Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Banjir Bandang Berulang, Tanda Ekosistem Hutan Mengalami Keruntuhan Fungsi

Banjir Bandang Berulang, Tanda Ekosistem Hutan Mengalami Keruntuhan Fungsi


Agus Tri Haryanto - detikInet

Deforestasi, hutan gundul.
Foto: Renaldo Matamoro/Unsplash
Jakarta -

Banjir bandang yang terus berulang di berbagai wilayah Indonesia dinilai tidak lagi bisa dipandang sebagai semata-mata dampak hujan ekstrem atau berkurangnya tutupan pohon. Fenomena ini, menurut peneliti, merupakan peringatan serius bahwa ekosistem hutan sebagai penyangga kehidupan telah berada pada kondisi kritis.

Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Hendra Gunawan, menegaskan bahwa banjir bandang saat ini harus dibaca sebagai alarm ekologis atau tanda terjadinya keruntuhan fungsi ekosistem (ecosystem collapse).

"Banjir bandang bukan lagi kejadian alam biasa, melainkan sinyal bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam telah berada pada kondisi kritis," jelas Hendra dikutip dari website BRIN, Sabtu (14/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, hujan lebat di wilayah tropis sejatinya merupakan fenomena alam yang wajar. Namun, ketika hutan kehilangan kemampuan mengatur tata air, menstabilkan tanah, serta meredam energi hujan, maka curah hujan singkat dapat berubah menjadi aliran deras yang membawa lumpur, kayu, dan batu, sekaligus menghancurkan permukiman dan infrastruktur.

ADVERTISEMENT

Deforestasi memang menjadi salah satu faktor penting. Alih fungsi lahan, pertambangan, pembalakan, hingga ekspansi pertanian dan perkebunan telah mengubah struktur lanskap hutan secara drastis. Meski demikian, menurut Hendra, deforestasi hanya menjelaskan apa yang hilang, bukan sepenuhnya menjawab mengapa bencana menjadi semakin cepat, ekstrem, dan destruktif.

Ia menekankan bahwa kerusakan yang terjadi bersifat sistemik. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sistem kompleks yang melibatkan tanah, air, tumbuhan, satwa, mikroorganisme, serta iklim mikro dalam jaringan interaksi yang saling bergantung. Ketika tekanan berlangsung terus-menerus, daya lenting (resiliensi) sistem melemah hingga akhirnya runtuh.

Pada tahap tersebut, fungsi-fungsi ekologis tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

"Air hujan tidak lagi terserap dan tersimpan, melainkan langsung mengalir ke hilir, stabilitas lereng melemah akibat rusaknya sistem perakaran, pengendalian iklim mikro terganggu, dan habitat keanekaragaman hayati menyusut drastis," jelas Hendra.

Proses Menuju Keruntuhan Ekosistem

Hendra memaparkan bahwa keruntuhan ekosistem hutan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses spasial bertahap yang sering luput dari perhatian publik maupun pengambil kebijakan.

"Perubahan lanskap hutan itu gradual. Awalnya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terakumulasi," ujarnya.

Ada lima proses utama yang mengubah matriks lanskap hutan. Pertama, fragmentasi, ketika hutan yang sebelumnya utuh terpecah menjadi fragmen-fragmen kecil dan terisolasi. Kedua, dissection, yakni ketika lanskap hutan terbelah oleh jalan raya atau infrastruktur linear lainnya.

"Begitu ada jalan yang membelah, secara ekologis hutan itu sudah tidak lagi utuh. Ia terpisah menjadi dua bagian yang rentan terhadap gangguan antropogenik, efek tepi dan isolasi populasi satwa tertentu," jelasnya.

Ketiga, perforasi, ditandai dengan munculnya "lubang-lubang" di dalam bentang hutan akibat pembukaan lahan. Keempat, shrinkage, yaitu penyusutan bertahap fragmen hutan yang tersisa. Pada fase paling lanjut terjadi attrition, ketika fragmen-fragmen kecil tersebut hilang sepenuhnya akibat degradasi berkelanjutan.

"Proses-proses ini bisa terjadi bersamaan atau bergantian. Karena berjalan perlahan, sering kali kita tidak menyadari bahwa sistemnya sedang menuju titik kritis," tegas Hendra.

Ia juga menyoroti tanda-tanda awal degradasi yang dapat dikenali dari terganggunya spesies kunci. Di Sumatera, misalnya, meningkatnya konflik Harimau Sumatera bukan sekadar konflik satwa-manusia.

"Ketika harimau masuk ke permukiman atau melintasi jalan raya, itu bukan hanya soal konflik. Itu indikator bahwa habitatnya sudah tidak lagi utuh dan sehat," ujarnya.

Menanam Pohon Tak Selalu Memulihkan

Hendra mengingatkan adanya persepsi keliru yang memandang hutan hanya sebagai kumpulan pohon. Cara pandang ini kerap melahirkan solusi instan berupa penanaman massal tanpa perencanaan ekologis berbasis lanskap.

"Menanam pohon tidak otomatis memulihkan ekosistem," tegasnya.

Restorasi sejati, menurut Hendra, harus memulihkan fungsi dan proses ekologis, bukan sekadar mengganti tutupan vegetasi. Tanpa pendekatan ilmiah berbasis ekosistem, rehabilitasi berisiko menghasilkan "hutan semu" yang rapuh dan miskin keanekaragaman hayati.

Perlu Pergeseran Paradigma Pembangunan

Dalam kesempatan yang sama, Hendra menegaskan bahwa menghentikan eksploitasi hutan saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan.

"Penghentian eksploitasi itu penting, tetapi tidak cukup. Ekosistem yang sudah rusak perlu dipulihkan dengan pendekatan terpadu lintas sektor dan berbasis bentang alam," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan antar sektor, integrasi antara konservasi, restorasi, dan pembangunan, serta kolaborasi nyata antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.

Lebih jauh, Hendra mengingatkan bahwa selama hutan dipahami hanya sebagai sumber daya ekonomi, siklus kerusakan dan bencana akan terus berulang.

Menurutnya, banjir bandang yang terjadi berulang kali merupakan pesan keras dari alam. Jika cara pandang terhadap hutan tidak berubah, maka bencana ekologis akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebaliknya, apabila hutan ditempatkan sebagai sistem penyangga kehidupan, arah pembangunan dapat disusun untuk menjaga resiliensi ekosistem sekaligus memastikan keberlanjutan kesejahteraan manusia.

"Sudah saatnya kita belajar dari alam, sebelum alarm ekologis ini berubah menjadi keruntuhan yang tidak lagi dapat dipulihkan," pungkasnya.






(agt/agt)






Hide Ads