Riset: Dampak Psikologis Lockdown Bisa Kurangi Umur Manusia

Riset: Dampak Psikologis Lockdown Bisa Kurangi Umur Manusia

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Selasa, 19 Mei 2020 06:02 WIB
Poster
Dampak Psikologis Lockdown Bisa Kurangi Umur Manusia (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Lockdown dan pembatasan sosial akibat pandemi virus Corona, punya dampak psikologis bisa mengurangi umur manusia. Makanya, jangan lupa bahagia saat di rumah saja.

Itulah hasil riset tim ilmuwan pada sebuah penelitian di Swiss yang diterbitkan di jurnal medRxiv. Ini adalah jurnal untuk peer review, yang artinya sedang dalam kajian antara para ilmuwan sebelum dipublikasikan dalam jurnal resmi.

Judul risetnya adalah: Years of life lost due to the psychosocial consequences of COVID19 mitigation strategies based on Swiss data. Ada 4 ilmuwan dipimpin Dominik Moser dari Institute of Psychology Bern, Swiss dan ada 6 universitas yang terlibat dari Swiss, Kanada dan Amerika.

Dalam publikasi yang dilihat detikINET, Selasa (19/5/2020) tim ilmuwan ini menjelaskan, strategi mitigasi sosial yang diterapkan pemerintah menyebabkan masalah kesehatan mental. Akibatnya, masalah psikologis ini berpotensi mengurangi umur manusia dari rata-rata usia harapan hidup manusia.


Inilah yang disebut 'years of life lost' (YLL) yaitu selisih usia dalam kasus kematian karena sebab tertentu dengan rata-rata usia harapan hidup di negara tersebut. Studi ini dilakukan di Swiss.

Para ilmuwan mencatat masalah psikologis akibat lockdown selama pandemi corona adalah bunuh diri, depresi, alkoholik, trauma anak akibat KDRT, perceraian dan isolasi sosial. Riset dilakukan selama 3 bulan lockdown.

Hasilnya cukup mengejutkan, rata-rata orang kehilangan 0,2 tahun umurnya karena dampak psikologis lockdown COVID-19. Tapi ada 2,1% populasi yang kehilangan umur sampai 9,79 tahun YLL.


Ketika dijabarkan per kategori kasus psikologis potensi umur berkurang atau hilang per orang berbeda-beda. Berikut adalah kasus dan jumlah umur yang hilang per orang:

1. Bunuh diri (34,4 tahun)
2. Perceraian (3,5 tahun)
3. Perceraian yang mempengaruhi anak (4 tahun)
4. KDRT yang mempengaruhi anak (2,37 tahun)
5. Depresi (6,82 tahun)
6. Alkoholik (17,67 tahun)
7. Pengucilan diri (12,03 tahun)

Kesimpulannya, tim ilmuwan ini menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan masalah kesehatan mental dalam membuat kebijakan terkait lockdown dan pembatasan sosial. Nah, bagaimana untuk kita sendiri?

Agak seram juga ya membaca hasil riset ini. Tapi kita bisa mengambil pelajaran, bahwa selama PSBB, work from home karena pandemi, adalah penting untuk menjaga pikiran positif dan jangan lupa untuk bahagia dengan berbagai cara.



Simak Video "Menurun, Corona RI Per 18 Januari Tambah 9.086"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/afr)