WhatsApp Mencemaskan, Signal dan Telegram Naik Pamor di China

WhatsApp Mencemaskan, Signal dan Telegram Naik Pamor di China

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 18 Jan 2021 17:25 WIB
ilustrasi smartphone
Foto: Unspslah
Jakarta -

Kekhawatiran atas kebijakan privasi baru WhatsApp, membuat jutaan berbondong-bondong pindah ke Signal dan Telegram. Ternyata, pamor kedua aplikasi chat ini juga mengalami sedikit peningkatan pengguna di China.

Pasar aplikasi messenger di China memang didominasi oleh WeChat, sehingga pertumbuhan Telegram dan Signal di sana tidak sebesar di negara-negara yang menggunakan WhatsApp sebagai aplikasi chat utama.

Meski demikian, seperti dikutip dari Tech Crunch, adanya peningkatan tersebut menjadi pengingat bahwa alternatif WeChat masih eksis di China dalam berbagai kapasitas.

Signal meraup 9 ribu unduhan baru dari China App Store pada rentang 8-12 Januari, naik 500% dari periode antara 3-7 Januari berdasarkan riset Sensor Tower. Telegram mengalami pertambahan 17 ribu unduhan selama 8-12 Januari, naik 6% dari durasi 3-7 Januari. Sementara itu, pertumbuhan WhatsApp terhenti, mencatat 10 ribu unduhan di kedua periode.

Fakta bahwa Telegram, Signal, dan WhatsApp dapat diakses di China mungkin mengejutkan sebagian orang. Tetapi keputusan sensor China bisa saja sewenang-wenang dan tidak konsisten. Contohnya adalah seperti yang ditunjukkan oleh situs pemantau sensor Apple Censorship, bahwa semua aplikasi pesan instant dari luar China masih tersedia di China App Store.

Namun situasi untuk Android lebih rumit. Layanan Google sebagian besar diblokir di China dan pengguna Android terpaksa menggunakan toko aplikasi Android yang dioperasikan perusahaan lokal seperti Tencent dan Baidu.

Baik Telegram maupun Signal, tidak tersedia di toko Android pihak ketiga ini. Namun, pengguna mengakalinya menggunakan VPN sehingga bisa menerobos sensor, mengakses Google Play dan memasang aplikasi chat terenkripsi.

Tantangan berikutnya sebenarnya saat menggunakan aplikasi ini. Semua aplikasi chat buatan China mendapatkan perlakuan berbeda dari aparat sensor Beijing. Beberapa aplikasi, seperti Signal, bekerja dengan sempurna tanpa perlu VPN. Sementara aplikasi lainnya, misalnya WhatsApp, terkadang berfungsi di Cina tanpa VPN meski sangat lambat, sedangkan Facebook tidak berfungsi sama sekali tanpa VPN.

"Beberapa situs web dan aplikasi dapat tetap tidak tersentuh sampai mereka mencapai ambang pengguna tertentu hingga pihak berwenang akan mencoba memblokir atau mengganggu website atau aplikasi tersebut," kata Charlie Smith, kepala Great Fire, sebuah organisasi yang memantau internet China yang juga menjalankan Sensor Apple.

"Mungkin sebelum migrasi massal dari WhatsApp ini, Signal tidak memiliki banyak pengguna di China. Angka ini mungkin telah berubah selama seminggu terakhir di mana pihak berwenang dapat mempertimbangkan pembatasan untuk Signal," tambah Smith.

Untuk beroperasi secara legal di China, perusahaan harus menyimpan data mereka di China dan mengirimkan informasi ke pihak berwenang untuk pemeriksaan keamanan, menurut undang-undang keamanan cyber yang diberlakukan pada tahun 2017. Apple, misalnya, bermitra dengan penyedia cloud lokal untuk menyimpan data pengguna China-nya.

Persyaratan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang jenis interaksi yang dimiliki Signal, Telegram, dan aplikasi asing lainnya dengan otoritas China. Signal mengatakan, pihaknya tidak pernah menyerahkan data ke polisi Hong Kong dan tidak memiliki data untuk diserahkan saat marak kekhawatiran mengenai peningkatan kontrol Beijing atas bekas koloni Inggris itu.

Tantangan terbesar untuk aplikasi seperti Signal di China, menurut Smith, akan datang dari Apple, yang terus menerus dikecam oleh investor dan aktivis karena menyerahkannya kepada otoritas China.

Dalam beberapa tahun terakhir, Apple meningkatkan tindakan keras terhadap aplikasi di China, memusatkan perhatian pada layanan yang memberi pengguna China akses ke informasi tanpa filter, seperti penyedia VPN, pembaca RSS feed, dan aplikasi podcast. Apple juga telah menghapus puluhan ribu game tidak berlisensi dalam beberapa kuartal terakhir setelah penundaan selama bertahun-tahun.

"Apple memiliki sejarah aplikasi sensor pre-emptive yang mereka yakin pihak berwenang ingin disensor. Jika Apple memutuskan untuk menghapus Signal di China, baik atas inisiatifnya sendiri atau sebagai tanggapan langsung atas permintaan dari pihak berwenang, maka pelanggan Apple di China tidak akan memiliki pilihan pengiriman pesan yang aman," tutupnya.



Simak Video "Mengenal Pendiri Telegram dan Signal yang Kerap Menyerang WhatsApp"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)