Apa Makanan Pada 50 Tahun Lalu Lebih Enak Dibanding Sekarang?

Apa Makanan Pada 50 Tahun Lalu Lebih Enak Dibanding Sekarang?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 19 Okt 2021 15:35 WIB
apple isolated on wood background
Apakah Makanan Pada 50 Tahun Lalu Lebih Enak Dibandingkan Sekarang? Foto: iStock
Jakarta -

Apakah makanan yang dimakan oleh orangtua kita pada zamannya lebih enak dibandingkan yang dimakan sekarang oleh kita? Apakah ada perbedaan antara makanan 50 tahun lalu dibanding sekarang?

Pertanyaan ini cukup menarik untuk dibahas. Mengutip Pop Science, Claire Maldarelli seorang editor senior bidang sains mengatakan bahwa dalam beberapa hal, rasa cukup objektif. Saat ini ada lima jenis rasa yang dikenali-manis, asam, asin, pahit, dan umami.

Saat kita makan makanan, berbagai reseptor (atau dikenal sebagai taste buds) bereaksi terhadap rasa tersebut dan mengirim sinyal ke otak untuk memberi tahu kita apa yang terjadi. Tapi, dengan cara lain, rasa bisa sangat subjektif.

"Jenis kondisi kesehatan tertentu dapat merusak indera perasa Anda, seperti juga suasana hati Anda, bersama dengan banyak faktor lingkungan dan genetik lainnya. Misalnya, beberapa orang lebih sensitif terhadap rasa pahit, membuat makanan yang sangat pahit menjadi kurang enak," tulis Malderelli.

Rasa pun sering kali dipengaruhi karena genetika masing-masing orang. Beberapa orang yang lebih sensitif terhadap rasa pahit-sering dijuluki supertaster. Mereka memiliki gen bernama TAS2R38, yang meningkatkan persepsi mereka tentang kepahitan.

Selera juga berubah seiring bertambahnya usia. Yang paling signifikan, bukti menunjukkan bahwa jumlah indera perasa yang kita miliki berkurang seiring bertambahnya usia, dan indera pengecap yang bertahan menyusut ukurannya. Ini semua dapat memengaruhi kemampuan kita untuk mendeteksi lima rasa dan dapat mengubah persepsi kita tentang makanan.

"Cara kita memandang makanan bisa berubah bahkan dari hari ke hari," sambungnya.

Sebuah studi tahun 2015 di jurnal Appetite menganalisis efek mood pada berbagai selera dengan mengumpulkan data dari 550 orang yang menghadiri pertandingan tim hoki pria, yang mencakup 4 kemenangan, 3 kekalahan, dan 1 seri. Analisis menunjukkan bahwa emosi positif selama pertandingan dikaitkan dengan persepsi manis yang meningkat dan intensitas asam yang berkurang. Di sisi lain, emosi negatif dikaitkan dengan persepsi asam meningkat dan penurunan sensasi manis.

Rasa bisa dikatakan adalah hasil dari campuran yang sangat kompleks dari apa yang benar-benar terasa oleh lidah, apa yang dicium oleh hidung, tekstur, dan lainnya.

"Tapi satu hal yang kita ketahui bahwa cara kita memproduksi dan mengonsumsi makanan telah banyak berubah selama setengah abad terakhir, dan itu pasti dapat memengaruhi rasa," ucap Malderelli.

Contohnya adalah tomat. Tomat merupakan makanan yang sangat populer dan sering dianggap sebagai tanaman sayuran bernilai tertinggi di seluruh dunia. Rasa tomat ditentukan oleh gula dan asam, yang mengaktifkan reseptor rasa kita, dan satu set senyawa volatil, yang memicu reseptor bau kita. Kombinasi keduanya menciptakan rasa unik yang bisa membuat saus pasta terasa begitu segar.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan makanan telah menyadari pentingnya senyawa volatil tersebut khususnya dalam membuat tomat terasa enak. Saat ini, tomat dibiakkan untuk melakukan perjalanan jarak jauh tanpa memar dan disimpan di gudang tanpa menjadi buruk.

Tetapi, menurut sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Science, perubahan genetik ini telah menyebabkan penurunan signifikan pada senyawa volatil yang berkontribusi pada aroma tomat. Itu berarti kita mendapatkan produk yang kurang enak.

"Di samping tomat yang telah mendapat banyak perhatian, ada sejumlah tanaman lain yang telah dibiakkan dengan cara yang sama untuk mengakomodasi tuntutan pertanian modern, yang mana berarti mereka mungkin juga kehilangan sebagian rasa yang pernah mereka miliki," jelasnya.

Catatan khusus, rasa memiliki kualitas subjektif yang begitu kuat. Unsur nostalgia ketika mengonsumsi makanan tidak bisa diabaikan. Contoh paling simpel, ketika Anda mencoba membuat kreasi makanan dengan resep turun temurun dari Ibu Anda, Anda tidak bisa membuat makanan tersebut terasa sama dengan yang dibuat Ibu Anda -- walaupun sudah hampir 100% sama prosesnya.



Simak Video "Bobby Suryadi Ungkap Perbedaan DJ Zaman Dulu dan Sekarang"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/ask)