuai Prediksi, Ini Sebabnya

ADVERTISEMENT

Awal Puasa 2022 Berbeda Sesuai Prediksi, Ini Sebabnya

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 02 Apr 2022 06:29 WIB
Tim Astronomi dan Ilmu Falak dari MAN 1 Solo melakukan   pemantauan hilal (rukyatul hilal) dengan teleskop di laboratorium sekolah setempat, Solo, Jawa Tengah, Kamis (23/4/2020). Pemantauan hilal (rukyatul hilal) tersebut untuk penetapan 1 Ramadan 1441H. ANTARA FOTO/Maulana Surya/aww.
Awal Puasa 2022 Berbeda Sesuai Prediksi, Ini Sebabnya. Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya
Jakarta -

Seperti sudah diprediksi sebelumnya, terjadi perbedaan awal puasa 2022. Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan 1 Ramadan 1433 H jatuh pada Minggu (3/4), sedangkan Muhammadiyah sudah mulai berpuasa hari ini, Sabtu (2/4).

Setelah lima tahun (2017-2021) kita memulai puasa dan merayakan Idul Fitri bersama, di tahun ini kembali terjadi perbedaan. Ternyata, ini sebabnya.

Dijelaskan Profesor Dr Thomas Djamaluddin, MSc, ahli astronomi dan astrofisika dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perbedaan hanya terjadi apabila posisi Bulan berada di bawah atau di antara kriteria-kriteria yang digunakan di Indonesia dalam penentuan hilal.

Adapun kriteria umum yang digunakan di Indonesia dalam penentuan awal Ramadan dan Syawal adalah:

  1. Kriteria Wujudul Hilal (Bulan terbenam sesudah Matahari dan ijtimak terjadi sebelum maghrib) yang digunakan kalender Muhammadiyah
  2. Kriteria Menteri-menteri Agama Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS), terutama parameter tinggi Bulan minimal 2 derajat yang digunakan di kalender taqwim standar Pemerintah dan kalender Nahdlatul Ulama
  3. Kriteria LAPAN (2010) yang sama dengan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (RJ), yaitu beda tinggi Bulan-Matahari minimal 4 derajat (= tinggi Bulan 3 derajat) dan elongasi Bulan minimal 6,4 derajat di kawasan barat Asia Tenggara yang digunakan kalender Persis. Namun untuk Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah 1443, kalender Persis menggunakan kriteria MABIMS yang digunakan taqwin standar Pemerintah.

Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, Muhammadiyah sudah lebih dulu memutuskan 1 Ramadhan 1443 jatuh pada tanggal 2 April 2022. Sedangkan berdasarkan kriteria MABIMS, hilal terlalu rendah untuk diamati. Umumnya di wilayah Indonesia tinggi Bulan kurang dari 2 derajat. Itu artinya, rukyatul hilal (pengamatan hilal) pada saat maghrib 1 April tidak terlihat.

Prediksi Awal Puasa Tahun Berikutnya

Potensi perbedaan ini sudah disampaikan Prof Djamal sejak 2016. Saat itu, Prof Djamal yang menjabat sebagai Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (sekarang Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional) menyebutkan, hingga 2021, awal puasa dan Syawal berpotensi dirayakan bersama.

Di tahun 2016 saat itu, tidak ada perbedaan waktu awal Ramadan di Indonesia. Baik pemerintah, NU maupun Muhammadiyah menjalankan ibadah puasa mulai tanggal 6 Juni 2016, dan prediksi bahwa keseragaman itu bakal terjadi hingga lima tahun ke depan terbukti benar.

Nah, setelah tahun 2022, apakah potensi perbedaan awal puasa dan Syawal tahun-tahun berikutnya juga sudah bisa diprediksi sejak sekarang?

"Saya belum menghitung untuk tahun-tahun berikutnya. Tetapi yang jelas tahun 1443 H/2022 dan 1444 H/2023 akan terjadi perbedaan kalau ormas-ormas belum mengubah kriteria mereka," kata Prof Djamal dihubungi beberapa waktu lalu.

"Tidak ada periode tertentu. (Perbedaan) bergantung pada posisi Bulan dan dinamika ormas-ormas Islam dalam menerapkan kriteria baru," sambungnya.

Ia sudah sejak dulu mengusulkan agar terjadi dialog antara ormas dan pemerintah. Tujuannya, untuk membuat sebuah mekanisme penyeragaman terkait penentuan awal Ramadan dan Lebaran.

Ada tiga poin yang dibahas, yakni pertama menentukan otoritas tunggal. Menurutnya, perlu ada satu institusi khusus yang bisa diikuti keputusannya secara bersama.

Kedua, perlu ada kriteria tunggal dalam penentuan derajat Bulan. Baik Muhammadiyah dan NU bisa berdialog menyepakati kriteria tersebut dengan mengajak serta para ahli astronomi.

Ketiga, dia mengusulkan agar ada batas wilayah dan batas keberlakuan. Artinya, ada ketentuan mengenai wilayah mana saja penentuan ini diberlakukan. Apakah mengikuti secara global atau wilayah tertentu.

"Pemerintah mengupayakan ada satu sistem tunggal sehingga keterbukaan semua pihak bisa membuat satu kalender yang mapan: ada otoritas tunggal, kriteria tunggal, dan batas tanggal yang disepakati," kata Djamal.

Dia berharap kriteria yang baru akan membuka jalan untuk mencapai penetapan kriteria tunggal tersebut yang akan dijadikan rujukan semua pihak dan mempersatukan umat.

"Kalau sekarang baru sebatas tanggal, tapi otoritasnya masih beragam. Pemerintah punya kalender baku tapi ormas punya kriteria sendiri-sendiri. Bisa jadi tahun-tahun berikutnya semua ormas Islam bisa bersepakat pada kriteria tunggal sehingga bisa seragam," tutupnya.



Simak Video "1 Ramadan Jatuh pada Hari Minggu, Netizen Ucapkan Selamat Berpuasa"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT