Dear PSSI, Ayo Cek Aplikasi Sepakbola Bolasoft dari Purwokerto

Dear PSSI, Ayo Cek Aplikasi Sepakbola Bolasoft dari Purwokerto

Arbi Anugrah - detikInet
Kamis, 25 Mar 2021 07:46 WIB
Aplikasi Bolasoft Indonesia dari Purwokerto buatan dosen Universitas Amikom Purwokerto, Trias Bratakusuma, untuk pembinaan di sekolah sepakbola
Aplikasi Bolasoft Indonesia untuk pelatihan sepakbola usia dini (Arbi Anugrah/detikcom)
Jakarta -

Pembinaan sepakbola usia dini, masih belum optimal di Indonesia. Startup aplikasi Bolasoft Indonesia menawarkan solusinya.

Selama ini, dunia sepakbola di Indonesia dianggap masih kurang menerapkan sistem yang baik dalam pembinaan anak di usia dini. Pendataan pemain dianggap kurang, ada perjokian pemain, pemalsuan umur, masalah standardisasi pengelolaan, hingga upaya saling comot pemain berbakat antar Sekolah Sepak Bola (SSB).

Melihat hal tersebut, Dosen Sistem Informasi, Universitas Amikom Purwokerto, Trias Bratakusuma (46) bersama dua rekannya berupaya memperbaiki kesemrawutan tersebut melalui sebuah teknologi yang nantinya dapat diterapkan oleh seluruh sekolah sepak bola di Indonesia. Teknologi ini berbentuk startup aplikasi Bolasoft Indonesia.

Dalam aplikasi Bolasoft Indonesia tersebut, nantinya setiap sekolah sepak bola dapat menerapkan standardisasi pembinaan pemain secara digital. Antara lain ada daftar hadir pemain, tingkat performance saat latihan. Pembayaran siswa di SSB, hingga jadwal turnamen antar SSB.

"Tujuan utamanya sebenarnya untuk memperbaiki prestasi persepakbolaan Indonesia secara keseluruhan. Dengan terdata dengan baik per SSB, nanti tidak ada saling comot pemain, terus ke depan standardisasi pelatihan ada, karena orang tinggal pakai aplikasi ini," kata Brata saat berbincang dengan detikcom, Rabu (24/3/2021).

Brata mencontohkan salah satu masalah soal saling comot pemain yang menonjol dalam satu SSB. Saling comot tanpa administrasi yang benar mengganggu proses pembinaan siswa.

"Kadang tidak pakai administrasi yang benar, sedangkan yang di sini sudah bina dan mendidik dari nol, istilahnya dari mana siswa itu mulai belajar. Nanti kalau sudah punya prestasi malah diambil SSB yang lain," ucapnya.

Kemudian permasalahan lainnya yakni pemalsuan umur yang kadang terjadi pada saat turnamen atau liga. Biasanya pemain usia 11 nantinya akan diikutkan pada turnamen usia 10, dengan cara memalsukan berkas.

"Berkasnya palsu, biasanya pakai berkas adiknya, pakai ijazah adiknya, yang main nanti kakaknya. Itu sering terjadi," ucapnya.

Masalah lain adalah kurangnya pendataan para pemain di tiap sekolah sepak bola oleh Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI, hingga tingkat standard SSB dalam pembinaan siswa.

"Makanya saya buat ini awal tujuannya untuk itu, jadi masing masing SSB punya data base yang nanti terpusat lagi ke jenjang yang lebih tinggi dan harapannya sampai ke nasional. Sehingga semua pemain itu ada datanya dari mulai usia bermain sepak bola," jelasnya.

Halaman selanjutnya: Aneka fitur aplikasi Bolasoft Indonesia...