Roket Raksasa China Akan Jatuh Bebas ke Bumi Akhir Pekan Ini

Roket Raksasa China Akan Jatuh Bebas ke Bumi Akhir Pekan Ini

Virgina Maulita Putri - detikInet
Sabtu, 08 Mei 2021 09:15 WIB
In this photo released by Chinas Xinhua News Agency, a Long March 5B rocket carrying a module for a Chinese space station lifts off from the Wenchang Spacecraft Launch Site in Wenchang in southern Chinas Hainan Province, Thursday, April 29, 2021. China has launched the core module on Thursday for its first permanent space station that will host astronauts long-term. (Ju Zhenhua/Xinhua via AP)
Roket Raksasa China Akan Jatuh Bebas ke Bumi Akhir Pekan Ini Foto: Ju Zhenhua/Xinhua via AP
Jakarta -

Puing-puing dari roket raksasa China akan jatuh tak terkendali akhir pekan ini. Tapi bagi penduduk Bumi di manapun berada, hal ini tidak perlu dikhawatirkan.

Roket Long March 5B milik China akan memasuki atmosfer Bumi pada akhir pekan ini. Roket setinggi 30 meter dan berat 22 ton ini digunakan untuk mengirimkan modul inti stasiun luar angkasa China pekan lalu.

Meski ukurannya sangat besar, analis memperkirakan serpihan roket ini akan jatuh di lautan sehingga tidak membahayakan penduduk Bumi. Analis mengatakan bukan berarti tidak ada ancaman sama sekali untuk publik, tapi risikonya jauh lebih kecil jika jatuh ke laut.

"Sebagian besar Bumi diselimuti oleh air, jadi hampir tidak ada risiko," kata pendiri Space Safety Coalition Dan Oltrogge, seperti dikutip dari The Verge, Jumat (7/5/2021).

"Kemungkinan ada orang yang dihantam cukup rendah. Sangat rendah, sebut saja begitu," sambungnya.

US Space Command yang bertugas melacak 27.000 objek buatan manusia di orbit terus memantau lokasi roket Long March 5B. Tapi titik masuknya ke atmosfer Bumi tidak bisa dipastikan sampai beberapa jam sebelum reentry. Roket ini diperkirakan akan memasuki atmosfer Bumi pada Sabtu, 8 Mei.

Sebagian besar inti roket biasanya tidak memasuki orbit. Biasanya bagian ini akan langsung jatuh ke laut setelah peluncuran dan setelah mendorong bagian roket yang lebih kecil ke orbit.

Tapi China merancang roket Long March 5B dengan desain unik yang membuat inti pertamanya ikut masuk ke orbit bagian bawah Bumi untuk mengirim muatannya. Dalam kasus ini, muatan yang dibawa roket itu adalah Tianhe, modul utama calon stasiun luar angkasa pertama milik China.

Roket ini telah mati dan tidak bisa dikontrol atau dimanuver. Biasanya roket bisa jatuh terkendali dengan dikontrol oleh tim peluncuran, misalnya dengan menggunakan mesin roket atau mesin pendorong kecil untuk mengarahkannya ke area khusus yang jauh dari area padat penduduk.

Saat ini roket tersebut mengorbit Bumi secara diagonal dengan kemiringan 41,5 derajat dari ekuator. Artinya, roket ini melewati sebagian besar Bumi, sejauh Chile dan Selandia Baru di bagian selatan dan sejauh New York dan Madrid di bagian utara.

Tapi sebagian besar area yang dilewati tersebut merupakan perairan internasional yang mengindikasikan kecil kemungkinan roket ini akan jatuh di area padat penduduk.

Sebagian besar roket akan terbakar saat memasuki atmosfer. Puing-puing yang tidak terbakar akan tetap utuh dan jatuh bebas ke Bumi.

Ini bukan pertama kalinya roket China jatuh bebas dari luar angkasa. Dalam peluncuran roket Long March 5B lainnya di tahun 2020, puing-puingnya juga jatuh tak terkendali dan menghantam sebuah desa di Pantai Gading.

Jika jatuhnya roket ini sampai mengakibatkan kerusakan di Bumi, maka pemerintah Amerika Serikat akan meminta China untuk bertanggung jawab.

"China, seperti Amerika Serikat, adalah anggota Liability Convention dan dengan demikian, akan bertanggung jawab untuk membayar kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh objek antariksa miliknya di permukaan Bumi atau di pesawat yang sedang terbang," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS.

"Kami meminya semua negara untuk beroperasi secara transparan dan bertanggung jawab dalam melakukan aktivitas antariksa mereka," imbuhnya.



Simak Video "Rekaman Roket China Long march 5B Sebelum Jatuh ke bumi"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/afr)