Selasa, 07 Mei 2019 21:26 WIB

Di China, Kecerdasan Buatan Sukses Tangkap Buronan

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: istimewa Foto: istimewa
Jakarta - Sebuah startup asal China sukses membuat sistem yang mampu membuatnya mampu menangkap 100 pelanggar hukum. Salah satunya bahkan sudah buron selama 20 tahun.

DeepGlint Technology jadi startup yang dimaksud. Perusahaan rintisan yang berbasis di Beijing ini menggunakan teknologi pengenal wajah berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menangkap para pelaku kriminal tersebut, sebagaimana detikINET kutip dari South China Morning Post, Selasa (7/5/2019).

Startup ini memang fokus pada computer vision. Itu merupakan bidang yang melibatkan ekstraksi otomatis, analisis, dan pemahaman terhadap informasi dari sebuah atau rangkaian gambar.




DeepGlint mengklaim sistemnya dapat mengidentifikasi orang atau kendaraan dari gambar yang ditangkap dengan jarak sejauh 50 meter. Sistem yang terpinspirasi dari mata manusia itu nantinya akan memberikan peringatan kepada pihak berwajib jika ada tindakan yang mencurigakan.

Satu yang menarik, atau bisa dibilang kontroversial, sistem ini konon juga digunakan untuk mengidentifikasi sejumlah sasaran di wilayah otonom Xinjiang. DeepGlint sendiri memang sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian Urumqi, ibu kota Xinjiang, untuk membangun laboratorium bersama.

Daerah Xinjiang dikenal sebagai tempat pemerintah China mengawasi lebih dari satu juta penduduk yang mayoritasnya adalah kaum muslim Uyghur. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghindari aktivitas terorisme.




Sekadar informasi, DeepGlint bukan satu-satunya startup yang menggunakan teknologi facial recognition untuk membantu institusi pemerintah di China. Masih ada SenseTime Group, Yitu Technology, dan Megvii yang juga melakukan hal serupa.

Masifnya pengawasan berbasis teknologi di China turut mendapat sejumlah kecaman. Salah satunya datang dari komisi pembela hak asasi manusia setempat, yang menyebut penggunaan aplikasi di ponsel oleh polisi di Xinjian untuk mengidentifikasi kelompok sasarannya.

Apakah Indonesia mampu mengembangkan kecerdasan buatan dengan penerapan luas seperti di China? Toh baru-baru ini startup lokal bernama Nodeflux juga bekerja sama dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menangani banjir menggunakan kecerdasan buatan.




(mon/krs)