Taliban Kuasai Rp 14.000 Triliun Kekayaan Mineral Afghanistan, Termasuk Lithium

Taliban Kuasai Rp 14.000 Triliun Kekayaan Mineral Afghanistan, Termasuk Lithium

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 30 Agu 2021 11:05 WIB
Armored vehicles of the militia loyal to Ahmad Massoud, son of Ahmad Shah Massoud, are seen in Panjshir Valley, north of Kabul,  Afghanistan, Wednesday, Aug. 25, 2021. The Panjshir Valley is the last region not under Taliban control following their stunning blitz across Afghanistan. Local fighters held off the Soviets in the 1980s and the Taliban a decade later under the leadership of Ahmad Shah Massoud, a guerrilla fighter who attained near-mythic status before he was killed in a suicide bombing. (AP Photo/Jalaluddin Sekandar)
Foto: AP/Jalaluddin Sekandar
Jakarta -

Jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban juga berarti beralihnya kekuasaan atas harta karun mineral dan logam di negeri tersebut. Kekayaan mineral Afghanistan yang belum dimanfaatkan termasuk lithium, yang saat ini sedang mengalami permintaan tinggi untuk membuat chip semikonduktor.

Afghanistan mengandung logam dan mineral berharga dengan nilai yang ditaksir mencapai USD 1 triliun atau sekitar Rp 14.000 triliun, menurut US Gelological Survey (USGS) Januari lalu. Sumber daya mineral ini dianggap berpotensi transformatif bagi negara yang menguasainya.

Salah satu kandungan yang berharga itu adalah lithium. Bahan ini adalah komoditas global penting yang digunakan untuk pembuatan ponsel dan perangkat elektronik lain. Permintaan akan lithium mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip dari Fox Business, peningkatan tersebut kini makin meledak dengan situasi pandemi COVID-19 yang menyebabkan tingginya pembelian elektronik untuk menunjang kegiatan di rumah. Perangkat seperti smartphone, tablet, dan komputer misalnya, biasanya mengandung chip semikonduktor.

Laporan Jackie DeAngelis dari Fox Business menyebutkan, Taliban menduduki tanah yang kaya akan lithium, bahan logam yang sangat penting bagi kehidupan modern dan berdampak besar pada kelangkaan pasokan chip global.

Kekurangan bahan baku chip telah berdampak besar pada perusahaan manufaktur teknologi di seluruh dunia karena sejumlah peraturan yang harus dilaksanakan selama pandemi, termasuk menutup pabrik. Hal ini menyebabkan terbatasnya pasokan di tengah meningkatnya permintaan.

Kekurangan tersebut antara lain sangat mempengaruhi sektor otomotif sepanjang tahun ini. General Motors misalnya, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan mengurangi produksi truk di Amerika Utara karena kekurangan chip global. Selain itu ada Ford yang juga menarik kembali produksi mobilnya di beberapa pabrik. Sejumlah produsen smartphone pun merasakan efek serupa.

"Lithium sangat penting karena tak hanya digunakan dalam chip, tetapi juga dipakai dalam teknologi energi bersih yang meliputi baterai isi ulang," kata DeAngelis dalam laporannya.

Sementara itu, Henk Van Alphen, CEO perusahaan sumber energi mineral Wealth Minerals menyebutkan akan ada peningkatan permintaan lithium hingga 40 kali lipat dalam 20-25 tahun ke depan.

"Sebelum pandemi, produsen lithium teratas dunia adalah Australia, yang menyumbang 52,9% dari produksi global pada 2019, diikuti oleh Chili 21,5%, dan China 9,7% menurut Statistical Review of World Energy," beber Alphen.

Meski China berada di posisi paling buncit, negara ini "menambang paling banyak" karena fokusnya pada manufaktur semikonduktor dan produksi baterai.

Kembali berbicara tentang kekayaan mineral Afghanistan, negara dengan banyak pegunungan yang terkurung daratan ini juga mengandung cadangan tembaga, seng, bijih besi, kromit, merkuri, permata, termasuk rubi dan zamrud yang sangat besar dan belum tersentuh, serta emas dan perak.

Selain itu, banyak tambang yang ada di Afghanistan dikendalikan oleh panglima perang lokal yang meraup keuntungan. Taliban diyakini telah mendapatkan jutaan dolar dari penambangan ilegal.



Simak Video "Taliban Klaim Tangkap 600 Anggota Kelompok Ekstremis"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)