Bukan sekadar melihat dari balik kaca display, pengunjung CES 2026 yang penasaran dengan teknologi Galaxy XR berkesempatan mencoba langsung perangkat tersebut dalam salah satu sesi demo.
detikINET menjadi salah satu yang mendapatkan kesempatan tersebut. Pengalaman hands-on ini memberi gambaran jelas ke mana arah XR yang ingin dibawa Samsung, yakni teknologi imersif yang mudah digunakan, nyaman, dan terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Hanya butuh 'les singkat' untuk membiasakan diri dengan perangkat ini. Kurang lebih selama lima menit, pemandu mengajari detikINET cara memakai dan berbagai fungsi yang diperlukan. Tanpa tutorial panjang, sistemnya langsung bisa dipahami, jauh dari kesan rumit. Di sini, hampir semua interaksi dilakukan lewat gestur alami tangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Samsung Galaxy XR. Foto: Rachmatunisa |
Mixed Reality
Galaxy XR masuk dalam kategori mixed reality (MR), yaitu teknologi yang menggabungkan dunia nyata dan dunia virtual dalam satu pengalaman. Berbeda dengan virtual reality (VR) yang sepenuhnya membawa pengguna ke dunia digital, atau augmented reality (AR) yang hanya menambahkan elemen digital di dunia nyata, mixed reality memungkinkan keduanya berinteraksi secara real-time.
Artinya, pengguna tetap menyadari lingkungan sekitar, tetapi bisa berinteraksi dengan objek digital seolah-olah benar-benar hadir di ruang nyata. Inilah pendekatan yang digunakan Samsung di Galaxy XR.
Navigasi Alami dengan Gerakan Jari dan Tangan
Untuk memilih menu, saya cukup mencubit (pinch) ikon di layar virtual. Ingin memperbesar tampilan? Tinggal zoom in dan zoom out dengan gerakan tangan yang intuitif, mirip saat memperbesar foto di ponsel. Berpindah menu, memutar objek, hingga memilih fitur lain terasa cepat dan natural. Galaxy XR sepertinya dirancang agar pengguna tidak harus belajar teknologi dengan rumit, melainkan teknologi yang mengikuti cara manusia berinteraksi.
Selain perangkatnya yang terasa nyaman, sesi hands-on yang berlangsung sekitar 40 menit ini juga terasa alami. Sepanjang waktu menggunakan dan setelahnya, detikINET sama sekali tidak mengalami pusing atau mual, masalah yang kerap muncul pada perangkat semacam ini. Headset tidak terasa berat, bobotnya seimbang, dan tidak memberi tekanan berlebih di kepala atau wajah.
Samsung Galaxy XR. Foto: Rachmatunisa |
Kualitas visualnya juga menonjol dengan kualitas 8K dan realistis, dengan detail tajam dan transisi halus yang membuat mata tidak cepat lelah. Pada beberapa fungsi, gambar terlihat seperti melompat dan membuat kita serasa benar-benar ikut di dalamnya.
Dari Black Hole hingga Bedah Virtual
Samsung menyiapkan beberapa skenario penggunaan yang langsung menunjukkan potensi XR di berbagai bidang, antara lain, detikINET diajak menonton video edukasi sains tentang black hole. Materi yang biasanya terasa rumit jadi jauh lebih seru dan mudah dipahami. Visual tiga dimensi membuat konsep ruang dan gravitasi terasa hidup, bukan sekadar teori di layar datar.
Perangkat ini juga bisa mengajak kita berteleportasi lewat Google Street View. Saya bisa berpindah lokasi secara virtual, seolah jalan-jalan ke tempat lain. Pengalaman ini terasa imersif dan membuka kemungkinan baru untuk edukasi, pariwisata, hingga eksplorasi lokasi jarak jauh.
Dalam sesi demo, Samsung juga menunjukkan bagaimana Gemini AI digunakan sebagai lapisan kecerdasan di pengalaman Galaxy XR. Alih-alih sekadar menjalankan perintah statis, Gemini AI berperan sebagai asisten yang membantu menavigasi konten, memahami informasi visual, hingga mendukung berbagai skenario penggunaan di dalam XR. Kehadiran AI ini membuat pengalaman terasa lebih personal dan adaptif, bukan sekadar tampilan visual tiga dimensi.
Samsung Galaxy XR. Foto: Rachmatunisa |
Pengalaman seru lainnya adalah simulasi membedah pasien lewat game dokter-dokteran. Dalam simulasi ini, digunakan tambahan controller untuk fungsi layaknya dokter sungguhan seperti memberikan anestesi, menjahit luka operasi, dan lain-lain. Simulasi ini menunjukkan potensi Galaxy XR untuk edukasi medis dan pelatihan. Interaksi dilakukan langsung dengan tangan, membuat proses belajar terasa lebih praktis dan realistis.
Selain itu ada juga simulasi dek kapal laut untuk kebutuhan bisnis dan desain. Ini salah satu use case yang menarik untuk industri. Dengan Galaxy XR, desain dan simulasi ruang bisa dilihat dalam skala mendekati nyata sebelum benar-benar diwujudkan.
Dari pengalaman langsung ini, Galaxy XR terasa bukan sekadar pamer teknologi. Samsung tampaknya ingin menjadikan perangkat ini untuk berbagai kebutuhan, mulai dari alat bantu belajar yang interaktif, untuk pekerjaan, atau memahami sesuatu dengan lebih mudah.
Samsung Galaxy XR. Foto: Rachmatunisa |
Kesimpulan
Alih-alih membuat pengguna terpukau sesaat, Galaxy XR justru meninggalkan kesan praktis: mudah dipakai, nyaman, dan fungsional. Jika arah pengembangannya konsisten seperti yang ditunjukkan di CES 2026, Galaxy XR berpotensi bukan lagi teknologi niche, tapi bagian dari keseharian di masa depan, baik untuk keseharian, hiburan, edukasi, maupun kebutuhan profesional.
(rns/fyk)



