Kematian COVID-19 Tembus 5 Juta, Ahli Tak Percaya

Kematian COVID-19 Tembus 5 Juta, Ahli Tak Percaya

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 03 Nov 2021 22:05 WIB
Foto udara suasana pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (15/7/2021). Berdasarkan data Worldometer, Indonesia resmi masuk empat besar kasus aktif COVID-19 terbanyak di seluruh dunia, pada Kamis (15/7/2021) kasus aktif di Indonesia mencapai 480.199 kasus, melampaui Rusia yang tercatat 457.250 kasus, Indonesia juga jauh melampaui India yang tercatat 432.011 kasus. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Jakarta -

Angka kematian karena COVID-19 secara global baru saja melampaui rekor suram: lebih dari 5 juta orang meninggal karena penyakit ini. Namun sebagian besar ahli setuju bahwa angka ini terlalu mengecilkan, karena mereka yakin jumlah sebenarnya bisa dua hingga empat kali lipat.

Vaksin memang telah memperlambat tingkat kematian. Namun ada sebagian besar wilayah di dunia yang belum terjangkau vaksin, ada yang kasusnya meningkat, bahkan ada tempat-tempat seperti Tonga di Oseania yang baru 'disambangi' kasus COVID pertama mereka. Pandemi memang belum berakhir.

Ada banyak alasan mengapa angka kematian COVID-19 sebenarnya bisa jauh lebih besar. COVID data dashboard untuk melacak korban COVID-19 yang dibuat Johns Hopkins memang menunjukkan data terbaru, namun seiring waktu, kita makin sadar bahwa COVID-19 perlahan menyebar ke seluruh dunia jauh lebih awal dari yang kita sadari.

Banyak juga kematian COVID-19 yang tercatat diakibatkan penyakit lain, bahkan tidak diketahui. Hal ini juga berlaku pada masa-masa awal pandemi ketika gejala-gejalanya belum sepenuhnya dipahami dan dokter belum terbiasa dengan karakteristik yang membuat kasus COVID menjadi fatal. Ini berarti, banyak penyakit COVID-19 yang tidak didiagnosis dan dilaporkan dengan semestinya.

Beberapa negara juga ada yang hanya melaporkan kematian COVID-19 yang terjadi di rumah sakit, atau mereka yang telah dites dan dinyatakan positif virus tersebut.

Sementara negara lainnya, kewalahan menghadapi kasus-kasus fatal sehingga tidak cukup sumber daya yang tersedia untuk menguji dan menentukan potensi kematian akibat pandemi. Ini belum ditambah kasus di daerah pedesaan yang luas, di mana orang dengan penyakit COVID-19 mungkin meninggal di rumah.

Mei lalu, WHO menduga bahwa angka kematian akibat COVID-19 yang sebenarnya mencapai tiga kali lebih banyak dari yang ditunjukkan oleh data tercatat. Mengutip laporan pada 31 Desember 2020, COVID tercatat telah membunuh 1,8 juta orang. WHO memperkirakan angka kematian sebenarnya mungkin 3 juta.

Lalu pada Mei, tercatat 3,4 juta orang telah meninggal dan WHO memperkirakan angka sebenarnya lebih mungkin sekitar 6-8 juta. Dengan catatan terbaru angka kematian secara global mencapai 5 juta, berarti sebenarnya ada sekitar 10 juta orang atau lebih telah meninggal karena COVID-19.



Simak Video "Eropa Diamuk Covid-19, WHO Perkirakan 2,2 Juta Nyawa Melayang"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)