Kominfo dan Telkom Rayu Investor untuk Palapa Ring
- detikInet
Jakarta -
Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan A. Djalil menyatakan bahwa penawaran proyek Palapa Ring yang terbuka bagi asing bukan berarti karena proyek ini tidak menarik bagi investor lokal, termasuk buat Telkom."Melainkan karena proyek ini merupakan bagian dari pengembangan bisnis kompetisi yang lebih mengedepankan partisipasi banyak pihak agar tercipta iklim kompetisi yang sehat," ujarnya di sela-sela Indonesia Infrastructure 2006 di Jakarta Convention Center Jakarta yang berlangsung 1-3 November 2006.Pernyataan Menteri terlontar akibat keluhan salah satu peserta yang mempertanyakan dan meragukan potensi proyek Palapa Ring tersebut. "Kalau memang menarik kenapa Telkom dan Indosat tidak bermitra saja untuk mengerjakan proyek ini?" tanya Audy Cole, salah satu peserta itu.Dari gambaran tadi terlihat ada keraguan di benak peserta apakah Palapa Ring, yang merupakan satu-satunya proyek yang ditawarkan Depkominfo, benar-benar menarik. Namun demikian, bila ditilik dari jumlah pengunjung yang menghadiri presentasi Palapa Ring, tampak jelas antusiasme masyarakat cukup besar. Hampir seluruh kursi yang disediakan panitia terisi semua, bahkan sebagian peserta terpaksa berdiri di belakang.Para peserta presentasi jumlah tampak cermat menyimak paparan proyek yang disampaikan Menkominfo Sofyan A. Djalil dan Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar. Selain presentasi proyek, panitia juga menghadirkan Direktur Utama PT Telkom Tbk Arwin Rasyid.Di lain kesempatan, Menteri mengungkapkan, kekhawatiran industri telekomunikasi ini bakal dikuasai asing, tidak perlu ditanggapi berlebihan. Karena, tukasnya, asing hanya mendapat jatah maksimal 35% dari kepemilikan saham perusahaan penyedia yang ikut tender.Sofyan juga berharap, proyek Palapa Ring ini dikerjakan secara konsorsium agar tidak terjadi iklim monopoli yang tidak sehat dan ujung-ujungnya harga yang ditawarkan pun jadi lebih menarik.Rayuan Dirut TelkomSementara itu, masih di kesempatan yang sama, Dirut Telkom juga memaparkan prospek bisnis industri telekomunikasi yang masih besar. Prospek ini tercermin dari masih rendahnya tingkat teledensitas telepon di Indonesia, terlebih untuk fixed line.Di lain pihak, lanjut Arwin, industri telekomunikasi di Indonesia masih bisa menikmati margin yang tinggi, terlihat dari tingkat EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization). Tercatat, EBITDA dua perusahaan telekomunikasi dominan di Indonesia yakni, PT Telkom dan PT Indosat masing-masing masih sebesar 61,1% dan 58,1%. "Tingkat Ebitda ini, hanya kalah dibandingkan PLTD Philipina," pungkas Arwin.Presentasi orang nomor satu BUMN Telekomunikasi tersebut diharapkan semakin menguatkan keyakinan bahwa proyek backbone Palapa Ring masih memiliki prospek yang cerah di masa depan. Sebab, proyek ini akan menjadi jaringan tulang punggung bagi pengembangan layanan telekomunikasi di Indonesia.Selanjutnya, Sofyan kembali menegaskan, bahwa saat ini orang bisa saja belum melihat proyek ini tidak menarik. Namun, ia mengingatkan dalam jangka panjang proyek ini akan memiliki peran yang besar di dalam industri telekomunikasi.Untuk itu pula, mengingat pentingnya posisi proyek ini, pemerintah berupaya agar proyek ini tak jatuh pada satu pihak sehingga terjadi persaingan yang tak sehat. Pun, Menkominfo mengatakan pihaknya lebih mantap bila konsorsium yang mengerjakan proyek ini. "Kita akan memberikan insentif yang lebih banyak kepada konsorsium," tegasnya.Proyek Palapa Ring merupakan pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer. Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik (untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku) dan satu backhaul untuk menghubungkan semuanya.Palapa Ring akan menghubungkan 33 propinsi serta 440 kota/distrik. Panjang kabel bawah laut mencapai 35.280 km, sedangakan kabel in land mencapai 21.807 km. Menteri memperkirakan proyek itu butuh investasi sebesar US$ 1,517 juta atau sekitar Rp 15 triliun. (rou)
(wsh/wsh)