Penjelajahan Waktu dan Teori Relativitas Einstein

Sisi Ilmiah Mesin Waktu

Penjelajahan Waktu dan Teori Relativitas Einstein

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 18 Okt 2020 13:00 WIB
Mesin Waktu
Ilustrasi mesin waktu. Foto: Istimewa
Jakarta -

Apakah mesin waktu mungkin diciptakan? Akankah kita bisa melakukan perjalanan ke masa lalu dan juga masa depan? Begini jawaban dari kacamata sains.

Stephen Hawking pernah tidak percaya penjelajahan waktu. Namun pemikirannya kemudian berbalik 180 derajat. Menjelang akhir masa hidupnya, Hawking menulis buku terakhir yang di dalamnya ada pembahasan mengenai penjelajah waktu.

Hawking menulis bahwa masih ada harapan bahwa perjalanan kembali ke masa lalu dapat dilakukan sesuai dengan hukum alam semesta. Dia mematok gagasan ini pada Teori M. Teori ini memperkirakan alam semesta mungkin berisi tujuh dimensi tersembunyi di samping empat dimensi ruang-waktu yang sudah kita kenal saat ini.

"Penggemar fiksi ilmiah tidak perlu berkecil hati, ada harapan untuk Teori M. Perjalanan ruang angkasa yang cepat dan perjalanan kembali ke masa lalu tidak dapat dikesampingkan menurut pemahaman kita sekarang," tulisnya.

Apakah mesin waktu memiliki dasar ilmiahnya? Dalam diskusi The Conversation, peneliti Peter Millington dari School of Physics and Astronomy di University of Nottingham mencoba memahami dasar dari beberapa pertanyaan ini:

Kecepatan cahaya berperan penting dalam penjelajahan waktu

Selama ini kita bisa dengan mudah menelepon keluarga dan teman di mana pun mereka berada untuk saling berkabar. Di balik kemudahan berkomunikasi ini, ada sesuatu yang tidak kita sadari.

"Ini adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita ketahui. Sinyal yang membawa suara dan gambar dalam komunikasi bergerak sangat cepat, tetapi masih membutuhkan waktu yang terbatas bagi sinyal tersebut untuk sampai ke kita," kata Millington seperti dikutip dari Business Insider saat dilihat, Minggu (18/10/2020).

Kecepatan tertinggi di mana sebuah sinyal atau - secara fisik - gelombang elektromagnetik dapat merambat, dikenal sebagai kecepatan cahaya, tepatnya 299.792.458 meter per detik.

Albert Einstein mendalilkan dalam kerangka teori relativitasnya bahwa kecepatan cahaya adalah konstanta universal, yaitu bahwa cahaya selalu bergerak dengan kecepatan yang sama dalam ruang hampa.

Kondisi inilah yang memainkan peran penting dalam pertanyaan apakah perjalanan waktu itu mungkin? Hukum kausalitas mengikuti fakta bahwa tidak ada yang bisa lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Hukum menyatakan bahwa akibat dari suatu tindakan hanya dapat terjadi setelah penyebabnya, yang akan membuat perjalanan waktu ke masa lalu --misalnya dengan mesin waktu-- menjadi tidak mungkin.

"Bagi saya, untuk melakukan perjalanan kembali ke masa lalu dan menggerakkan peristiwa yang mencegah kelahiran saya misalnya, adalah dengan menempatkan efek (saya) sebelum penyebab (kelahiran saya)," jelas Millington.

Selanjutnya: Apakah mungkin menjelajah masa depan menurut teori relativitas Einstein?