Piramida Giza Mau Dipindai Pakai Sinar Kosmik, Cari Apa?

Piramida Giza Mau Dipindai Pakai Sinar Kosmik, Cari Apa?

ADVERTISEMENT

Piramida Giza Mau Dipindai Pakai Sinar Kosmik, Cari Apa?

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 03 Mar 2022 18:01 WIB
Piramida Agung Giza
Piramida Giza Mau Dipindai Pakai Sinar Kosmik (Foto: Universe Today)
Jakarta -

Piramida Agung Giza mungkin merupakan struktur paling ikonik yang pernah dibangun manusia. Peradaban kuno membangun ikon arkeologi ini, yang menjadi bukti kebesaran dan kegigihan mereka. Sekelompok tim ilmuwan berencana memindai bangunan bersejarah ini menggunakan sinar kosmik. Seperti apa, dan untuk apa ya?

Dengan memanfaatkan High Energy Physics (HIP), mereka akan memindai Piramida Agung Khufu di Giza dengan muon sinar kosmik. Muon adalah partikel elementer yang mirip dengan elektron tetapi lebih masif. Mereka digunakan dalam tomografi karena menembus jauh ke dalam struktur. Lebih dalam daripada yang bisa dilakukan sinar-X. Muon sinar kosmik tercipta ketika partikel berenergi tinggi yang dikenal sebagai sinar kosmik menabrak atmosfer Bumi.

Sedangkan sinar kosmik adalah fragmen atom, proton berenergi tinggi dan inti atom, yang terus-menerus mengalir ke Bumi dari Matahari, di luar Tata Surya, dan di luar galaksi. Ketika partikel-partikel ini bertabrakan dengan atmosfer Bumi, tabrakan tersebut menghasilkan hujan partikel sekunder. Beberapa dari partikel itu adalah muon.

Melihat Piramida Lebih Dalam

Mereka ingin melihat lebih dalam ke Piramida Besar dibandingkan sebelumnya, dan memetakan struktur internalnya. Upaya tersebut, seperti dikutip dari Universe Today, dinamakan misi Explore the Great Pyramid (EGP).

Piramida Agung Giza sudah berdiri sejak abad ke-26 SM. Bangunan ini adalah makam Firaun Khufu, juga dikenal sebagai Cheops. Pembangunan konstruksi Piramida Agung Giza memakan waktu sekitar 27 tahun, dan dibangun dengan sekitar 2,3 juta blok batu yang merupakan kombinasi batu kapur dan granit, dengan berat sekitar 6 juta ton.

Selama lebih dari 3.800 tahun, bangunan ini menjadi struktur buatan manusia tertinggi di dunia. Kita sekarang hanya melihat struktur inti yang mendasari Piramida Besar. Sementara itu, lapisan luar batu kapur putih halus yang menyelimutinya telah terhapus dari waktu ke waktu.

Piramida Besar dipelajari dengan baik, dan selama bertahun-tahun, para arkeolog telah memetakan struktur interiornya. Piramida dan tanah di bawahnya berisi kamar dan lorong yang berbeda. Kamar sang Khufu (Cheops), kira-kira terletak di tengah piramida.

Belakangan ini, tim arkeologi menggunakan beberapa metode berteknologi tinggi untuk menyelidiki bagian dalam piramida dengan lebih teliti. Pada akhir 1960-an, Fisikawan Amerika Luis Alvarez dan timnya menggunakan tomografi muon untuk memindai interior piramida. Pada tahun 1969, Alvarez melaporkan bahwa mereka memeriksa 19% piramida dan tidak menemukan adanya kamar baru.

Pada 2016-2017, tim ScanPyramids menggunakan teknik non-invasif untuk mempelajari Piramida Agung. Seperti Alvarez, mereka menggunakan tomografi muon, bersama dengan termografi inframerah dan alat lainnya. Penemuan mereka yang paling signifikan adalah "Big Void", sebuah kekosongan besar yang ditemukan berada di atas Grand Gallery. Penemuan ini diterbitkan dalam jurnal Nature dan dianggap sebagai salah satu penemuan ilmiah paling signifikan tahun itu.

"Kami berencana menggunakan sistem teleskop yang memiliki sensitivitas hingga 100 kali lebih tinggi dari peralatan yang baru-baru ini digunakan di Piramida Besar, akan memotret muon dari hampir semua sudut dan untuk pertama kalinya, akan menghasilkan gambar tomografi sejati struktur yang begitu besar," tulis para peneliti menjelaskan misi mereka, dilansir Universe Today, Kamis (2/3/2022).

Misi EGP akan menggunakan sensor teleskop yang sangat besar yang dipindahkan ke berbagai posisi di luar Piramida Besar. Detektor akan dirakit dalam kontainer pengiriman yang dikontrol suhu untuk kemudahan transportasi. Setiap unit akan memiliki panjang 12 m, lebar 2,4 m, dan tinggi 2,9 m. Simulasi mereka menggunakan dua teleskop muon, dan setiap teleskop terdiri dari empat wadah.

Pastinya akan ada penolakan ketika para ilmuwan menggunakan fisika energi tinggi modern untuk menyelidiki salah satu harta arkeologi paling kuno umat manusia. Beberapa ahli Mesir Kuno tampak keberatan dan mungkin memandang fisikawan sebagai penyelundup. Mereka mungkin tidak menyukai fisikawan yang menggunakan partikel misterius dari luar angkasa untuk membuka tabir masa lalu kuno. Di sisi lain, temuan-temuan semacam ini akan menguak lebih banyak wawasan tentang umat manusia.



Simak Video "Momen Pangeran Charles dan Camilla Kunjungi Piramida Agung Giza"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT