Microsoft Merasa 'Kesepian' Perangi Pembajakan
- detikInet
Jakarta -
Microsoft mengeluhkan masih sedikitnya industri di Indonesia yang peduli untuk memerangi pelanggaran hak cipta. Selama ini, Microsoft seakan-akan berjuang sendirian.Menurut Anti Suryaman, License Compliance Manager Microsoft Indonesia, pihaknya selama ini seperti bekerja sendirian dalam memerangi pelanggaran hak cipta di Indonesia. Ia merasa, industri yang lain di luar industri piranti lunak kurang tanggap. "Selama ini kita merasa kita fight sendirian. Harusnya itu, sektor lain seperti industri film, buku, atau orang dan industri yang memang concern dengan industri hak cipta ini ikut memerangi (pembajakan-red)," ujarnya di Kantor Microsoft, Gedung BEJ, Jakarta, Kamis (20/9/2007).Untuk itu, ujar Anti, Microsoft ke depannya akan mencoba menggalang kerjasama dengan berbagai industri untuk memerangi pelanggaran hak cipta. Demikian juga dengan pihak pemerintahan. "Kita selama ini berterimakasih dengan support yang diberikan Dirjen HaKI, cuma apakah Departemen Lain seperti Departemen Perdagangan juga memberikan support yang sama?" tuturnya. GSIUntuk memerangi pembajakan produk piranti lunaknya, Microsoft selama ini mengandalkan program mereka. Salah satunya adalah Genuine Software Initiative (GSI) yang terdiri dari tiga pilar: education, engineering, dan enforcement.Menurut Keith Beeman, Direktur Senior Worldwide Anti-Piracy Microsoft Corporation, program GSI sudah diperkenalkan sejak tahun 2006. Program ini, menurutnya, bukan hanya menyentuh konsumen tapi juga pemerintah dan reseller. Selama setahun GSI dijalankan di seluruh dunia, Keith menganggap program ini sudah cukup efektif. Alasannya, lanjutnya, tingkat pembajakan dunia terbukti kini memiliki tren penurunan."Setelah beberapa tahun stagnan, akhirnya tingkat pembajakan dunia menurun hingga 35 persen pada perhitungan terakhir di 2006. Meskipun, total kerugian yang diakibatkan semakin lama semakin meningkat," ia memaparkan. Total kerugian yang terus meningkat itu juga terjadi di Indonesia. Keith mengungkap kerugian Indonesia akibat pembajakan pada 2004 US$ 153 juta, pada 2005 US$ 280 juta, dan pada 2006 US$ 350 juta. Ekonomi TumbuhMenurut Keith, turunnya tingkat pembajakan akan meningkatkan pendapatan dari pajak dan menambah jumlah pekerjaan. Bukan hanya itu, Keith yakin hal itu bisa mengembangkan Independent Software Vendor (ISV) alias pengembang piranti lunak lokal. Keith mengatakan, peran serta pemerintah sangat penting dalam penegakan hukum pelanggaran hak cipta. "Karena manfaatnya, akan berimbas pada ekonomi lokal," ujar Keith. Ia pun mengucapkan 'mantera' yang kerap diulang-ulang oleh Microsoft maupun Business Software Alliance (BSA): penurunan 10 persen tingkat pembajakan akan menambah pasokan ekonomi lokal sebesar US$ 2,4 miliar. Pada sistem operasi terbarunya, Windows Vista, Microsoft menggunakan sistem engineering activation terbaru. Keith menjamin, cara ini akan membuat para pengguna Vista bajakan tidak bisa menggunakan sistem operasi itu secara optimal. "Misalkan ada komputer yang menggunakan Vista bajakan, jika dalam 30 hari tidak diaktivasi akan muncul peringatan untuk melakukan aktivasi resmi. Jika tidak digubris, maka fungsi dari Vista itu akan tidak bisa digunakan. Lama-lama sistemnya falling down," tukas Keith.
(ash/wsh)