Masker Sekali Pakai Mengandung Polutan Berbahaya

Masker Sekali Pakai Mengandung Polutan Berbahaya

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 06 Mei 2021 08:45 WIB
Ilustrasi sampah masker di pantai
Foto: Getty Images/iStockphoto/tataks
Jakarta -

Para ilmuwan di Swansea University menemukan kandungan polutan kimia yang dilepaskan dari masker sekali pakai saat terendam air. Polutan ini berpotensi bahaya dan mencemari lingkungan.

Penelitian ini menyebutkan sejumlah polutan tingkat tinggi, antara lain termasuk timbal, antimon, dan tembaga, serta kandungan di dalam serat plastik dan berbasis silikon dari masker wajah sekali pakai.

Dikutip dari Live Mint, studi ini didukung oleh Institute for Innovative Material, Processing and Numerical Technologies (IMPACT) dan SPECIFIC Innovation & Knowledge Center.

"Kita semua harus tetap memakai masker karena sangat penting dalam mengakhiri pandemi. Tetapi kita juga sangat membutuhkan lebih banyak penelitian dan regulasi tentang produksi masker, sehingga kita dapat mengurangi risiko apa pun terhadap lingkungan dan kesehatan manusia," kata pimpinan proyek penelitian Dr Sarper Sarp dari Swansea University College of Engineering.

Dalam studi ini, peneliti menggunakan berbagai masker mulai dari masker wajah biasa, hingga masker untuk anak-anak yang saat ini banyak dijual di gerai ritel di Inggris.

Peningkatan penggunaan masker sekali pakai, dan limbah terkait, akibat pandemi COVID-19 telah didokumentasikan sebagai penyebab baru polusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan langsung ini dengan investigasi untuk mengidentifikasi tingkat zat beracun yang ada.

Temuan ini mengungkapkan tingkat polutan yang signifikan di semua masker yang diuji dengan mikro/nanopartikel dan logam berat yang dilepaskan ke dalam air selama semua pengujian.

Para peneliti menyimpulkan, polutan ini akan berdampak substansial terhadap lingkungan, dan kekhawatiran akan potensi kerusakan pada kesehatan masyarakat.

Mereka memperingatkan paparan berulang dapat berbahaya karena zat yang ditemukan memiliki kaitan dengan kematian sel, genotoksisitas dan pembentukan kanker.

Untuk mengatasi hal ini, tim menyarankan penelitian lebih lanjut dan peraturan lebih lanjut untuk diterapkan dalam proses pembuatan dan pengujian masker sekali pakai.

"Produksi masker wajah berbahan plastik sekali pakai (DPF) di China saja telah mencapai sekitar 200 juta sehari, dalam upaya global untuk mengatasi penyebaran virus SARS-CoV-2. Namun proses produksinya tidak tepat dan tidak diatur pula diatur mengenai pembuangan DPF ini, sehingga memunculkan masalah polusi plastik yang sudah lama kita hadapi, dan ini akan terus meningkat," kata Sarp.

"Ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa limbah DPF berpotensi memiliki dampak lingkungan yang besar dengan melepaskan polutan hanya dengan memaparkannya ke air. Banyak polutan beracun yang ditemukan dalam penelitian kami memiliki sifat bio-akumulatif saat dilepaskan ke lingkungan dan temuan kami menunjukkan bahwa DPF dapat menjadi salah satu sumber utama kontaminan lingkungan ini selama dan setelah pandemi COVID," sambungnya.

Oleh karena itu, disebutkan Sarp, diperlukan peraturan yang lebih ketat dalam pembuatan dan pembuangan atau daur ulang DPF untuk meminimalkan dampak lingkungan. Selain itu, dibutuhkan pula pemahaman terhadap dampak pencucian partikel tersebut pada kesehatan masyarakat. Salah satu perhatian utama dengan partikel ini adalah, polutan ini mudah terlepas dari masker dan larut ke dalam air.

"Oleh karena itu, penyelidikan lengkap diperlukan untuk menentukan jumlah dan potensi dampak partikel-partikel ini yang masuk ke lingkungan, dan tingkat yang dihirup oleh pengguna selama pernapasan normal. Ini merupakan perhatian yang signifikan, terutama bagi para profesional perawatan kesehatan, pekerja, dan anak-anak yang diharuskan memakai masker saat bersekolah," tutupnya.



Simak Video "Kapal Pengangkut Puluhan Ton Bahan Kimia Tenggelam"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)