Vaksin Corona Pfizer Diprediksi Raup Rp 184 Triliun
Hide Ads

Vaksin Corona Pfizer Diprediksi Raup Rp 184 Triliun

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 12 Nov 2020 07:36 WIB
MELBOURNE, AUSTRALIA - NOVEMBER 08: CSL’s Chief Scientific Officer, Dr Andrew Nash shows a small vial which indicates the size of the iml of cells that will go into the bioreactor to create 30 ml doses of the AstraZeneca vaccine. November 08, 2020 in Melbourne, Australia. CSL will begin manufacturing AstraZeneca-Oxford University COVID-19 vaccine from Monday. (Photo by Darrian Traynor/Getty Images)
Ilustrasi vaksin Corona. Foto: Getty Images/Darrian Traynor
Jakarta -

Diumumkan punya efektifitas 90% dalam menangkal virus Corona, vaksin Corona buatan Pfizer dan BioNTech berpotensi laris manis saat nanti sudah disetujui untuk diberikan pada publik. Meskipun banderolnya dikatakan lebih rendah dari vaksin pada umumnya, pendapatan besar berpotensi didapatkan.

Analisis dari Morgan Stanley menyebut penjualan global vaksin Corona Pfizer bisa menembus USD 13 miliar atau di kisaran Rp 184 triliun. Sesuai kesepakatan, jumlah itu akan dibagi sama rata untuk kedua perusahaan.

Dikutip detikINET dari Guardian, berbagai negara telah memesan vaksin tersebut. Pfizer telah sepakat memberikan 100 juta dosis di Amerika Serikat dengan harga USD 39 untuk dua dosis. Sedangkan Uni Eropa telah memesan 200 juta dosis dan Inggris 40 juta dosis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perusahaan vaksin Corona lain telah menyatakan tidak akan mengambil untung, tapi beda dengan Pfizer yang menganggapnya sebagai peluang bisnis. Raksasa farmasi ini menolak bantuan dana dari pemerintah AS dan merogoh USD 2 miliar dari koceknya sendiri untuk mengembangkan vaksin Corona.

Adapun mitranya BioNTech sebagai perusahaan yang lebih kecil, diketahui menerima bantuan 375 juta euro dari pemerintah Jerman dan pinjaman 100 juta euro dari European Investment Bank.

ADVERTISEMENT

LSM Oxfam memuji sekaligus mengkritik vaksin Corona Pfizer. "Hasil menggembirakan Pfizer dan BioNTech memberi harapan pada kita semua untuk keluar dari mimpi buruk pandemi, tapi itu takkan terjadi kecuali vaksinnya tersedia dan terjangkau bagi setiap orang," sebut Oxfam.

"Harga estimasi Pfizer untuk vaksin itu terlalu tinggi dan perusahaan tidak bisa memproduksi dalam jumlah cukup. Vaksin itu sama sekali takkan efektif bagi orang yang tak bisa mengakses atau membelinya," tambah mereka.

Akan tetapi metode mRNA yang digunakan oleh Pfizer memang baru dan lebih mahal. Perusahaan vaksin Moderna yang memakai metode yang sama bahkan harga vaksinnya lebih mahal, antara USD 32 sampai USD 37 per suntikan.

Di sisi lain, ada vaksin Corona dengan harga sangat rendah. Salah satunya vaksin buatan Oxford dan perusahaan farmasi AstraZeneca yang rencananya hanya akan dijual antara USD 3 sampai USD 5 per dosis.




(fyk/afr)