Mengenal Titik Balik Matahari 21 Desember, Kepercayaan, Ritual, dan Faktanya

Mengenal Titik Balik Matahari 21 Desember, Kepercayaan, Ritual, dan Faktanya

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 21 Des 2021 10:22 WIB
Sejumlah bocah menikmati suasana fajar pertama bulan Ramadhan di Bukit Samata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (13/4/2021). Bukit tersebut ramai dikunjungi remaja hingga anak-anak untuk menyaksikan matahari terbit pertama pada bulan Ramadhan 1442 H. ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/hp.
Mengenal Titik Balik Matahari 21 Desember, Kepercayaan, Ritual, dan Faktanya. Foto: ANTARA/ARNAS PADDA
Jakarta -

Titik balik Matahari terjadi pada hari ini, Selasa 21 Desember 2021. Fenomena astronomi ini punya nama lain Solstis Desember, Winter Solstice, atau titik balik musim dingin.

Dikutip dari situs Edukasi Sains LAPAN, Solstis Desember adalah posisi ketika Matahari berada paling selatan terhadap ekuator langit jika diamati oleh pengamat di permukaan Bumi.

"Puncak Solstis Desember tahun ini terjadi pada tanggal 21 Desember pada pukul 22.59.23 WIB. Baik pengamat di belahan Bumi bagian utara maupun selatan, akan mendapati Matahari terbit dari arah timur-tenggara dan terbenam dari arah barat-barat daya," kata Organisasi Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN (dulu Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional/LAPAN).

Fenomena alami

Titik balik Matahari merupakan fenomena alami yang terjadi dua kali dalam setahun, ketika posisi Matahari di langit tampak di paling utara atau selatan relatif terhadap garis khatulistiwa.

Dalam setahun, kita mengalami titik balik Matahari pertama di bulan Juni (Solstis Juni). Fenomena ini terjadi bila belahan Bumi utara miring ke arah Matahari dan belahan Bumi selatan miring menjauhi Matahari. Di belahan Bumi utara, fenomena ini disebut juga titik balik musim panas karena menandai terjadinya musim panas. Titik Balik Juni biasanya terjadi pada 21 Juni.

Sedangkan titik balik Desember (Solstis Desember) terjadi saat belahan Bumi selatan condong ke arah Matahari dan belahan Bumi utara menjauhi Matahari. Di belahan Bumi utara, fenomena ini disebut titik balik musim dingin dan biasanya terjadi pada 21 Desember.

Indonesia yang berada di khatulistiwa tidak terpengaruh fenomena ini, dikarenakan posisi khatulistiwa terhadap Matahari cenderung konstan.

Kepercayaan dan Ritual

Secara historis, titik balik Matahari musim dingin sangat penting bagi banyak budaya, seperti Mesir Kuno dan Roma Kuno. Momen tersebut sering dijadikan sebagai penanda untuk musim yang lewat, dan kemungkinan waktu kelahiran kembali.

Pada 25 Desember diadakan festival Romawi megah yang dinamakan Saturnalia. Perayaan ini diperingati di sekitar waktu musim dingin. Pada 275 Masehi, Kaisar Romawi Aurelian memperingati hari raya yang bertepatan dengan fenomena tersebut yang dinamakan Die Natalis Invicti Solis.

Di Persia, titik balik Matahari dipercaya menandai kelahiran Mithras, Raja Matahari. Sedangkan di Eropa utara, dari Kepulauan Faroe ke Estonia, orang-orang Jerman sejak lama merayakan titik balik Matahari yang dikenal sebagai Yule.

Saat Yule datang, orang-orang Norse merayakan kelahiran kembali Matahari selama 12 hari. Momen itu juga dirayakan orang-orang Anglo-Saxon.

Menurut filsuf Pliny the Elder, di Inggris, para imam Druid (kasta pendeta Celtic) akan menandai tanggal penting ini dengan mengumpulkan tanaman mistletoe dan mengorbankan lembu jantan.

Selain mengumpulkan mistletoe dan perayaan 12 hari, beberapa tradisi Natal, seperti kue berbentuk kayu bulat Yule dan pohon-pohon hias, serta tanggal Yule, kemudian diadopsi dan diadaptasi orang Kristen.

Di beberapa bagian di Inggris, perayaan fenomena solstis tahunan yang paling populer adalah para Druid berkumpul di situs Stonehenge untuk menyaksikan Matahari terbit.

Ribuan orang berkumpul di monumen Wiltshire, yakni batu-batu yang ditempatkan dan dibentuk untuk membingkai Matahari saat terbit selama soltis musim panas dan musim dingin (Solstis Juni dan Solstis Desember).



Simak Video "4 Fenomena Astronomi Awal Oktober, Ada Hujan Meteor!"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)