Ilmuwan Temukan Vaksin Baru Wabah Black Death untuk Manusia

Ilmuwan Temukan Vaksin Baru Wabah Black Death untuk Manusia

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 30 Jul 2021 16:03 WIB
bakteri pes
Bakteri pes (kuning) pada sistem pencernaan kutu tikus (ungu). Foto: NIAID
Jakarta -

Universitas Oxford baru saja meluncurkan uji coba Fase 1 untuk menguji vaksin baru terhadap musuh lama manusia, wabah Pes. Penemuan vaksin ini menggunakan teknologi yang membantu kita melawan COVID-19 saat ini.

Penyakit yang dalam sejarah disebut sebagai Black Death dan memusnahkan setengah dari populasi Eropa pada tahun 1300-an, hingga saat ini masih ada. Wabah ini masih menyerang sebagian Afrika dan kadang-kadang menyebar di tempat lain.

Disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, wabah ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui kutu, dan kemudian menyebar melalui cairan tubuh yang terkontaminasi atau bahan lain.

Jika tidak diobati, penyakit mengerikan ini berakibat fatal dengan cepat, dengan tingkat kematian 100% tergantung pada bagaimana penyakit itu menginfeksi tubuh.

Penyakit ini dimulai dengan gejala seperti flu berupa demam, kedinginan, nyeri, dan kelelahan. Dalam bentuk yang paling umum, gejala berkembang menjadi kelenjar getah bening yang meradang dan nyeri yang disebut bubo. Dari sinilah istilah Pes berasal. Jika bakteri berkembang biak di aliran darah, Pes akan menyebabkan septikemia yang dapat mencakup muntah, diare, pendarahan, dan gangren.

Bentuk gejala yang paling tidak umum adalah pneumonia, yaitu ketika Y. pestis menyusup ke paru-paru. Ini adalah bentuk infeksi yang paling berbahaya, yang dapat berkembang menjadi gagal napas yang cepat dalam waktu dua hari setelah infeksi.

Jumlah kasus wabah Pes telah meningkat di 25 negara sejak 1990-an. Secara global, tercatat ada 3.248 kasus, termasuk 584 kematian berdasarkan laporan antara tahun 2010 hingga 2015. Wabah yang terjadi pada 2017 di Madagaskar, menyebabkan 2.119 kasus yang dikonfirmasi dan diduga, termasuk 171 kematian.

Cara paling efektif untuk mengobati wabah adalah melalui penggunaan antibiotik, jadi diagnosis cepat sangat penting, terutama untuk pneumonia. Sayangnya, ini tidak selalu memungkinkan.

"Meskipun antibiotik dapat digunakan untuk mengobati wabah, banyak daerah yang mengalami wabah adalah lokasi yang sangat terpencil. Di area seperti itu, vaksin yang efektif dapat menawarkan strategi pencegahan yang berhasil untuk memerangi penyakit ini," kata ahli vaksin Christine Rollier dari Universitas Oxford dikutip dari Science Alert.

Memanfaatkan teknologi lawan COVID-19

Oxford Vaccine Group mengembangkan vaksin intramuskular menggunakan virus flu yang dimodifikasi (adenovirus) yang tidak dapat berkembang biak pada manusia, mirip dengan teknologi yang digunakan dalam suntikan AstraZeneca untuk COVID-19.

Virus akan digunakan untuk mengirimkan kode gen untuk protein dari Y. pestis yang penting untuk kemampuannya menginfeksi tubuh, untuk mengajari sistem kekebalan kita mengenalinya sebagai penyerbu. Metode ini digunakan oleh sejumlah vaksin COVID-19 yang menargetkan lonjakan proteinnya.

Selama ini, vaksin wabah Black Death hanya diuji pada hewan di laboratorium, namun hasilnya menjanjikan. Karenanya, tim ilmuwan saat ini sedang merekrut relawan yang bersedia ikut serta dalam pengujian ini.

Seperti halnya vaksin apa pun, efek sampingnya dapat berkisar dari nyeri di area suntikan hingga reaksi alergi parah namun sangat jarang terjadi. Tentunya semua peserta uji klinis akan dipantau secara ketat terutama selama minggu pertama setelah vaksinasi.



Simak Video "2,1 Juta Warga Kenya Dilanda Bencana Kelaparan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)