Kelakuan Manusia di Bumi Bikin Atmosfer Menipis

Kelakuan Manusia di Bumi Bikin Atmosfer Menipis

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 18 Mei 2021 08:45 WIB
Foto Bumi dari antariksa
Foto: NASA
Jakarta -

Bumi dikelilingi lapisan gas kompleks yang membentuk atmosfer. Mereka melindungi dan memelihara semua kehidupan di planet ini. Namun perilaku manusia yang tak ramah lingkungan berkontribusi menyusutkan seluruh lapisan tersebut.

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa ketebalan stratosfer telah menyusut 400 meter sejak 1980. Meski penurunan ketebalan stratosfer sudah pernah dilaporkan sebelumnya, penelitian ini adalah pemeriksaan yang pertama kalinya dalam skala global.

"Mengejutkan. Ini membuktikan kita mengotak-atik atmosfer hingga 60 kilometer," kata salah satu tim peneliti, fisikawan dari University of Vigo Earth Juan AƱel seperti dikutip dari Science Alert.

Disebutkan olehnya, meliputi langit sekitar 20 hingga 60 kilometer di atas kita, stratosfer menyelimuti lapisan atmosfer yang kita hirup (troposfer). Beberapa awan menjelajah setinggi ini dan sesekali ada burung. Stratosfer menahan lapisan ozon yang sangat penting yang telah rusak melalui emisi CFC.

Upaya global kolektif sejauh ini cukup berhasil membendung penipisan ozon yang menyebabkan lubang ozon di atas Antartika. Namun emisi gas rumah kaca Bumi telah mengubah seluruh stratosfer.

Fisikawan atmosfer dari Charl's University Petr Pisoft dan rekannya menggunakan pengamatan satelit sejak 1980-an yang dikombinasikan dengan model iklim untuk menentukan bahwa kenaikan CO2 menyebabkan stratosfer berkontraksi.

"Kami menunjukkan bahwa kontraksi stratosfer bukan hanya respons terhadap pendinginan, karena perubahan pada tekanan tropopause dan stratopause pun berkontribusi," tulis tim peneliti dalam makalah mereka.

Mereka menjelaskan, pemanasan akibat gas rumah kaca di troposfer menyebabkannya mengembang dan menekan stratosfer di atasnya. Selain itu, penambahan CO2 ke stratosfer itu sendiri menyebabkan kombinasi gas-gasnya menjadi dingin dan berkumpul lebih dekat (efek sebaliknya pada troposfer) dan menyusutkan seluruh lapisan.

"Dalam skenario perubahan iklim yang masuk akal , stratosfer planet kita bisa kehilangan 4% perluasan vertikalnya (1,3 km) dari 1980 hingga 2080," kata Anel.

Ozon dan oksigen molekuler di stratosfer menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet dari Matahari, sehingga melindungi kita semua dari sinar Matahari yang paling berbahaya. Di sini, suhu udara meningkat dengan ketinggian (kebalikan dari troposfer di bawahnya), yang membuat lapisan gas ini stabil.

Pesawat bisa mundur di kondisi ini ketika cuaca menjadi buruk di wilayah bawah. Tetapi stabilitas ini juga berarti bahwa bahan kimia apa pun yang mencapai stratosfer cenderung bertahan.

Jika perubahan yang diprediksi membuahkan hasil, skalanya menjadi cukup besar untuk berpotensi memengaruhi satelit, GPS, dan komunikasi radio, Pisoft dan tim memperingatkan.

Ini juga dapat mengubah distribusi ketinggian molekul penyerap dan pemancar sehingga mengubah bagaimana stratosfer menyerap radiasi dan dinamika keseluruhannya. Namun, masih banyak yang harus dipecahkan sebelum kita dapat memahami jika dan bagaimana dampak ini akan terjadi.

Ini hanyalah penemuan terbaru dari dampak global yang mencengangkan dari krisis iklim terhadap Bumi. Penemuan lain baru-baru ini menunjukkan terjadinya redistribusi berat akibat pencairan gletser telah menggeser poros Bumi.

"Sungguh luar biasa bahwa kami masih menemukan aspek-aspek baru perubahan iklim setelah penelitian selama beberapa dekade," kata ilmuwan atmosfer University of Reading Paul Williams yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

"Ini membuat saya bertanya-tanya perubahan apa lagi yang ditimbulkan emisi kita pada atmosfer yang belum kita temukan," tutupnya.



Simak Video "Indonesia Berperan Penting dalam Pemantauan Cuaca dan Iklim Global"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)