China Bakal Bisa Panen Matahari Langsung dari Luar Angkasa

China Bakal Bisa Panen Matahari Langsung dari Luar Angkasa

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 19 Agu 2021 06:17 WIB
Matahari
Foto: Universe Today
Jakarta -

China membangun fasilitas untuk "memanen" cahaya Matahari yang memantul ke Bumi menjadi sumber energi. Fasilitas yang dibangun di distrik Bishan ini dijadwalkan selesai pada akhir tahun 2021.

Pemimpin proyek Zhong Yuanchang, profesor di Chongqing University's School of Microelectronics and Communication Engineering menyebutkan, infrastruktur yang disebut Pembangkit Listrik Tenaga Surya Luar Angkasa Bishan, atau Pangkalan Bishan tersebut sempat tertunda. Proyek ini pernah dihentikan pada 2010 karena tekanan politik dan campur tangan dari sisi keuangan. Namun pada Juni lalu, proyek ini diputuskan untuk dilanjutkan.

Nantinya, akan ada stasiun di Bumi yang dirancang untuk mengumpulkan energi Matahari secara nirkabel dari pembangkit listrik panel surya di orbit Bumi. Keuntungan memanen tenaga surya yang dikumpulkan langsung dari luar angkasa adalah tidak terpengaruh kondisi cuaca dan waktu malam.

Dikutip dari China Science Daily, Pangkalan Bishan direncanakan menjadi fasilitas pembangkit listrik skala besar pertama di China untuk pengujian, pengintegrasian pengamatan, dan pengembangan cara baru untuk memanfaatkan sumber energi dari cahaya Matahari.

Namun untuk saat ini, para peneliti sedang membangun pembangkit listrik uji skala kecil untuk digunakan pada tahun 2030. Untuk melakukan itu, tim harus menguji transmisi dari ketinggian rendah, sebelum pindah ke ketinggian yang menggunakan transmisi daya tegangan ultra-tinggi, hingga akhirnya menggunakan transmisi nirkabel dari orbit. China bermimpi di tahun 2050, mereka bisa membangun pembangkit listrik tenaga surya ruang komersial berskala gigawatt.

Zhong mengatakan, untuk saat ini tim peneliti menggunakan balon udara di ketinggian sebagai platform terapung untuk melakukan uji transmisi daya gelombang mikro di ketinggian 300 meter.

Konsep panel surya yang memancarkan daya secara nirkabel kembali ke Bumi bukan hal baru. Pada tahun 1941, Isaac Asimov menggambarkan teknologi tersebut dalam cerita pendek fiksi ilmiahnya berjudul "Reason", dan pada awal 1970-an Peter Glaser menerima paten untuk desain perangkat yang mengirimkan daya dari satelit ke Bumi menggunakan gelombang mikro.

NASA telah mengeksplorasi konsep tersebut beberapa kali, dan badan antariksa Jepang JAXA mulai mengembangkan sistem tenaga surya luar angkasa pada tahun 1998.

Laboratorium penelitian milik Angkatan Laut AS juga sedang melakukan tes untuk mengeksplorasi teknologi ini, dan Caltech sedang mencoba menggunakan dana dari sumbangan miliarder anonim untuk mengembangkan teknologi serupa.

Tak ketinggalan, UK Space Energy Initiative telah menugaskan penelitian menyeluruh tentang energi surya, dan perusahaan swasta Inggris bernama International Electric berjanji akan memancarkan daya Matahari langsung ke perangkat statis dan seluler menggunakan susunan bertahap.



Simak Video "China Sukses Luncurkan 3 Satelit Baru ke Orbit"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)