Dunia pendidikan dan industri game Jepang tengah diguncang kabar viral. Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun memutuskan untuk berhenti menempuh pendidikan formal demi mengejar mimpinya menjadi pemain profesional (pro player) esports. Keputusan berani ini memicu perdebatan panas di kalangan warganet global.
Bocah yang dikenal di dunia maya dengan nama Tarou ini bukanlah pemain baru. Sebagaimana dilaporkan oleh South China Morning Post (SCMP), Tarou sudah memegang kendali controller sejak usia tiga tahun.
Saat ini, ia bukan sekadar pemain biasa. Tarou adalah seorang YouTuber sukses dengan lebih dari 230.000 pengikut dan telah mengukir prestasi gemilang di skena kompetitif Fortnite.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan besar untuk tidak mendaftar ke sekolah menengah pertama (SMP) diambil setelah diskusi panjang selama satu tahun bersama keluarga dan pihak sekolah.
"Saya ingin menciptakan gaya hidup yang memungkinkan saya mengejar esports secara serius, sambil tetap memastikan waktu cukup untuk tidur, olahraga, dan belajar secara mandiri," ungkap Tarou.
Tarou di depan terminal komputernya. Dia mulai bermain game sejak usia tiga tahun Foto: 163.com via SCMP |
Orang tua Tarou memberikan dukungan penuh atas keputusan tersebut. Sang ayah menilai anaknya memiliki disiplin dan komitmen yang jarang dimiliki anak seusianya. Dalam wawancara dengan media lokal NEWS Post Seven, ia membandingkan latihan esports dengan olahraga konvensional.
"Atlet tradisional biasanya berlatih sekitar lima jam sehari. Namun di dunia gim kompetitif, latihan bisa mencapai 13 hingga 14 jam. Pemain top di server Asia rata-rata berlatih 10 sampai 12 jam setiap hari, dan mereka sudah melakukannya selama lima atau enam tahun," ujar sang ayah.
Menurutnya, kewajiban bersekolah justru berpotensi menghambat perkembangan Tarou sebagai atlet esports. Ia menilai kelelahan setelah pulang sekolah akan menyulitkan anaknya menjalani latihan intensif yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi.
Tarou menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari bermain game. Ayahnya mengatakan bahwa ia memiliki bakat alami dalam bidang ini. Foto: Via SCMP |
Ambisi besar Tarou adalah tampil di Fortnite World Cup, salah satu kompetisi esports paling prestisius di dunia. Ia menyadari persaingan yang sangat ketat di level internasional menuntut dedikasi ekstrem.
"Pemain top di turnamen ini terus meningkatkan kemampuan mereka. Jika saya ingin mengejar atau melampaui mereka, berlatih kurang dari 10 jam sehari tidak akan cukup," ungkap Tarou.
Namun, keputusan ini memicu perdebatan sengit di kalangan warganet Jepang. Banyak yang menilai langkah tersebut terlalu berisiko, mengingat usia Tarou yang masih sangat muda dan pentingnya pengalaman sosial di sekolah. Sejumlah komentar menyoroti masa sekolah menengah pertama sebagai fase penting dalam kehidupan anak.
"Sekolah menengah pertama adalah masa paling menyenangkan-berteman, ikut klub, dan mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Sayang sekali jika semua itu dikorbankan demi esports," tulis salah satu pengguna media sosial.
Di sisi lain, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan. Beberapa warganet menilai setiap anak memiliki jalannya sendiri dan tidak semua harus mengikuti pola pendidikan konvensional. "Saya mendukungmu. Yang terpenting adalah memberikan segalanya untuk apa yang kamu cintai," tulis seorang komentator.
Tarou bersama ayah dan ibunya, yang mendukung keputusannya untuk berhenti sekolah. Foto: Via SCMP |
Komentar lain bahkan menyinggung aspek finansial. Menurutnya, pendapatan Tarou dari dunia digital dan kompetisi kemungkinan sudah melampaui penghasilan banyak orang dewasa yang menempuh jalur pendidikan dan pekerjaan konvensional.
Kasus Tarou pun kembali membuka diskusi global tentang masa depan pendidikan, fleksibilitas sistem sekolah, serta posisi esports sebagai profesi serius. Di tengah pesatnya industri gim dan esports dunia, pilihan ekstrem seperti ini diprediksi akan semakin sering muncul, meski tetap menyisakan pro dan kontra yang tajam.
(afr/afr)


