Minggu, 01 Apr 2018 10:17 WIB

Stasiun Antariksa 8,5 Ton Kian Deras Jatuh ke Bumi

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi pecahan stasiun luar angkasa Tiangong-1. Foto: Aerospace Corp. Ilustrasi pecahan stasiun luar angkasa Tiangong-1. Foto: Aerospace Corp.
Jakarta - Setelah mengalami penurunan ketinggian orbit yang melambat beberapa hari yang lalu, Tiangong-1 kini kian melesat jatuh ke Bumi. Bahkan waktu jatuhnya juga semakin dipersempit dari sebelumnya dari rentang 1-3 April 2018.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan bahwa stasiun antariksa pertama milik China itu diprakirakan akan menghantam Bumi pada 1-2 April. Saat ini Tiangong-1 memasuki ketinggian 178 kilometer, di mana itu turun sembilan kilometer dari laporan kemarin.

"Penurunan orbit makin cepat. Saat ini ketinggian sekitar 178 kilometer (turun sembilan kilometer per hari)," ujar Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin dikutip dari akun Facebook-nya, Minggu 1 April 2018.



Dengan demikian, butuh penurunan 58 kilometer lagi untuk menyatakan bahwa stasiun luar angkasa berbobot 8,5 ton itu dikatakan jatuh dan mulai diketahui di mana serta kapan menghantam Bumi.

Tiangong-1 ini dimungkinkan jatuh di daerah antara 43 derajat lintang utara hingga 43 derajat lintang selatan, termasuk wilayah Indonesia masuk di dalamnya.

Perhitungan tersebut yang membuat LAPAN terus gencar memantau pergerakan jatuhnya Tiangong-1 dari minggu-minggu kemarin. LAPAN memanfaatkan sistem pemantauan benda antariksa jatuh buatannya, yaitu Track-It.

Thomas menuturkan objek antariksa disebut jatuh ketika sudah mencapai ketinggian 120 kilometer. Ketika itu, hanya dalam beberapa menit Tiangong-1 akan pecah dan terbakar.

"Pecahannya akan jatuh di sepanjang orbitnya, pada rentang jarak puluhan sampai ratusan kilometer," demikian penjelasannya.

Thomas mengatakan, kecepatan jatuh objek antariksa bergantung pada kerapatan atmosfer. Sementara kerapatan atmosfer sendiri dipengaruhi aktivitas Matahari dan medan magnet Bumi.

Variasi aktivitas Matahari yang menyebabkan rentang ketidakpastian waktu jatuhnya cukup besar. Tingkat akurasinya akan bertambah dengan makin dekatnya waktu jatuh.



Diketahui, pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011, stasiun luar angkasa pertama Negeri Tirai Bambu tersebut mengorbit di ketinggian 350 kilometer.

Ketika itu, Tiangong-1 merupakan muatan dari Long March 2F yang diluncurkan di Jiuquan Satellite Launch Center, China.

Stasiun luar angkasa berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter dan dilengkapi bentengan panel surya di kedua sisinya ini, pernah ditempati para penjelajah antariksa dari China.

Namun sejak 2016, Tiangong-1 sudah tidak dapat dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Stasiun luar angkasa China itu berpotensi jatuh ke Bumi di wilayah pada rentang 43 derajat lintang utara sampai 43 derajat lintang selatan, termasuk Indonesia di dalamnya.

Saksikan video 20Detik untuk mengetahui perkembangan soal jatuhnya Tiangong-1 di sini:

[Gambas:Video 20detik] (agt/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed