Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Masjid Kuno yang Dibangun Setelah Nabi Muhammad Wafat Ditemukan di Galilea

Masjid Kuno yang Dibangun Setelah Nabi Muhammad Wafat Ditemukan di Galilea


Rachmatunnisa - detikInet

Para arkeolog menemukan sisa-sisa fondasi masjid berusia sekitar 1.350 tahun di dekat Laut Galilea, Israel. Ini adalah sisa-sisa salah satu masjid tertua yang tercatat, yang dibangun hanya satu generasi setelah Nabi Muhammad wafat.
Situs penggalian tampak dari atas. Foto: David Silverman
Jakarta -

Para arkeolog menemukan sisa-sisa fondasi masjid berusia sekitar 1.350 tahun di dekat Laut Galilea, Israel. Ini adalah sisa-sisa salah satu masjid tertua yang tercatat, yang dibangun hanya satu generasi setelah Nabi Muhammad wafat.

Struktur masjid tersebut ditemukan di bawah bangunan masjid yang lebih modern di kota Tiberias, di utara Israel. Fondasi bangunan mencakup dinding-dinding batu yang membentuk ruang shalat dan menunjukkan tata letak khas masjid awal.

Kepala penggalian dan ahli arkeologi Islam dari Hebrew University, Dr. Katia Cytryn-Silverman, menjelaskan pentingnya temuan ini dalam konteks sejarah. "Kita tahu tentang banyak masjid awal yang didirikan tepat di awal periode Islam," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Cytryn-Silverman, meskipun terdapat masjid-masjid terkenal seperti Masjid Nabi di Madinah dan Masjid Agung Damaskus, keduanya mengalami perluasan dan rekonstruksi besar sehingga menyulitkan penelitian arkeologi mendalam.

"Tidak mungkin untuk menggali situs-situs tersebut, karena umumnya terletak di bawah masjid-masjid yang masih digunakan. Di Tiberias ini, kami memiliki kesempatan luar biasa untuk menggali situs tersebut dan meneliti apa yang ada di bawahnya," jelas Cytryn-Silverman.

ADVERTISEMENT
Para arkeolog menemukan sisa-sisa fondasi masjid berusia sekitar 1.350 tahun di dekat Laut Galilea, Israel. Ini adalah sisa-sisa salah satu masjid tertua yang tercatat, yang dibangun hanya satu generasi setelah Nabi Muhammad wafat.Foto: David Silverman

Konteks Sejarah dan Arkeologi

Analisis awal menunjukkan bahwa masjid ini kemungkinan besar dibangun pada paruh kedua abad ke-7 Masehi, hanya beberapa dekade setelah Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 M. Ini membuatnya lebih awal daripada masjid tertua lainnya yang ditemukan di Wāsit, Irak, yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 703 M.

Temuan ini merupakan bukti kuat bahwa komunitas Muslim telah berkembang di kawasan Levant jauh lebih awal daripada yang banyak diperkirakan sebelumnya. Struktur ini merupakan contoh dari masjid Jumat (Friday mosque), yaitu tempat ibadah utama di komunitas Muslim yang menyelenggarakan shalat Jumat.

Para arkeolog telah mengetahui keberadaan situs ini sejak tahun 1950-an. Namun, pada saat itu, sisa-sisa masjid tersebut disalahartikan sebagai pasar tertutup periode Bizantium. Kesalahan ini terus berlanjut, bahkan ketika mendiang arkeolog Yizhar Hirschfeld menemukan, pada akhir tahun 2000-an, pondasi bundar kecil, sangat kasar dan asimetris, yang menurutnya merupakan bagian dari bangunan yang lebih baru daripada 'pasar' tersebut.

"Saya menyadari bahwa denah 'pasar tertutup' itu sangat mirip dengan Masjid Agung Damaskus abad ke-8 awal, yang masih berdiri," kata Cytryn-Silverman.

Tim tersebut menentukan bahwa apa yang disebut tembok periode Bizantium sebenarnya adalah fondasi untuk barisan kolom pertama dari tahap awal masjid yang membentuk bangunan semi-persegi panjang dengan panjang sekitar 22 meter dan lebar 49 meter.

Para arkeolog menemukan sisa-sisa fondasi masjid berusia sekitar 1.350 tahun di dekat Laut Galilea, Israel. Ini adalah sisa-sisa salah satu masjid tertua yang tercatat, yang dibangun hanya satu generasi setelah Nabi Muhammad wafat.Foto: David Silverman

Toleransi Beragama

Tim juga menemukan bahwa pada masa itu umat beragama hidup berdampingan. Umat Muslim yang beribadah di masjid awal ini bertetangga dengan orang Yahudi dan Kristen, yang juga memiliki bangunan keagamaan di lingkungan tersebut, termasuk sebuah gereja monumental di dekatnya yang tampaknya merupakan gereja terbesar di Galilea dan Sinagoge Hammat Tiberias yang megah di sebelah selatan.

"Jadi, temuan kami, yang menunjukkan bahwa pada tahap awalnya masjid tersebut merupakan bangunan yang lebih sederhana dan bersahaja dibandingkan dengan rumah-rumah ibadah di sekitarnya, menunjukkan bahwa Islamisasi kota itu berlangsung secara bertahap, bahwa penguasa baru bersikap toleran, dan bahwa agama baru tersebut beradaptasi dengan dinamika agama-agama lain," ujar Cytryn-Silverman.

"Pada tahun 635, umat Muslim menaklukkan Tiberias dan daerah sekitarnya, tetapi wilayah tersebut masih merupakan tempat yang relatif toleran," rincinya.

Pada tahun 720-an dan 730-an, masjid tersebut berubah menjadi bangunan yang lebih besar dengan halaman dan setidaknya satu tangki air bawah tanah (tangki untuk menyimpan air). Pada tahun 800-an, sebuah menara untuk menyeru umat Muslim salat kemungkinan didirikan.

Menurut sebuah batu nisan yang ditemukan di dekat sekitarnya, masjid tersebut tetap digunakan hingga akhir tahun 900-an, Kemudian, gempa bumi menghancurkannya pada 1068, dan Tentara Salib tiba sekitar tahun 1100.

Penemuan fondasi masjid kuno ini tidak hanya menunjukkan keberadaan komunitas Muslim di Tiberias pada masa awal Islam, tetapi juga memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk mempelajari arsitektur, praktik keagamaan, dan pola pemukiman Muslim pada abad pertama perkembangannya.




(rns/rns)







Hide Ads