Opium dan Heroin Afghanistan, Sumber Uang Taliban

Opium dan Heroin Afghanistan, Sumber Uang Taliban

Tim - detikInet
Kamis, 19 Agu 2021 17:05 WIB
Bunga poppy, bahan baku opium yang banyak tumbuh di Afghanistan
Bunga poppy, bahan baku opium yang banyak tumbuh di Afghanistan. Foto: Anne Chaon/AFP
Jakarta -

Kembalinya kekuasaan Taliban atas Afghanistan memungkinkan kelompok tersebut tak hanya menguasai politik tetapi juga hasil tanah Afghanistan yang menggiurkan, yakni opium dan heroin.

Amerika Serikat (AS) menghabiskan lebih dari USD 8 miliar selama 15 tahun dalam upaya memberantas perdagangan opium dan heroin Afghanistan. Segala cara mereka lakukan dari pemberantasan opium, serangan udara, hingga penggerebekan di laboratorium yang dicurigai. Namun strategi itu gagal.

Ketika AS mengakhiri perang terpanjangnya, Afghanistan tetap menjadi pemasok opium ilegal terbesar di dunia dan tampaknya akan tetap demikian setelah Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul.

Kehancuran yang meluas selama perang, jutaan orang terusir dari rumahnya, pemotongan bantuan asing, dan berbagai kerugian memicu krisis ekonomi dan kemanusiaan di Afghanistan. Hal ini banyak warga Afghanistan yang miskin bergantung pada perdagangan narkotika untuk bertahan hidup.

Ketergantungan itu mengancam akan membawa lebih banyak ketidakstabilan ketika Taliban, kelompok bersenjata lainnya, panglima perang etnis, dan pejabat publik yang korup bersaing mendapatkan keuntungan dan kekuasaan atas hasil narkoba di tanah tersebut.

Beberapa pejabat PBB dan AS khawatir jatuhnya Afghanistan ke dalam kekacauan menciptakan kondisi untuk produksi opium ilegal yang lebih tinggi dan berpotensi memberi keuntungan bagi Taliban.

"Taliban mengandalkan perdagangan opium Afghanistan sebagai salah satu sumber pendapatan utama mereka. Lebih banyak produksi, membuat harga obat-obatan menjadi lebih murah dan lebih menarik, dan karenanya aksesibilitasnya pun lebih luas," kata Cesar Gudes, UN Office of Drugs and Crime (UNODC) Kabul seperti dikutip dari Reuters, Kamis (19/8/2021).

Produksi berlimpah

Petani Afghanistan mempertimbangkan banyak sekali faktor dalam memutuskan berapa banyak opium yang akan ditanam. Ini berkisar dari curah hujan tahunan dan harga gandum, tanaman alternatif utama untuk opium, hingga harga opium, dan heroin dunia.

Namun, bahkan selama kekeringan dan kekurangan gandum, ketika harga gandum meroket, para petani Afghanistan telah menanam opium dan mengekstrak adonan opium yang disuling menjadi morfin dan heroin. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak yang memasang panel surya buatan China untuk memberi daya pada sumur air dalam guna memproduksi obat-obatan ilegal.

Menurut UNODC, produksi opium di Afghanistan merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Bahkan ketika pandemi COVID-19 berkecamuk, penanaman opium melonjak 37% tahun lalu.

"Narkotika gelap adalah 'industri terbesar' di negara itu kecuali untuk perang," kata Barnett Rubin, mantan penasihat Departemen Luar Negeri di Afghanistan.

UNODC melaporkan, perkiraan produksi opium tertinggi sepanjang masa ditetapkan pada tahun 2017 sebesar 9.900 ton atau senilai USD 1,4 miliar dalam penjualan oleh petani atau sekitar 7% dari PDB Afghanistan.

Ketika nilai obat-obatan untuk ekspor dan konsumsi lokal diperhitungkan, bersama dengan bahan kimia prekursor yang diimpor, UNODC memperkirakan keseluruhan ekonomi opiat ilegal negara itu di tahun tersebut sebanyak USD 6,6 miliar.

Para ahli menyebutkan, Taliban dan para pejabat publik korup Afghanistan telah lama terlibat dalam perdagangan narkotika. PBB berpendapat bahwa Taliban terlibat dalam semua aspek, mulai dari penanaman opium, ekstraksi opium, dan perdagangan hingga menuntut 'pajak' dari petani dan laboratorium obat-obatan hingga membebankan biaya penyelundup untuk pengiriman menuju Afrika, Eropa, Kanada, Rusia, Timur Tengah, dan bagian lain di Asia.

Pejabat PBB melaporkan bahwa Taliban kemungkinan memperoleh lebih dari USD 400 juta antara 2018 dan 2019 dari perdagangan narkoba. Sedangkan laporan Special Inspector General for Afghanistan (SIGAR) AS Mei 2021 mengutip seorang pejabat AS, memperkirakan bahwa Taliban memperoleh hingga 60% dari pendapatan tahunan mereka dari narkotika gelap.



Simak Video "Tak Ada Pilihan, Petani di Afghanistan Terpaksa Tanam Opium"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)