Ramalan Suram Masa Depan Bumi dan Impian Pindah Planet

ADVERTISEMENT

Ramalan Suram Masa Depan Bumi dan Impian Pindah Planet

Tim - detikInet
Selasa, 19 Apr 2022 04:00 WIB
Foto Bumi Bulat
Planet Bumi. Foto: NASA
Jakarta -

Bumi merupakan planet yang sempurna untuk kehidupan. Tapi ada beberapa tokoh terkenal yang pernah meramalkan masa depan suram planet ini sehingga manusia harus berpindah ke planet lain atau ke antariksa. Berikut di antaranya:

1. Stephen Hawking

Mendiang Stephen Hawking, ilmuwan terkenal Inggris, dulu termasuk getol memperingatkan bahwa Bumi makin tidak kondusif. Ia pernah mengatakan manusia harus meninggalkan planet Bumi dalam 100 tahun ke depan agar selamat, ke planet lain yang memungkinkan untuk dihuni.

"Saya sangat yakin bahwa kita harus mulai mencari planet alternatif untuk habitat yang memungkinkan. Kita sudah kehilangan banyak ruang di bumi dan harus melakukan terobosan teknologi yang mencegah kita hidup di mana saja di alam semesta ini," katanya.

Sosok yang kisahnya diangkat menjadi sebuah film berjudul The Theory of Everything ini berpendapat bahwa Bumi telah kehabisan waktu.

"Seluruh manusia harus meninggalkan planet ini untuk selamat dari terjangan perubahan iklim, penyakit epidemik, populasi yang membludak, hingga jatuhnya asteroid," katanya.

Pernyataan tersebut merujuk pemanasan global berpotensi meningkatkan suhu Bumi hingga dapat mencairkan pulau es seperti Greenland. Lalu, populasi Bumi sudah tembus 7,3 Miliar, dengan penyakit-penyakit yang dapat mengancam seluruh penduduk.

Para peneliti menurut dia harus memulai rencana untuk mencari rumah berikutnya bagi manusia mengingat kerusakan yang sudah dilakukan manusia kepada Bumi.

"Saya percaya bahwa kita sudah sampai pada tahap di mana kita tidak bisa kembali lagi. Bumi sudah terlalu kecil bagi seluruh manusia. Populasi global yang terus meningkat menjadi alarm bahwa kita sedang mengarah pada kehancuran kita sendiri," ujarnya.

Stephen Hawking mengatakan bahwa NASA, SpaceX milik Elon Musk, hingga Blue Origins kepunyaan Jeff Bezos menjadi tiga terdepan dalam menginisiasi era baru penjelajahan antariksa dari Bumi.

Halaman selanjutnya, Elon Musk>>>

Elon Musk

Pindah ke planet Mars bukanlah impian yang jauh di awang-awang. Setidaknya demikian pandangan dari Elon Musk, triliuner pemilik perusahaan kapal luar angkasa SpaceX. Ia sangat yakin kolonisasi Mars bisa dilakukan dalam waktu yang tak begitu lama.

"Aku ingin membuat Mars terasa mungkin (dihuni-red), sesuatu yang bisa kita lakukan dalam jangka waktu hidup kita. Sungguh ada jalan orang-orang bisa pergi ke sana jika mereka menginginkannya," sebut Elon dalam publikasinya di jurnal New Space beberapa waktu silam.

Menurut Elon, manusia pada akhirnya akan menghadapi peristiwa yang berujung kepunahan. Sehingga alternatifnya adalah menghuni planet-planet di tata surya yang memungkinkan.

"Aku memang tidak bisa meramal kiamat namun berdasarkan sejarah, akan ada event semacam itu," tulis salah satu orang terkaya dunia tersebut.

Dan sejauh ini hanya Mars yang sepertinya mungkin ditinggali karena sumber daya alamnya banyak serta ada beberapa kemiripan dengan planet bumi. Tapi memang banyak sekali halangan, misalnya belum ada pesawat luar angkasa berpenumpang manusia sampai di sana.

Kalaupun ada, biayanya diprediksi sangat mahal. Tapi bukan Elon namanya kalau tidak optimistis. Ia yakin semua tantangan itu ada solusinya sehingga manusia bisa membangun perkotaan di planet merah.

"Jika semuanya berjalan sangat lancar, mungkin waktunya 10 tahun dari sekarang, tapi aku tidak mengatakan benar-benar akan terjadi saat itu. Ada risiko begitu besar dan biaya tinggi," paparnya.

Setelah SpaceX sukses meluncurkan astronaut NASA memakai kapsul Crew Dragon ke International Space Station, Elon Musk sang pemilik beralih fokus ke proyek ambisius mempersiapkan pesawat Starship untuk menuju ke Mars. "Tolong anggaplah prioritas top SpaceX adalah Starship," tulis Musk.

Halaman selanjutnya, Jeff Bezos>>>

3. Jeff Bezos

Orang terkaya dunia, Jeff Bezos, sangat berambisi membangun pemukiman manusia di luar angkasa. Bahkan pendiri Amazon itu ingin 1 triliun manusia menjadi penduduk koloni antariksa tersebut, sebagian di antaranya orang genius.

"Sistem tata surya bisa mendukung 1 triliun manusia dan kemudian kita akan memiliki 1.000 Mozart dan 1.000 Einstein. Pikirkan bagaimana menakjubkan dan dinamisnya peradaban ini," kata Bezos di New York beberapa waktu silam.

"Tapi jika kita ingin punya itu, kita harus keluar ke sistem tata surya. Kalian harus menangkap lebih banyak sinar matahari dan kita akan menggunakan semua sumber daya yang ada di angkasa dalam hal mineral dan tak hanya energi. Sangat bisa dilakukan, tapi kita harus mulai," tandasnya.

Bezos memiliki perusahaan antariksa Blue Origin yang ingin membawa turis terbang ke angkasa. Tapi bukan tak mungkin Blue Origin akan melakukan lebih jauh soal penjelajahan antariksa.

"Salah satu langkah pertama adalah kita perlu membuat wahana penerbangan berbiaya rendah, mudah diperbaiki, dan dipakai lagi. Itu adalah langkah mahal. Itulah mengapa Blue Origin fokus ke situ. Aku sungguh ingin peradaban dan kehidupan dinamis bagi anak cucu kita," tambah dia.

Pria berkepala pelontos ini mengaku mulai tertarik dengan antariksa semenjak pendaratan manusia di Bulan pada 50 tahun silam. Lebih jauh, mengembangkan teknologi antariksa adalah penting bagi manusia agar punya masa depan yang panjang.

"Kita manusia harus pergi ke angkasa jika ingin terus punya peradaban yang berkembang. Kita telah menjadi besar sebagai populasi, sebagai spesies dan planet ini relatif kecil. Kita melihat hal-hal semacam perubahan iklim, polusi, dan industri berat. Kita dalam proses menghancurkan planet ini," tandasnya.

Maka ia berambisi di masa depan, banyak proses produksi dilakukan di angkasa dan baru dikirim ke Bumi. "Akan jauh lebih murah dan sederhana membuat hal kompleks seperti microproseor di angkasa dan mengirimkannya kembali ke Bumi, sehingga kita tak punya lagi pabrik-pabrik besar dan industri yang menghasilkan polusi," paparnya.

(fyk/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT