Kontroversi Cangkok Jantung Babi, Dr Muhammad Mohiuddin Beri Alasan

ADVERTISEMENT

Kontroversi Cangkok Jantung Babi, Dr Muhammad Mohiuddin Beri Alasan

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 13 Jan 2022 19:45 WIB
Dr Muhammad Mohiuddin
Cangkok Jantung Babi Kontroversial, Dr Muhammad Mohiuddin Beri Alasan. Foto: University of Maryland Medical Center
Jakarta -

Cangkok jantung babi ke manusia untuk pertama kalinya dilakukan di Amerika Serikat (AS). Operasi tersebut dipuji banyak orang sebagai terobosan medis. Namun sebagian orang ada yang mempertanyakan apakah prosedur tersebut etis, sehingga memicu kontroversi.

Sejumlah pihak mempertanyakan masalah moral terkait keselamatan pasien, hak-hak hewan, dan masalah agama. Yang paling kencang terdengar tentu saja terkait agama. Apalagi, sosok di balik kesuksesan transplantasi ini, yakni Dr Muhammad Mansoor Mohiuddin, adalah seorang muslim.

Islam dan Yudaisme melarang konsumsi daging babi dalam keadaan normal. Namun, produk babi telah banyak digunakan dalam obat-obatan mulai dari insulin hingga vaksin campak.

Selain itu, katup berbahan dasar babi pun telah membantu banyak hati pasien Muslim sejak operasi cangkok pertama dilakukan pada 1960-an. Prosesnya disebut xenotransplantasi, yaitu memindahkan jaringan atau organ yang berfungsi dari satu spesies ke spesies lain.

Alasan Dr Mohiuddin

Babi telah menjadi subjek pilihan untuk penelitian xenotransplantasi hampir secara baku. Kenapa bukan hewan lain, kambing atau domba misalnya?

"Sebagai Muslim, kami mungkin memiliki kendala dengan babi. Tapi untuk seluruh dunia, itu (babi) sudah umum dikonsumsi sebagai makanan," kata Dr Muhammad Mansoor Mohiuddin, direktur program xenotransplantasi jantung di University of Maryland Medical Center, dalam sebuah wawancara November 2021, dikutip dari TRT World.

Dr Mohiuddin, adalah seorang muslim asal Pakistan yang taat. Dia menjadi salah satu pionir di bidang xenotransplantasi. Sebelum namanya diperbincangkan sebagai sosok di balik kesuksesan cangkok jantung babi ke manusia untuk pertama kalinya, dia dan timnya di National Institutes of Health (NIH) berhasil menempelkan hati babi ke beberapa babon pada tahun 2014. Salah satu hati, berhasil bertahan selama hampir 3 tahun.

"Kami telah sepenuhnya memetakan genom babi," katanya, mengacu pada kumpulan informasi genetik yang membentuk dasar organisme hidup.

"Kami tahu bagaimana babi berbeda dari manusia dan perubahan apa yang diperlukan untuk membuat organnya dapat diterima di tubuh kita. Kami tidak tahu banyak tentang kambing atau sapi," ujarnya.

Primata non-manusia seperti gorila adalah kandidat paling ideal untuk mengambil organ donor. Secara genetik, mereka lebih dekat dengan manusia. Itulah salah satu alasan mengapa tes xenotransplantasi paling canggih masih dilakukan pada monyet.

Masalahnya, babon, gorila, dan simpanse termasuk spesies yang terancam punah. Ada juga kekhawatiran bahwa beberapa virus zoonosis, seperti virus Corona, dapat berpindah dari monyet ke manusia.

Babi kemudian menjadi hewan pilihan bagi para peneliti karena berbagai alasan. Hewan ini tumbuh dengan cepat, sering bereproduksi dan berlimpah jumlahnya, serta ukuran organ mereka mirip dengan manusia.

Rintangan besar lain yang harus diatasi adalah respons imun yang kuat, yang dipicu ketika tubuh manusia bersentuhan dengan jaringan asing, sering kali langsung menolaknya. Sejauh ini, hasil xenotransplantasi memperlihatkan organ babi bisa 'bekerja sama' dengan tubuh manusia.

Dr Mohammed Ghaly, profesor bidang Islam dan etika biomedis di Qatar's Hamad Bin Khalifa University merespons kontroversi semacam ini dengan menyebutkan bahwa pandangan utama para ulama adalah bahwa mungkin saja menggunakan bagian tubuh babi, selama kita tidak memiliki alternatif lain yang tersedia.

"Kami memiliki aturan Islam yang mengatakan sesuatu yang dilarang bisa menjadi diperbolehkan jika ada kebutuhan medis. Bagaimanapun, menyelamatkan nyawa manusia dipandang sebagai sikap yang sangat mulia dalam Islam," katanya.

Transplantasi organ biasanya merupakan pilihan terakhir bagi ribuan pasien yang sakit kritis. Di AS saja, lebih dari 100 ribu orang sedang menunggu organ donor. Banyak dari mereka sekarat karena kekurangan donor ginjal dan hati.

Terlepas dari permintaan, xenotransplantasi yang berhasil telah terbukti menjadi tujuan yang sulit dipahami oleh para peneliti selama lebih dari 40 tahun sejak upaya ilmiah pertama untuk mentransplantasikan seluruh organ hewan ke manusia.



Simak Video "Pasien Pertama Penerima Cangkok Jantung Babi Meninggal, Ini Kata Ahli"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT