Insiden dugaan tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida ke Sungai Cisadane menjadi alarm serius bagi lingkungan dan kesehatan publik. Dampak pencemaran dilaporkan meluas hingga radius 22,5 kilometer, memengaruhi wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Kota Tangerang Selatan.
Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc., menegaskan bahwa insiden ini merupakan krisis ekologis yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.
"Sungai Cisadane adalah arteri vital penyedia air baku, irigasi, sekaligus penopang ekosistem perairan di wilayah padat penduduk dan industri. Insiden kali ini bersifat akut karena melibatkan volume besar zat beracun yang masuk secara tiba-tiba," ujarnya melalui keterangan tertulis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ignasius, penyebaran pestisida hingga puluhan kilometer terjadi akibat mekanisme hidrodinamika sungai. Saat beban pencemaran dalam jumlah besar masuk secara mendadak, kapasitas alami sungai untuk melakukan dilusi dan asimilasi terlampaui.
Kontaminan kemudian terbawa arus melalui proses dispersi dan difusi mengikuti debit aliran sungai. Jika pestisida memiliki kelarutan tinggi dan relatif stabil dalam lingkungan perairan, konsentrasinya bisa bertahan lama dan menyebar secara homogen sepanjang koridor sungai.
Kondisi ini berpotensi berdampak pada wilayah hilir, termasuk titik pengambilan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Peneliti BRIN sedang melakukan survei di Sungai Cisadane Foto: BRIN |
Bahaya Konsumsi Ikan dari Cisadane
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah risiko bioakumulasi dan biomagnifikasi. Residu pestisida dapat terakumulasi dalam jaringan organisme air seperti ikan, lalu berpindah ke predator tingkat lebih tinggi-termasuk manusia yang mengonsumsinya.
"Selain toksisitas akut yang bisa menyebabkan kematian massal biota seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton, paparan kronis juga berbahaya. Konsumsi ikan dari wilayah terdampak berisiko membawa residu pestisida ke dalam tubuh manusia," jelasnya.
Jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, dapat memicu gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung dosis paparan. Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi menyebabkan gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan meningkatkan risiko karsinogenik.
Ignasius mengimbau masyarakat untuk sementara waktu tidak mengonsumsi ikan dari wilayah terdampak hingga ada pernyataan resmi bahwa kondisi sudah aman.
Rekomendasi Mitigasi Darurat
|
Puluhan ikan ditemukan mati mengapung di Sungai Cisadane, Tangerang, Rabu (11/2/2026). Pencemaran diduga berasal dari limpasan air bekas kebakaran gudang pabrik. Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
|
Artinya, meskipun air tampak kembali jernih, ancaman toksik masih bisa tersimpan dan kembali terlepas ke kolom air dalam kondisi tertentu, seperti perubahan arus atau aktivitas pengerukan.
Untuk penanganan jangka pendek, BRIN merekomendasikan sejumlah langkah darurat, antara lain:
- Penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak
- Peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time
- Edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi
- Upaya netralisasi atau remediasi in-situ jika sumber pencemaran masih teridentifikasi
Sebagai lembaga riset nasional, BRIN berperan dalam mengidentifikasi jenis dan konsentrasi pestisida, memodelkan penyebaran kontaminan, serta memberikan rekomendasi teknologi pengolahan air baku yang efektif bagi PDAM terdampak.
Dalam jangka panjang, penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3) menjadi krusial. Selain itu, diperlukan pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online serta diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan saat krisis.
Restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian juga dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis," tegas Ignasius.
(afr/afr)



