Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Turunnya Kinerja dan Polarisasi di Tubuh Telkom
Kolom Telematika

Turunnya Kinerja dan Polarisasi di Tubuh Telkom


- detikInet

Jakarta - Telkom ke depan membutuhkan kepemimpinan baru yang menguasai bidang telekomunikasi dan punya visi yang jelas dan futuristik tentang arah dan kebijakan telekomunikasi ke depan dengan sikap prokompetisi tapi juga nasionalistik, demokratis dan punya semangat memberdayakan SDM dari dalam, termasuk perlunya menciptakan efisiensi dalam segala aspek manajemennya. Di bawah kepemimpinan sekarang, Telkom tengah mengalami polarisasi dan disharmonisasi di setiap jenjang struktural perusahaan sehingga potensi konflik yang tajam dan terbuka di antara karyawan Telkom akan dengan mudah terjadi. Suburnya rasa saling curiga dan ketidakpercayaan di antara para pejabat telkom dan karyawan Telkom, dipicu oleh munculnya orang-orang baru yang direkrut dari SDM yang bukan punya keahlian di bidang telekomunikasi, melainkan berasal dari dunia perbankan. Karena itu, "bangkernisasi" merupakan isu kontroversial yang kini menghangat dalam tubuh telkom dewasa ini.PolarisasiDi tingkat karyawan pun sekarang ini terjadi polarisasi yang cukup tajam seperti dalam tubuh Sekar yang kini terpecah dua: serikat pekerja (SP) dan Serikat karyawan (Sekar). Masing-masing organisasi karyawan itu mengambil sikap saling berhadapan karena terpolitisasi oleh munculnya kepemimpinan baru dan orang-orang baru Telkom. Akibatnya, etos dan kultur kerja karyawan terganggu. Seharusnya mereka semakin berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan peningkatan pelayanan produk dan jasa, justru yang terjadi adalah intrik dan sikap saling curiga di lingkungan internal sendiri.Akibatnya, Telkom sekarang tidak lagi berhasil menjual unit telpon mobile terbatasnya secara optimal. Dalam kwartal I di Tahun 2006 ini misalnya, terjadi penurunan drastis penjualan kartu flexi. Penjualan flexi hanya mampu terjual 600 kartu. Sementara yang putus berlangganan (churn) ada 1.500 kartu. Jadi netadd-nya 900 kartu. Ini menunjukkan bahwa disharmonisasi di dalam tubuh Telkom sekarang sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Disini terjadi penurunan kinerja akibat birokrasi yang bertele-tele dan ketidakmampuan menyediakan alat produksi. Diakui memang, secara finansial tampak tumbuh semakin sehat. Meski perkembangan Telkom dari sudut keuangan semakin hari semakin baik dewasa ini, namun kemajuan itu bukan karena hasil kerja dari sebuah kebijakan baru, melainkan karena faktor keberadaan anak perusahaan Telkomsel yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan Telkom sendiri. Jalan di TempatSaham-saham Telkom memang meningkat tapi revenue-nya berjalan di tempat. Masalah yang hingga kini belum kunjung selesai adalah persoalan interkoneksi yang hingga kini para operator telekomunikasi masih menghadapi kesulitan akibat sikap Telkom. Sementara penentuan tarif berdasarkan cost based masih dianggap mahal sehingga mengganggu peningkatan teledensitas dan mengganggu hak publik untuk mendapatkan akses.Mengingat kompetisi bidang telekomunikasi dewasa ini sudah semakin tajam sebagai akibat dibukanya monopoli oleh pemerintah sejak lima tahun terakhir ini, juga mengingat Telkom merupakan BUMN yang amat strategis, maka diminta kepada pemerintah untuk meninjau ulang arah dan capaian termasuk kepemimpinan yang ada di Telkom sekarang. Pemerintah diharapkan tidak hanya melihat Telkom dari sudut dan perspektif jangka pendek dan keuntungan bisnis semata, tetapi juga harus memperhatikan modal sosial dan kultural yang selama ini dimiliki Telkom yakni kohesivitas dan solidaritas yang penting dalam membangun etos kerja selama ini.Jika hal ini tidak diperhatikan pemerintah, maka demotivasi di seluruh kalangan karyawan akan tumbuh ibarat virus berbahaya yang akan melumpuhkan Telkom di masa depan. Bukan itu saja, konflik-konflik internal pun akan segera mengemuka dan hal ini akan membahayakan kinerja Telkom sebagai BUMN yang strategis.*) Penulis, Drs. Dedy Djamaluddin Malik, M.Si., adalah pengamat telekomunikasi. Penulis juga menjabat sebagai Wakil Koordinator Infokom Komisi I DPR RI (dbu/)






Hide Ads