Ini Biang Kerok Sepertiga Kematian di Bumi Terkait Suhu Panas

Ini Biang Kerok Sepertiga Kematian di Bumi Terkait Suhu Panas

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 02 Jun 2021 13:42 WIB
Jakarta -

Para peneliti memperingatkan peningkatan jumlah kematian saat suhu global naik. Mereka menyebut, lebih dari sepertiga kematian terkait panas di musim panas disebabkan oleh pemanasan global.

Ilmuwan meneliti bagaimana perubahan iklim memengaruhi kesehatan manusia. Mereka memproyeksikan sebagian besar risiko gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, dan peristiwa ekstrem lainnya diperburuk oleh perubahan iklim.

Seberapa jauh situasi ini bisa menjadi lebih buruk, bergantung pada seberapa cepat manusia bisa mengendalikan emisi karbon. Para ahli mencatat emisi karbon di Bumi mencapai rekor tertingginya pada 2019. Emisi karbon sempat menurun tajam selama situasi pandemi COVID-19.

Namun seperti dikutip dari AFP, Rabu (2/6/2021) salah satu studi terbaru yang dilakukan tim peneliti internasional yang terdiri dari 70 ahli memperlihatkan adanya konsekuensi kesehatan.

Penemuan yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature Climate Change itu sangat mencolok. Data dari 732 lokasi di 43 negara yang tersebar di setiap benua yang dihuni mengungkapkan bahwa rata-rata 37% dari semua kematian terkait panas terkait langsung dengan pemanasan global.

"Perubahan iklim bukanlah sesuatu yang masih jauh di depan. Kita sudah bisa melihat dan mengukur dampak negatifnya pada kesehatan, selain itu dampak terhadap lingkungan dan ekologi pun sudah diketahui," kata salah satu peneliti Antonio Gasparrini, profesor biostatistik dan epidemiologi di London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Para penulis mengatakan, jika diperluas ke seluruh dunia, metode mereka akan menambahkan hingga lebih dari 100.000 kematian terkait panas per tahun. Angka itu bisa jadi merupakan perkiraan yang terlalu rendah karena dua wilayah yang sebagian besar datanya hilang - Asia Selatan dan Afrika tengah - diketahui sangat rentan terhadap kematian akibat cuaca panas yang ekstrem.

Namun setidaknya, angka 100.000 itu konsisten dengan analisis terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluations (IHME). Mereka menghitung lebih dari 300.000 kematian terkait panas di seluruh dunia dari semua penyebab pada tahun 2019.

Jika lebih dari sepertiga dari kematian tersebut disebabkan oleh perubahan iklim, seperti yang dilaporkan oleh tim Gasparrini, total kematian global memang akan lebih dari 100.000 kasus.

India menyumbang lebih dari sepertiga dari total penghitungan IHME, dan empat dari lima negara yang paling parah terkena dampaknya berada di Asia Selatan dan Afrika Tengah.

Data kematian terkait panas yang disebabkan oleh pemanasan global dalam penelitian baru ini sangat bervariasi di antara satu negara dengan negara lain.

Di Amerika Serikat, Australia, Prancis, Inggris, dan Spanyol misalnya, persentase kematian terkait panas secara kasar sejalan dengan rata-rata di semua negara yaitu antara 35%-39%. Untuk Meksiko, Afrika Selatan, Thailand, Vietnam, dan Cile, angkanya naik di atas 40%.

Sementara enam negara lain yakni Brasil, Peru, Kolombia, Filipina, Kuwait, dan Guatemala, persentase kematian terkait panas yang disebabkan oleh perubahan iklim mencapai 60% atau lebih.

Dalam penelitian ini, para ahli menggunakan metodologi kompleks yang menggabungkan data kesehatan dan catatan suhu dari 1991 hingga 2018, ditambah dengan pemodelan iklim.

Metodologi tersebut memungkinkan para peneliti membandingkan jumlah aktual kematian terkait panas dengan berapa banyak kematian yang lebih sedikit tanpa pemanasan buatan manusia.

(rns/fay)