Riset: Orang yang Tidak Divaksinasi Ancaman Bagi yang Divaksin COVID-19

Riset: Orang yang Tidak Divaksinasi Ancaman Bagi yang Divaksin COVID-19

ADVERTISEMENT

Riset: Orang yang Tidak Divaksinasi Ancaman Bagi yang Divaksin COVID-19

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 26 Apr 2022 18:19 WIB
Young doctor giving COVID 19 vaccine to young woman at home
Foto: Getty Images/iStockphoto/MJimages
Jakarta -

Sebuah riset baru telah mengungkapkan bahwa orang yang tidak divaksinasi menimbulkan ancaman bagi mereka yang diinokulasi terhadap virus Corona, meskipun tingkat imunisasinya tinggi.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Toronto di Kanada ini didasarkan pada pemahaman dinamika antara yang divaksinasi dan yang tidak divaksinasi.

"Banyak penentang kewajiban vaksin, membingkai narasi vaksin sebagai masalah pilihan individu," menurut David Fisman dari Dalla Lana School of Public Health di University of Toronto, dikutip dari WIO News, Selasa (26/4/2022).

"Namun, kami menemukan bahwa pilihan yang dibuat oleh orang-orang yang mengabaikan vaksinasi berkontribusi secara tidak proporsional terhadap risiko di antara mereka yang divaksinasi," tambahnya.

Selama studi, para peneliti membuat simulasi dengan mencampurkan kelompok-kelompok yang berbeda serta menjaga mereka tetap berhubungan eksklusif dengan orang-orang yang memiliki status vaksinasi yang sama.

Setelah dianalisis, mereka menemukan bahwa ketika orang yang divaksinasi dicampur dengan yang tidak divaksinasi, mereka menjadi ancaman bagi yang sudah divaksin tetapi ini tidak terjadi pada kelompok yang memiliki status inokulasi yang sama.

Para ilmuwan percaya bahwa temuan penelitian, yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal, akan relevan dengan gelombang virus Corona di masa depan dan bahkan dalam kasus mutasi atau varian baru.

Penulis penelitian mencatat bahwa, "Risiko di antara orang yang tidak divaksinasi tidak dapat dianggap merugikan diri sendiri. Dengan kata lain, mengabaikan vaksinasi tidak dapat dianggap hanya memengaruhi mereka yang tidak divaksinasi, tetapi juga orang-orang di sekitar mereka."

"Pertimbangan seputar kesetaraan dan keadilan bagi orang-orang yang memilih untuk divaksinasi, serta mereka yang memilih untuk tidak divaksinasi, perlu dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan vaksinasi," tambah mereka.

Studi ini dilakukan ketika kasus virus Corona di seluruh dunia meningkat karena mutasi dari varian yang ada serta penemuan yang baru. Tom Frieden, mantan direktur CDC mengatakan, kita saat ini berada di tempat yang jauh berbeda dibandingkan dua tahun lalu.

"Sekarang, virusnya lebih menular tetapi kurang ganas, kita memiliki dinding kekebalan dari vaksinasi dan infeksi sebelumnya, serta tes COVID, perawatan, dan pengawasan penyakit yang lebih baik," ujarnya.

Para ilmuwan percaya bahwa upaya disinformasi yang memicu sentimen anti-vaksinasi di seluruh dunia, bisa berdampak buruk pada kesehatan dan ekonomi negara tempat mereka tinggal. Sebagai akibat dari penyerapan vaksin yang tersedia secara kurang optimal, potensi bahaya bagi masyarakat luas pun bisa meningkat.



Simak Video "Booster Kedua untuk Lansia Direstui, Bagaimana dengan Masyarakat Umum?"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT